RADAR BANYUWANGI - DKB (Dewan Kesenian Blambangan) kembali ngelurug Jogjakarta. Kali ini mendampingi sanggar seni Joyo Karyo (JK). Sebagai penampil di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 2026. Bersama grup seni dari beberapa daerah serta Prancis dan Belanda.
Secara konsisten YGF selalu digelar di Plaza Pasar Ngasem. Termasuk YGF ke-31 yang digelar maraton. Sejak 21 Juli hingga 2 Agustus 2026. JK sendiri tampil pada 1 Agustus. Sama seperti penampilan grup Hadrah Klasik Rebanana yang dibawa DKB pada 2023 (YGF ke-29), penampilan JK juga memukau. Para penonton yang memadati amphiteater di tengah Pasar Ngasem beberapa kali bertepuk tangan. Bahkan, mereka sampai turun gelanggang. Menari. Mengikuti alunan musik dan gending Banyuwangen.
Penonton YGF bukan hanya dari Indonesia. Tapi banyak juga yang datang dari luar negeri. Mereka sangat apresiatif. Mendengarkan dan menyaksikan setiap detail penampilan semua grup yang tampil. Saat pertunjukan dimulai semua diam terpaku. Tidak ada yang ngobrol sendiri.
Termasuk Eef van Breen, musisi Belanda terkenal yang tampil sebelum JK. Setelah menyaksikan penampilan JK, ia langsung memberi pujian. “Yes, Fantastic,” ujarnya sambil menunjukkan dua jempol tangannya berulang-ulang. “Realy good. The show is realy good. I love it. Fantastic (Bagus sekali. Keren. Penampilannya bagus sekali. Saya sangat menyukainya. Fantastis,” imbuhnya.
Penampilan Eef sendiri juga tak kalah memukau. Ia berkolaborasi dengan tiga seniman Jogjakarta. Eef dan grupnya –Lelana Group– membawakan komposisi dan penafsiran gamelan kontemporer dengan perspektif serta rasa estetika musik Eropa. Musik mancanegara.
Eef menampilkan repertoar tentang kehidupan. Mulai jagad rasa, GEN, dan manusia. Bermula dari seberkas cahaya jatuh. Lalu ketemu dengan berkas cahaya lain. Setelah itu melahirkan cahaya yang lain. Lahirlah cahaya-cahaya yang lain. Begitulah kehidupan. Kisah itu ia terjemahkan dalam bebunyian gamelan, seruling, terompet, dan medium bunyi yang lain.
Seniman asal Westerbork, Drenthe, Belanda itu bukan sosok gemen-gemen.
Ia jebolan Prince Claus Conservatoire Groningen, Belanda dengan gelar sarjana Terompet Jazz dan Komposisi. Juga belajar di Royal Conservatoire (Koninklijk Conservatorium) Den Haag, Belanda dengan studi lanjutan Komposisi & Musik Eksperimental.
Nah, yang ia tampilkan di YGF pekan lalu condong ke musik eksperimental. Selain alat musik, ia hadirkan kerikil, lampu, sendok, lempengan besi, dll. Untuk menghadirkan bunyi-bunyi tertentu. Melengkapi dan memperindah garapan musik spesialnya untuk YGF.
Eef memang dikenal sebagai musisi multi-instrumen (terompet, flugelhorn, trombone, vokal). Ia seorang komposer. Juga direktur artistik kenamaan asal negeri Kincir Angin. Eef juga dikenal luas berkat pendekatan musik lintas disiplin yang memadukan elemen jazz modern, musik klasik, teater naratif, seni suara alias sound art/foley. Hingga tradisi musik non-barat. Seperti gamelan Jawa. Yang sukses ia tampilkan di YGF 2026.
Di negaranya, ia memimpin kelompok musik eksperimental Eef van Breen Group. Di Indonesia, Eef melakukan eksplorasi lintas budaya. Dalam proyek Lelana Group/Lelana Lumantar Aksa. Berkolaborasi dengan seniman Jogjakarta. Eef menjadi komposer, pimpinan artistik dan sekaligus musisi di grup itu. Kolaborasi musik trans-nasional memadukan Eef van Breen Group bersama maestro gamelan Sudaryanto dan Komunitas Seni Gayam 16 Jogjakarta. Penampilan mereka luar biasa. Menghadirkan wawasan musik baru.
Joyo Karyo beruntung. Selain dengan Eef, JK juga tampil sepanggung dengan Kiai Kanjeng. Grup musik legendaris yang menghadirkan konsep Sinau Bareng. Kiai Kanjeng tampil dengan aransemen khas. Menggunakan set gamelan bertangga nada plural/diatonik. Set gamelan itu berdialog secara harmonis dengan instrumen modern. Tak ketinggalan, Kiai Kanjeng juga menyelipkan pesan-pesan kebudayaan yang hangat. Khas grup yang dibentuk oleh budayawan Emha Ainun Nadji itu.
Wa ba’du. Selain saya, Kang Hasan Basri (Ketua DKB) mengajak serta Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Hartono dan Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Gede Alit. Kang Hasan mengajak kami belajar langsung ke Komunitas Seni Gayam 16. Tujuannya untuk belajar bersama dan menambah wawasan tentang penyelenggaraan event seni-budaya di Banyuwangi.
Dan, benar. Pak Hartono dan Pak Gede tak henti-henti berdecak kagum. Mereka menyaksikan secara langsung secara detail. Mulai dari persiapan hingga saat pertunjukan. Mulai check sound hingga para pengisi acara beraksi di panggung. “Sangat profesional. Semua dilakukan secara detail dan perfect. Semua kru yang terlibat tahu apa yang harus dikerjakan. Tanpa ada komando lagi. Dan bahkan, tidak ada lagi yang bilang cek-cek mencoba mic. Baik saat check sound maupun saat pertunjukan,” kata Hartono.
Pastinya, sukses YGF tidak dilakukan dengan simsalabim. Komunitas Seni Gayam 16 sudah menggelarnya sebanyak 31 kali. Selama 31 tahun! “YGF dimulai sejak 1995,” jelas ketua Komunitas Seni Gayam 16 Ari Wulu. Wajar bila YGF akhirnya menjadi ruang pertemuan para pelaku dan penikmat gamelan dari berbagai penjuru dunia. Gamelan telah berkembang sebagai bahasa pemersatu berbagai latar belakang.
Sepulang dari Jogjakarta mendapat informasi dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi Suratno. “Dispar langsung buat KAK untuk 2027,’’ katanya. KAK adalah Kerangka Acuan Kegiatan. Semacam TOR (Term of Reference). Jadi penasaran. Akan ada sesuatu yang baru apakah gerangan tahun depan…. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin