RADAR BANYUWANGI — Persaingan Veda Ega Pratama dan Hakim Danish di Moto3 2026 bukan sekadar duel dua pebalap muda Asia Tenggara. Rivalitas itu telah terbangun sejak Asia Talent Cup, berlanjut ke Red Bull MotoGP Rookies Cup, dan kini mencapai panggung tertinggi mereka di Kejuaraan Dunia Moto3.
Uniknya, perjalanan keduanya diwarnai pola saling membalas. Hakim Danish lebih dulu berjaya di Asia Talent Cup 2022, Veda Ega Pratama membalas dengan gelar 2023, Danish kembali unggul di Eropa pada 2024, sebelum Veda merebut posisi lebih tinggi pada 2025. Kini, keduanya sama-sama menghadapi tantangan baru di Moto3 2026.
Rivalitas panjang tersebut membuat setiap pertemuan Veda dan Danish di lintasan Moto3 memiliki cerita lebih besar daripada sekadar perebutan posisi.
Awalnya Beradu di Asia Talent Cup
Persaingan Veda Ega Pratama dan Hakim Danish bermula di Idemitsu Asia Talent Cup (ATC).
Pada musim 2022, Danish lebih dulu menunjukkan dominasinya. Pebalap Malaysia tersebut mengakhiri musim sebagai juara umum dengan koleksi 187 poin.
Danish mengungguli Shinya Ezawa dari Jepang yang mengumpulkan 177 poin. Sementara Veda harus puas berada di posisi ketiga dengan 141 poin.
Menariknya, Veda justru menutup musim tersebut dengan penampilan luar biasa di Indonesia.
Pada seri terakhir di Sirkuit Mandalika, Veda mampu menyapu bersih kemenangan dalam dua race. Namun, performa tersebut belum cukup untuk menggoyahkan posisi Danish sebagai juara umum.
Dari sinilah rivalitas keduanya mulai terbentuk.
Veda Membalas Setahun Kemudian
Memasuki ATC 2023, situasinya berbalik.
Veda tampil jauh lebih dominan dan berhasil mengunci gelar juara umum dengan 206 poin. Ia meninggalkan Amon Odaki yang mengoleksi 137 poin dan Jakkreephat Phuettisan dengan 132 poin.
Gelar tersebut juga memiliki arti penting bagi Indonesia.
Veda menjadi pebalap Indonesia pertama yang berhasil menjuarai Asia Talent Cup.
Pada saat yang sama, Danish sudah meninggalkan kompetisi tersebut. Setelah meraih gelar 2022, ia melanjutkan karier ke Eropa.
Artinya, duel langsung keduanya harus tertunda. Namun, persaingan tersebut belum berakhir.
Bertemu Lagi di Eropa
Jejak Veda dan Danish kemudian kembali bersinggungan di Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Pada musim debut mereka di ajang tersebut pada 2024, Danish tampil lebih adaptif menghadapi karakter sirkuit Eropa.
Danish menutup musim di posisi keenam dengan 139 poin. Veda berada dua tingkat di bawahnya, yakni peringkat kedelapan dengan 112 poin.
Sekali lagi, Danish berada di depan.
Namun, seperti yang terjadi di Asia Talent Cup, keunggulan itu tidak bertahan lama.
2025, Veda Kembali Membalikkan Keadaan
Musim 2025 menjadi momentum kebangkitan Veda.
Pebalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, tersebut tampil lebih matang dan konsisten. Hasilnya, Veda mampu mengakhiri musim sebagai runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025 dengan 181 poin.
Ia hanya berada di belakang Brian Uriarte yang menjadi juara dengan 236 poin.
Sementara itu, Danish mengumpulkan 171 poin.
Yang membuat persaingan mereka semakin dramatis, posisi akhir tersebut baru benar-benar ditentukan pada race pamungkas di Sirkuit Misano.
Danish terjatuh dan gagal mendapatkan poin. Kondisi tersebut membuat Veda mengamankan posisi runner-up, sedangkan Danish harus puas finis di peringkat ketiga.
Kali ini, Veda kembali membalas.
Moto3 2026 Jadi Babak Baru
Kini persaingan keduanya memasuki level berbeda.
Pada musim 2026, Veda Ega Pratama dan Hakim Danish sama-sama resmi tampil di Moto3 World Championship.
Veda memperkuat Honda Team Asia, sedangkan Danish membela AEON Credit-MT Helmets-MSI.
Naiknya mereka ke Moto3 sekaligus mempertemukan kembali dua pebalap yang sudah saling mengenal sejak usia muda.
Pengalaman di ATC dan Red Bull Rookies Cup menjadi modal penting. Keduanya sudah mengetahui bagaimana lawannya bertarung, membaca situasi balapan, hingga menghadapi tekanan dalam perebutan posisi.
Itulah yang membuat duel Veda versus Danish di Moto3 2026 menarik untuk diikuti.
Bukan Sekadar Duel Dua Pebalap
Jika melihat rekam jejak mereka, tidak ada satu nama yang benar-benar mampu mendominasi rivalitas ini.
2022 menjadi milik Danish.
2023 menjadi milik Veda.
2024 kembali menjadi milik Danish.
2025 berbalik kepada Veda.
Pola tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan keduanya berjalan hampir beriringan.
Ketika salah satu mulai menemukan keunggulan, yang lain mampu melakukan evaluasi dan memberikan respons pada musim berikutnya.
Karena itu, Moto3 2026 bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat pada satu tikungan atau satu balapan.
Ini adalah babak baru dari rivalitas yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Veda datang membawa sejarah sebagai pebalap Indonesia pertama yang menjuarai ATC. Danish datang dengan pengalaman sebagai juara ATC 2022 dan pencapaian kuat di kompetisi junior Eropa.
Kini, keduanya berada di grid yang sama di Kejuaraan Dunia.
Lintasan Moto3 2026 pun menjadi tempat berikutnya bagi Veda dan Danish untuk menentukan siapa yang kembali unggul dalam duel panjang mereka.
Dari Asia Talent Cup, berlanjut ke Red Bull Rookies Cup, kini Veda Ega Pratama dan Hakim Danish akhirnya bertemu di panggung Moto3. Rivalitas mereka belum selesai—justru memasuki babak yang paling penting. (*)
Editor : Ali Sodiqin