RADARBANYUWANGI.ID - Suara penolakan terhadap pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 semakin nyaring.
Di platform petisi daring Change.org, curhatan seorang siswa dengan nama akun Siswa Agit menjadi sorotan publik.
Dalam tulisannya, ia menumpahkan keresahan dan rasa frustasi atas sistem baru yang dinilai tergesa-gesa serta mempermainkan masa depan pendidikan.
“Sistem baru ini tidak hanya menambah tekanan, tetapi juga mempermainkan masa depan pendidikan kami,” tulisnya dalam petisi yang kini ditandatangani lebih dari 150 ribu siswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, pelaksanaan TKA 2025 penuh ketidaksiapan dan minim sosialisasi. Padahal, ujian tersebut menjadi syarat penting untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun depan.
Ia mengungkapkan, penetapan aturan yang baru disahkan pertengahan Juli 2025 membuat waktu persiapan siswa dan guru hanya tersisa sekitar tiga setengah bulan sebelum ujian digelar awal November.
“Bayangkan, sesingkat itu waktu kami untuk bersiap. Jadwal kelas 12 yang padat dan persiapan yang minim membuat kami kewalahan,” keluhnya.
Siswa itu juga menyoroti cakupan materi yang terlalu luas serta ketimpangan pembelajaran akibat Kurikulum Merdeka.
Baca Juga: Rayakan Hari Osteoporosis Sedunia, RSU Bhakti Husada Gelar Sosialisasi dan MCU Gratis untuk Lansia
Menurutnya, tidak semua sekolah memiliki fasilitas atau guru dengan kemampuan yang setara.
“Banyak guru yang memanfaatkan kebebasan mengajar sebagai alasan untuk tidak mengajar. Kami hanya belajar dari presentasi teman, lalu lanjut tes harian. Materi tidak merata,” tulisnya lagi.
Ia menilai, kombinasi antara Kurikulum Merdeka dan TKA justru memperparah ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah.
Baca Juga: Daftar Lengkap Harga Emas di Rajaemas dan Lakuemas Hari Ini Selasa 28 Oktober 2025
Bahkan, beberapa sekolah disebut masih menggelar ujian praktik padat meski jadwal TKA sudah di depan mata.
“Kami tidak diberi ruang untuk benar-benar siap. Kurikulum Merdeka dan TKA bukan kombinasi yang baik,” tegasnya.
Di akhir tulisannya, Siswa Agit mengajak publik untuk menandatangani petisi “Batalkan Pelaksanaan TKA 2025” sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap mendadak.
“Kami hanya ingin pendidikan yang adil dan berkualitas. Tolong tinjau kembali keputusan ini,” tutupnya.
Meski protes semakin meluas, pemerintah menegaskan TKA tetap digelar sesuai jadwal, yakni pada 3–9 November 2025.
Kepala BSKAP Kemendikdasmen Toni Toharudin meminta agar siswa tetap semangat menghadapi ujian nasional versi baru tersebut.
“Disikapi dengan penuh semangat saja, kita sedang berikhtiar untuk pendidikan yang bermutu,” ujarnya singkat.
Namun di dunia maya, suara siswa terus bergema. Ribuan komentar membanjiri kolom petisi—semuanya bernada sama: “Kami tidak siap.” (*)
Editor : Ali Sodiqin