RadarBanyuwangi.id – Penderitaan yang dialami pekerja migran Indonesia (PMI) seolah tak pernah usai. Kali ini nasib malang menimpa PMI asal Banyuwangi yang mengadu nasib di Timur Tengah.
PMI tersebut yakni Nur Holipah, 46, asal Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.
Janda beranak dua itu dikabarkan disekap di sebuah gudang di Kota As-Sulaimaniyah, Irak, sejak setahun terakhir. Alih-alih ingin meningkatkan taraf hidup, Nur Holipah justru mengalami nasib mengenaskan di negeri orang.
Terlebih, Irak merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang secara keamanan sangat rentan bagi PMI seperti yang dialami Nur Holipah.
Kasmadi, 45, adik ipar Nur Holipah mengisahkan, kakaknya kerap telepon sembari menangis agar bisa pulang ke tanah air.
Harapan itu dilontarkan Nur Holipah ketika menghubungi keluarga serta kerabatnya yang tinggal di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.
”Sejak dua bulan lalu kakak ipar saya ini sering telepon. Dia berharap bisa keluar dari Irak. Di sana Nur Holipah tidak dipekerjakan sebagaimana mestinya,” ungkap lelaki yang akrab disapa Blotong ini.
Sejak mendapatkan kabar dari kakak iparnya, Blotong bingung memikirkan nasib sang kakak. Apalagi dari kisah yang dituturkan, kondisinya sangat miris.
”Nur Holipah disekap di dalam gudang, mau ke mana-mana dikawal dan diawasi, telepon pun harus mencari waktu pas agar tidak ketahuan,” ungkap Blotong didampingi istrinya, Siti Aniyah.
Menurut Blotong, selama satu tahun terakhir Nur Holipah kesulitan makan. Selain tak punya uang, pihak yang merekrut Nur sebagai tenaga kerja tak memberi makan secara layak.
”Awalnya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Sebelum mendapat tawaran kerja sebagai ART ke Turki yang kemudian berujung penyekapan di Kota As-Sulaimaniyah Irak, Nur Holipah telah beberapa kali mengadu nasib ke luar negeri,” terang Kasmadi.
Nur Holipah pernah bekerja sebagai ART di Malaysia. Kemudian mencoba peruntungan ke Singapura, Brunei Darussalam, dan ke Turki.
Namun, sejak menjadi PMI di Turki dan Irak, yang bersangkutan mengabarkan nasibnya yang kurang beruntung.
Saat menghubungi keluarganya, Nur Holipah mengaku jika ingin bebas dia harus menebus uang sekitar Rp 70 juta. Tentu saja itu bukan angka yang sedikit. Teman-teman Nur Holipah juga mengalami nasib yang sama.
”Mereka lebih dulu bebas setelah mengirimkan uang tebusan. Sementara kakak saya tidak ada yang bantu,” ujar Blotong dengan nada sedih.
Kondisi ekonomi keluarga Nur Holipah di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, sangat terbatas. Jangankan membantu uang untuk tebusan, untuk makan sehari-hari saja sangat pas-pasan.
”Sedih kalau Nur Holipah telepon. Saya tak bisa membayangkan betapa susahnya situasi yang dialami kakak ipar saya. Mau melangkah juga bingung. Kami berharap pemerintah bisa membantu pemulangan kakak ipar saya,” harap Blotong. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin