RADARBANYUWANGI.ID — Dua pembalap muda Asia Tenggara, Veda Ega Pratama dan Hakim Danish, membawa modal berbeda menjelang seri kedelapan Moto3 Hungaria 2026 yang berlangsung di Sirkuit Balaton Park pada 5–7 Juni. Jika Danish datang dengan kepercayaan diri tinggi usai meraih podium perdana di Moto3, Veda bersiap menghadapi tantangan baru demi melanjutkan tren positifnya di ajang balap motor dunia.
Seri Moto3 Hungaria 2026 menjadi perhatian publik Asia Tenggara karena menghadirkan dua talenta muda yang tengah berusaha menancapkan pengaruh di level grand prix. Balapan di Balaton Park akan menjadi ujian penting bagi keduanya dalam persaingan menuju papan atas klasemen.
Bagi Hakim Danish, akhir pekan ini terasa spesial. Pembalap Malaysia yang membela tim MT Helmets-MSI itu baru saja mencetak sejarah pribadi dengan finis ketiga pada Moto3 Italia 2026 di Sirkuit Mugello. Hasil tersebut menjadi podium pertama Danish sejak naik ke kelas Moto3 sebagai rookie musim ini.
Keberhasilan di Mugello membuat kepercayaan diri Danish meningkat drastis. Namun, tantangan berat langsung menantinya di Hungaria.
Balaton Park merupakan lintasan yang benar-benar baru bagi Danish. Pembalap muda Negeri Jiran itu belum pernah mengaspal di sirkuit tersebut, sehingga harus beradaptasi cepat dengan karakter trek yang berbeda dibandingkan lintasan-lintasan sebelumnya.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran dari mentor sekaligus legenda balap Malaysia, Zulfahmi Khairuddin. Mantan pembalap yang pernah dua kali naik podium Moto3 pada musim 2012 tersebut menilai Balaton Park bukan trek yang ideal untuk gaya balap Danish.
Menurut Zulfahmi, minimnya pengalaman dan belum adanya data balapan yang dimiliki Danish di Balaton Park berpotensi menjadi hambatan dalam mempertahankan momentum positif setelah podium Mugello.
“Ini bisa menjadi balapan yang paling sulit baginya musim ini,” demikian pandangan yang disampaikan Zulfahmi terkait tantangan yang akan dihadapi anak didiknya.
Meski demikian, Danish tetap memiliki bekal penting berupa kepercayaan diri dan motivasi tinggi setelah menembus tiga besar pada seri sebelumnya. Faktor mental tersebut kerap menjadi pembeda dalam persaingan ketat kelas Moto3 yang terkenal sulit diprediksi.
Di sisi lain, perhatian publik Indonesia tertuju kepada Veda Ega Pratama. Pembalap muda asal Gunungkidul itu kembali mendapat kesempatan menunjukkan kemampuannya di panggung internasional.
Veda datang ke Hungaria dengan tekad melanjutkan perkembangan positif yang ditunjukkannya sepanjang musim. Balaton Park juga menjadi arena penting bagi pembalap binaan Astra Honda tersebut untuk menambah pengalaman menghadapi lintasan baru dan persaingan dengan para rider terbaik dunia.
Keunggulan Veda selama ini terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan cepat terhadap karakter trek yang belum pernah dijajal. Faktor tersebut bisa menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan di Hungaria.
Moto3 Hungaria 2026 pun diprediksi menjadi seri yang menarik bagi penggemar balap Asia Tenggara. Danish berusaha mempertahankan momentum setelah podium bersejarah di Mugello, sementara Veda mengincar hasil terbaik untuk memperkuat reputasinya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan dari Indonesia.
Balapan di Balaton Park bukan sekadar perebutan poin kejuaraan. Bagi Danish dan Veda, seri ini menjadi kesempatan membuktikan bahwa pembalap Asia Tenggara mampu bersaing secara konsisten di level tertinggi balap motor dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin