17 Agustus 2022. Upacara peringatan HUT ke-77 RI berlangsung khidmat. Plong. Mulai Presiden, para pejabat negara, dan undangan lega. Setelah fokus perhatiannya tersedot prosesi pengibaran Sang Saka Merah Putih.
Tibalah acara aubade. Untuk menghibur para peserta upacara. Sambil menghidup-hidupkan rasa nasionalisme. Juga semangat kebhinekatunggalikaan. Lewat nyanyian lagu-lagu perjuangan dan daerah. Yang didendangkan artis top Indonesia.
Undangan menikmatinya. Tapi dengan perasaan datar-datar saja. Seperti pada upacara-upacara sebelumnya.
Suasana berubah total. Ketika bocah 12 tahun berjalan santai. Berbaju hitam. Celana hitam. Sepatu kets putih. Dan, udeng motif gajah oling dengan warna dasar kuning. Sangat tidak matching.
Iya. Jelas. Tapi, bisa dimaklumi. Karena, konon, yang dikenakan bocah itu sebenarnya seragam baju adat di sekolahnya. Karena undangan dari Istana datang begitu mendadak. Tepatnya, ketika dia tampil di Gesibu Blambangan. Tanggal 15 Agustus 2022 malam. Esoknya (16 Agustus) harus bergegas terbang ke Jakarta. Tak ada waktu pilih-pilih baju. Jadilah bawa baju seadanya. Sak nemune. Yang penting tampil mengenakan baju adat Banyuwangi. Beres. Toh, justru dengan pakaian seadanya, dia malah menampakkan jati diri muasalnya: lare ndeso dari ujung paling timur Pulau Jawa.
Tapi, Farel membayar lunas segala ”kekurangan” itu. Dia tampil elegan. Melangkah dengan gagah. Dari ujung sayap kiri panggung utama. Menuju panggung mini. Di depan undangan utama. Yang lumayan jauh jaraknya. Melewati dua sayap posisi undangan.
Meski ratusan pandang mata undangan penting terus menatap setiap langkahnya, Farel tidak tampak rasa canggung. Sama sekali. Dia sangat pede. Sambil mengumbar senyum. ”Siapa anak culun ini?” mungkin begitu perasaan sebagian undangan.
Farel menjawab rasa penasaran undangan—termasuk yang meremehkan, awalnya. Suara merdunya mengguncang halaman Istana Negara. Ojo Dibandingke mengalun indah. Tidak hanya dari mulut Farel. Tapi juga dari hatinya.
Dari mulut dan hati Farel, Ojo Dibandingke berubah menjadi sihir. Menghipnotis segenap undangan. Mulai Presiden, Ibu Negara, para jenderal, menteri, dan artis. Tanpa dikomando, mereka menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Mulai kepala, badan, tangan, sampai kaki. Mengikuti irama musik koplo Ojo Dibandingke.
18 Agustus 2022. Penampilan Farel di Istana Negara membuat kesengsem para pejabat. Setelah dari Istana, esoknya (18 Agustus), Farel menjadi tamu istimewa Menteri BUMN Erick Tohir. Dalam video pendek yang beredar, Erick tanya ke Farel: siapa penyanyi idolamu? ”Danang,” jawabnya Farel. ”Iya sudah, semoga kamu bisa tampil bareng dengan penyanyi idolamu di Sarinah ya,” janji Erick. Farel juga dijanjikan beasiswa pendidikan oleh mantan pemilik klub Inter Milan Italia itu.
Danang artis dangdut asal Banyuwangi. Sukses lewat ajang D’Academy Indonesia dan Asia. Kini mukim di Jakarta.
Sarinah adalah pusat perbelanjaan lama. Aset negara. dikelola BUMN. Setelah dibenahi, kini Sarinah menjadi etalase produk UMKM pilihan. Manajemen baru berhasil membuat Sarinah ramai pengunjung terus.
Masih di tanggal yang sama, Farel juga diundang khusus oleh Menteri Desa PDTT (Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi) Abdul Halim Iskandar. Farel ditanggap secara eksklusif. Diminta menghibur keluarga besar Kementerian Desa PDTT.
Malamnya, Farel dinobatkan sebagai Duta Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Bidang Seni dan Budaya 2022. Piagamnya diserahkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly kepada Farel di kantornya. Sejak Farel menerima piagam itu, berarti pihak mana pun, kini tidak bisa seenaknya mengunggah aktivitas menyanyi Farel di medsos atau media lainnya. Harus seizin Farel atau manajemennya—bila tidak ingin berurusan dengan hukum.
19 Agustus 2022. Begitu mendarat di Bandara Internasional Banyuwangi di Blimbingsari, Farel langsung ditampani Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Di halaman depan kantor Pemkab Banyuwangi, Farel didaulat menyanyikan kembali Ojo Dibandingke. Suasana pecah seketika. Seluruh pegawai pemkab bergoyang gembira. Mengikuti irama koplo lagu yang disenandungkan Farel. Bupati Ipuk memberi beasiswa SD sampai SMA kepada siswa kelas VI SDN 2 Kepundungan, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, itu.
Wa ba’du. Farel telah mencatat sejarah hebat bagi dirinya. Bukan hanya belum pernah dialami oleh anak seusianya. Bahkan, sangat mungkin juga, sulit disamai. Oleh anak-anak di Banyuwangi maupun kota-kota lain di Indonesia.
Tapi terbang terlalu tinggi dan lama itu berbahaya. Bisa terpelanting. Dan, itu pasti sakit sekali. Karenanya, Farel harus segera menjejakkan kembali kakinya di bumi. Dia tidak boleh melupakan perjuangannya yang melelahkan. Namun, tidak berarti harus mengamen lagi bersama bapaknya, Joko Suyoto. Karena ngamen itulah yang telah menggebleng mentalnya, sehingga tidak canggung dan grogi di tampil di mana pun dan di hadapan siapa pun. Termasuk di depan Presiden Jokowi.
Dari video pendek ketika Farel ngobrol santai dengan Jokowi—di sela-sela acara geladi di Istana Negara, Farel dengan percaya diri menjawab semua pertanyaan Jokowi. Tidak tampak canggung atau kikuk. Dia menjawab pertanyaan Jokowi seperti sedang ngobrol dengan teman atau orang biasa. Padahal, Jokowi adalah orang nomor satu di republik ini. Apa Farel tidak paham soal itu ya? Atau, dia malah tahu kalau Jokowi adalah seorang presiden. Makanya, dia harus merasa harus menjawab dengan tegas tapi santai. Hahaha....
Apa pun, Farel telah menjadi aset berharga milik Banyuwangi. Dia harus dijaga dengan baik. Langkah Bupati Ipuk memberinya beasiswa SD sampai SMA sangat tepat. Itu pesan penting. Agar semua pihak memperhatikan Farel. Terutama para pihak terkait.
Bagaimanapun, Farel masih bocah. Yang belum bisa mengambil keputusan dengan baik dan bijak. Farel masih harus didampingi. Terutama terkait pertumbuhan mentalnya. Jangan keberhasilan yang diraihnya saat ini membuatnya menjadi anak sombong.
Sombong itu, salah satu tandanya adalah menyepelekan. Menganggap enteng hal selain yang bisa dan sudah bisa dicapainya. Kita tidak berharap, Farel merasa besar kepala. Menganggap cita-citanya menjadi penyanyi sukses sudah tercapai—seperti dia sampaikan ke Presiden Jokowi.
Kalau itu sampai terjadi, maka jiwa Farel akan diliputi perasaan puas. Cukup dengan menyanyi sudah mendapat uang berlimpah. Konon, jadwal job manggung Farel sudah penuh sampai beberapa pekan ke depan. Dan, semua job itu pasti tidak ada yang gratis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah bakal dibawa pulang Farel.
Dengan makin membanjirnya job, Farel bisa mengangkat derajat orangtunya: pasangan Joko Suyoto-Siti Mujayanah. Bukan hanya bisa melunasi tanggungan bank bapaknya, sangat mungkin Farel bisa memperbaiki rumahnya lengkap dengan isi yang diinginkannya.
Kita berharap, Farel juga rajin menabung. Untuk simpanan masa depannya. Juga orang tua dan adiknya. Karena nasib orang tidak ada yang tahu. Yang pasti, dunia terus berputar. Dan, perputaran nasib itu dialami oleh banyak penyanyi cilik. Banyak penyanyi moncer ketika masih kecil. Sayang, mereka layu menjelang dewasa. Dan, benar-benar layu ketika dewasa.
Dulu, siapa yang tidak kenal penyanyi cilik Joshua Suherman. Seiring bertambahnya usia, popularitas Joshua terus menurun. Dan, akhirnya, benar-benar tenggelam.
Satu lagi, Tegar Septian. Jalan hidupnya sama dengan Farel. Tegar juga terkenal sebagai pengamen cilik berbakat. Pada 2012, dia viral lewat lagunya Aku yang Dulu Bukanlah yang Sekarang. Kini, tak terdengar lagi kabarnya.
Tentu, kita tidak ingin Farel mengalami nasib seperti Joshua dan Tegar. Siapa pun yang mendampingi Farel, harus selalu menjaganya. Jangan bosan mengingatkannya: menyanyi nomor satu, pendidikan juga nomor satu. Dengan begitu, kelak dia akan mendapat sukses ganda: jadi penyanyi top yang berpendidikan top pula. (*)
*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin