RADARBANYUWANGI.ID – Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menimbulkan dampak serius bagi aktivitas sekolah.
Meski ratusan siswa mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sejumlah siswa tetap memaksakan diri masuk kelas meski dalam kondisi lemah.
Ratusan Siswa Jadi Korban
Data terakhir mencatat sebanyak 194 siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kecamatan Kadungora terdampak keracunan makanan pada Rabu (17/9/2025).
Sebagian besar mengalami gejala ringan, sementara 19 siswa harus mendapat perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.
Menu MBG yang diduga menjadi pemicu keracunan antara lain nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan stroberi yang dimasak dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut.
Siswa Tetap Masuk Sekolah
Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja, mengungkapkan bahwa meski banyak siswanya mengalami gejala keracunan, sebagian tetap hadir ke sekolah.
“Kalau yang dibawa ke puskesmas memang ada empat orang, tapi yang ditangani di sekolah bisa lebih dari 30 siswa. Mereka tetap datang meski kondisinya lemas,” ujarnya.
Situasi ini membuat pihak sekolah harus menyesuaikan proses belajar.
Beberapa siswa mengikuti pelajaran dengan kondisi tidak bugar, sementara sebagian lainnya terpaksa beristirahat di ruang UKS.
Penanganan Medis dan Investigasi
Polisi bersama tim medis sudah turun tangan dengan memeriksa lokasi dapur penyedia makanan, mendata korban, serta mengirimkan sampel makanan ke laboratorium.
Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, menyebut penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab utama keracunan.
Dinas Kesehatan Garut juga menyiapkan formulir daring untuk memantau kemungkinan adanya korban tambahan.
“Kalau ada laporan susulan, tim langsung bergerak menjemput,” kata Kepala Bidang P2P Dinkes Garut, Asep Surachman.
Dukungan dari Pemkab Garut
Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, meninjau langsung siswa yang sedang menjalani perawatan.
Ia memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah daerah.
“Alhamdulillah kondisi siswa sudah membaik, keluhannya rata-rata sakit perut, pusing, dan lemas,” ujarnya.
Putri juga menegaskan perlunya evaluasi ketat dalam program MBG agar kasus serupa tidak terulang.
Evaluasi Program MBG di Sekolah
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan kualitas makanan di sekolah. Meski bertujuan menyehatkan siswa, tanpa kontrol yang ketat program justru bisa menimbulkan risiko kesehatan.
Pihak sekolah berharap pemerintah dan penyedia makanan lebih berhati-hati dalam pengelolaan dapur, termasuk kebersihan bahan dan cara penyajian.
Editor : Agung Sedana