RADARBANYUWANGI.ID - Nama Veda Ega Pratama kini tidak lagi sekadar dikenal di kalangan pencinta balap Indonesia. Dalam waktu singkat, pembalap muda asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu berhasil mencuri perhatian dunia usai tampil impresif pada musim debutnya di ajang Moto3 2026 bersama Honda Team Asia.
Di tengah kerasnya persaingan Grand Prix, Veda justru tampil bak pembalap berpengalaman. Konsistensi, keberanian duel wheel to wheel, hingga kematangannya dalam membaca ritme balapan membuat banyak pengamat mulai menyebutnya sebagai salah satu rookie paling menjanjikan musim ini.
Tak hanya itu, kemunculan Veda juga mulai mengubah cara dunia memandang Indonesia di arena balap motor internasional.
Dari Parkiran Pasar Sapi ke Panggung Dunia
Perjalanan Veda menuju Moto3 tidak lahir secara instan. Kisahnya dimulai dari tempat yang jauh dari kemewahan paddock Grand Prix dunia.
Kecintaannya terhadap balap motor diturunkan langsung oleh sang ayah, Sudarmono, mantan pembalap nasional yang menjadi sosok penting di balik perjalanan kariernya.
Sejak usia sangat muda, Veda sudah akrab dengan suara mesin dan aroma aspal. Ia bahkan mulai berlatih balap di area parkiran Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul.
Saat itu, Veda baru berusia enam tahun.
Dari tempat sederhana tersebut, bakat besar Veda mulai terlihat. Ia pertama kali menekuni motocross sebelum akhirnya beralih ke balap sirkuit aspal.
Perjalanan kompetitifnya dimulai dari berbagai kejuaraan lokal di Yogyakarta dan perlahan merangkak ke level nasional hingga internasional.
Bersinar di Asia Talent Cup
Karier internasional Veda mulai mendapat perhatian saat tampil sebagai wildcard dalam beberapa seri Asia Talent Cup 2021.
Penampilannya cukup menjanjikan hingga akhirnya mendapat kesempatan tampil penuh semusim di Asia Talent Cup 2022.
Di musim tersebut, Veda langsung menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu talenta terbaik Asia.
Ia berhasil memenangi tiga balapan dan finis di posisi ketiga klasemen akhir.
Prestasi itu menjadi fondasi penting yang mengangkat namanya ke level lebih tinggi.
Setahun kemudian, Veda tampil semakin matang. Pada Asia Talent Cup 2023, pembalap Indonesia itu sukses merebut gelar juara umum.
Gelar tersebut menjadi salah satu pencapaian paling bersejarah bagi pembalap muda Indonesia di jalur pembinaan MotoGP.
Dominasi di ajang tersebut sekaligus membuka jalan menuju kompetisi elite pembinaan Grand Prix.
Menggebrak Red Bull Rookies Cup
Setelah menjadi juara Asia Talent Cup, Veda dipromosikan ke Red Bull MotoGP Rookies Cup 2024, salah satu kompetisi junior paling bergengsi di dunia.
Ajang tersebut dikenal sebagai tempat lahirnya banyak bintang MotoGP modern.
Meski berstatus debutan, Veda langsung memberikan dampak besar.
Kecepatan, agresivitas, dan mental bertarungnya membuat namanya cepat diperhitungkan di antara para rider muda Eropa.
Pada musim 2025, performanya semakin meledak. Veda sukses finis sebagai runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup sekaligus tampil di FIM JuniorGP World Championship.
Hasil itu membuat namanya mulai masuk radar tim-tim besar Moto3.
Direkrut Honda Team Asia untuk Moto3 2026
Performa konsisten di berbagai ajang junior akhirnya menarik perhatian Honda Team Asia.
Tim tersebut resmi mengontrak Veda untuk tampil penuh di Moto3 World Championship 2026.
Keputusan itu langsung menjadi sorotan karena Veda dianggap sebagai salah satu talenta Asia paling potensial dalam beberapa tahun terakhir.
Debutnya di Moto3 pun langsung menggebrak.
Pada seri pembuka di Thailand, Veda sukses finis di posisi lima besar. Hasil tersebut mengejutkan banyak pihak karena Moto3 dikenal sebagai kelas paling brutal dan sulit untuk rookie.
Tak berhenti di situ, Veda kemudian mencetak sejarah baru saat berhasil finis podium ketiga pada Moto3 Brasil 2026.
Pencapaian itu membuatnya menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di ajang Grand Prix Moto3.
Konsisten di Papan Atas Moto3
Musim debut Veda sejauh ini berjalan luar biasa.
Hingga memasuki seri Moto3 Italia 2026 di Mugello, pembalap berusia 17 tahun tersebut sudah mengoleksi 58 poin dan berada di posisi lima klasemen sementara dunia.
Catatan performanya juga sangat stabil.
Veda finis kelima di Thailand, keenam di Spanyol, keempat di Prancis, serta kedelapan di Catalunya.
Satu-satunya kegagalan finis terjadi di Moto3 Amerika akibat crash pada awal balapan.
Konsistensi tersebut membuatnya menjadi rookie terbaik musim ini sekaligus mulai disejajarkan dengan beberapa pembalap muda top Asia lainnya.
Banyak pengamat bahkan mulai membandingkan proses adaptasi Veda dengan pembalap Jepang Ai Ogura karena sama-sama menunjukkan kematangan luar biasa sejak awal karier Grand Prix.
Mentalitas dan Karakter Balap
Salah satu kekuatan terbesar Veda adalah mentalitas bertarungnya.
Di usia yang masih sangat muda, ia mampu tampil tenang saat berada di grup depan dan tidak takut berduel dengan rider-rider yang lebih berpengalaman.
Karakter agresif namun terukur itu menjadi modal penting di kelas Moto3 yang terkenal ketat dan penuh risiko.
Selain itu, Veda juga dikenal memiliki kemampuan adaptasi cepat terhadap berbagai karakter lintasan.
Kombinasi teknik, keberanian, dan ketenangan membuatnya dinilai memiliki paket lengkap untuk berkembang lebih jauh di masa depan.
Harapan Baru Balap Indonesia
Kemunculan Veda Ega Pratama kini kembali menghidupkan mimpi besar publik Indonesia untuk melihat Merah Putih bersaing secara reguler di level tertinggi balap motor dunia.
Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar MotoGP, namun belum memiliki pembalap yang benar-benar mampu bersaing di papan atas Grand Prix.
Kini, harapan itu mulai menemukan bentuk nyata dalam diri Veda.
Dengan usia yang masih 17 tahun, ruang perkembangan performanya masih sangat terbuka lebar.
Jika mampu menjaga konsistensi dan terus berkembang, bukan tidak mungkin Veda akan menjadi pembalap Indonesia pertama yang menembus Moto2 bahkan MotoGP di masa depan.
Perjalanan bocah Gunungkidul dari parkiran pasar sapi hingga panggung Moto3 dunia kini bukan lagi sekadar kisah inspiratif.
Veda Ega Pratama telah menjelma menjadi simbol kebangkitan baru balap motor Indonesia di mata dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin