RADAR BANYUWANGI — Usia baru 17 tahun dan belum pernah mengendarai motor Moto3 dalam balapan Grand Prix sebelum musim 2026. Secara pengalaman, Veda Ega Pratama seharusnya menjadi salah satu pembalap yang paling membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Namun, kenyataan di lintasan justru berbeda.
Pembalap Indonesia jebolan Astra Honda Racing School itu mampu menunjukkan konsistensi di tengah persaingan ketat Moto3 2026. Hingga lebih dari separuh musim berjalan, Veda terus menjadi salah satu rookie yang paling mencuri perhatian dan masih rutin mengamankan poin.
Veda lahir pada 23 November 2008. Dengan usia 17 tahun, ia menjadi pembalap termuda di grid Moto3 2026.
Yang membuat pencapaiannya semakin menarik, Veda juga datang dengan pengalaman paling minim. Hampir seluruh rivalnya sudah pernah mengendarai motor Moto3 pada musim 2025, termasuk sesama rookie seperti Brian Uriarte dan Hakim Danish.
Veda tidak memiliki pengalaman tersebut.
Ia langsung melompat ke panggung Kejuaraan Dunia dan harus beradaptasi dengan motor, sirkuit, karakter balapan, serta tekanan kompetisi dalam waktu bersamaan.
Hasilnya justru mengejutkan.
Tiga Kali Gagal Cetak Poin dari 12 Balapan
Dari 12 balapan yang telah dijalani musim ini, Veda hanya tiga kali gagal mengamankan poin.
Dua di antaranya terjadi karena ia tidak mampu menyelesaikan balapan alias gagal finis. Satu hasil lainnya adalah finis di posisi ke-16, tepat di luar zona poin.
Artinya, dalam sembilan balapan lainnya, Veda selalu berhasil membawa pulang angka.
Konsistensi tersebut menjadi modal penting bagi pembalap muda Indonesia itu untuk menjaga posisinya di klasemen.
Lebih menarik lagi, Veda tidak sekadar finis di zona poin. Ia sudah dua kali mampu menembus podium.
Hasil terbaiknya sejauh ini adalah peringkat ketiga pada Moto3 Brasil dan Moto3 Prancis.
Dua podium tersebut menunjukkan bahwa kecepatan Veda bukan sekadar efek keberuntungan atau kemampuan bertahan di tengah rombongan.
Ketika momentum dan kondisi balapan mendukung, pembalap Indonesia itu mampu bersaing di barisan depan.
Rookie Termuda, tapi Berani Lawan Pembalap Lebih Berpengalaman
Moto3 dikenal sebagai kelas yang dihuni pembalap muda dengan persaingan sangat rapat.
Mayoritas pembalap memang masih berusia belasan tahun. Namun, sebagian memiliki pengalaman lebih panjang di kelas Moto3 karena sudah tampil pada musim sebelumnya.
Situasi itu membuat posisi Veda cukup unik.
Ia bukan hanya rookie, tetapi juga rookie dengan usia termuda dan tanpa pengalaman balapan Moto3 pada musim sebelumnya.
Pada awal musim, kejutan Veda bahkan sudah terlihat ketika ia mampu berada di barisan depan.
Performa tersebut kemudian berkembang menjadi konsistensi.
Alih-alih kehilangan momentum setelah beberapa seri, Veda justru terus mengumpulkan poin hingga pertengahan musim.
Bagi pembalap yang baru berusia 17 tahun, kemampuan menjaga konsistensi menjadi sinyal penting mengenai potensi yang dimilikinya.
Veda Jadi Pembalap Honda dengan Posisi Tertinggi
Konsistensi tersebut juga membawa Veda ke posisi yang cukup menarik dalam klasemen.
Veda kini tercatat sebagai pembalap dengan motor Honda yang memiliki posisi tertinggi, yakni berada di peringkat keenam dengan koleksi 97 poin.
Pencapaian tersebut menjadi semakin berarti karena ia harus berhadapan dengan pembalap-pembalap yang memiliki pengalaman lebih banyak.
Di kelas Moto3, selisih kemampuan antarpembalap kerap sangat tipis. Karena itu, konsistensi finis dan kemampuan memanfaatkan peluang menjadi sangat penting dalam perebutan poin.
Veda mampu melakukan hal tersebut dalam sebagian besar balapan yang sudah dijalaninya.
Bukan Sekadar Sensasi Pembalap Indonesia
Penampilan apik Veda membuat namanya sempat menjadi buah bibir pada awal musim.
Namun, performanya kini mulai menunjukkan bahwa kejutan tersebut bukan sekadar sensasi sesaat.
Dua podium di Brasil dan Prancis menjadi bukti paling jelas.
Sementara itu, sembilan kali finis dengan raihan poin dari 12 balapan menunjukkan fondasi yang lebih penting: konsistensi.
Bagi seorang rookie, konsistensi sering kali menjadi indikator perkembangan yang lebih berharga daripada satu hasil spektakuler.
Veda memang masih memiliki ruang besar untuk berkembang.
Usianya masih 17 tahun. Pengalaman di Moto3 juga baru mulai dibangun musim ini. Setiap seri menjadi proses pembelajaran baru untuk memahami strategi balapan, pengelolaan ban, pertarungan di grup, hingga cara menghadapi tekanan ketika berada di posisi terdepan.
Jika tren tersebut berlanjut, bukan tidak mungkin Veda semakin sering terlibat dalam perebutan posisi atas.
Tantangan Berikutnya Menjaga Momentum
Setelah mampu melewati fase awal musim dengan cukup impresif, tantangan Veda kini bukan lagi sekadar membuktikan bahwa dirinya layak berada di Moto3.
Tantangannya adalah mempertahankan konsistensi hingga akhir musim.
Dengan 97 poin dan posisi keenam, setiap tambahan angka akan berharga untuk memperkuat posisinya di klasemen.
Veda juga masih harus menghadapi lawan-lawan yang semakin memahami karakter balapnya.
Namun, pengalaman yang terus bertambah justru bisa menjadi keuntungan.
Setiap balapan membuat Veda semakin mengenal motor Moto3 dan tuntutan Kejuaraan Dunia. Jika perkembangan tersebut berjalan konsisten, pembalap Indonesia ini berpotensi mengakhiri musim debutnya dengan catatan yang jauh lebih kuat daripada ekspektasi awal.
Veda datang sebagai pembalap termuda dan paling minim pengalaman.
Kini, setelah 12 balapan, ia justru sudah memiliki dua podium, 97 poin, serta posisi keenam di klasemen.
Angka-angka itu memberi pesan sederhana: Veda Ega Pratama mungkin masih menjadi rookie, tetapi performanya sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. (*)
Editor : Ali Sodiqin