PANGGIL saja T.oriens. Nama panjanganya: Tomiyamichthys Oriens. Ia sedang melambungkan nama Banyuwangi. Namanya sedang menjadi perbincangan global. Terutama di kalangan pencinta dan pemerhati ikan dari seluruh dunia.
Ya. T.oriens adalah nama spesies baru ikan gobi udang. Yang ditemukan di perairan Banyuwangi. Oleh tim peneliti dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional): Kunto Wibowo (Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi), Hilda M. Pratiwi (Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi), Anik B. Dharmayanthi (Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi), Agus Priyadi (Pusat Riset Zoologi Terapan), dan Ruby V. Kusumah (Pusat Riset Zoologi Terapan). Mereka berkolaborasi dengan Djohan Tjiptadi dan Wiwi Tarmini dari CV Cahaya Baru.
Kajian mereka diawali dari dua ikan hias laut gobi udang genus Tomoyamichthys yang dikoleksi dari perairan Bumi Blambangan. Kemudian diidentifikasi. Dianalisis melalui pendekatan morfologi. Juga penanda DNA mitokondria cytochrome c oxidase subunit I (COI).
Sekadar tahu, Tomiyamichthys adalah nama genus untuk sekelompok ikan laut berukuran kecil. Mereka dikenal sebagai ikan gobi udang (shrimp-goby) dari famili Gobiidae. Genus ini hidup di dasar laut perairan tropis.
Hasil penelitian tim BRIN menyebutkan , Tomiyamichthys oriens memiliki kemiripan dengan Tomiyamichthys hyacinthinus yang berasal dari Jepang. Namun, setelah diamati lebih mendalam menunjukkan sejumlah karakter pembeda. Jumlah jari-jari sirip, jumlah sisik, jumlah jari-jari insang, dan pola warna tubuhnya ternyata berbeda. Perbedaan pada tingkat molekuler pun menguatkan bahwa keduanya merupakan spesies yang berbeda.
Maka, tanpa ragu, T.oriens sah disebut sebagai ikan gobi undang Banyuwangi. Keren! Tak salah pula ada ‘’oriens’’ di namanya. Oriens berasal dari bahasa Latin. Artinya ‘’timur’’. Atau, matahari terbit.
Nama tersebut sengaja dipilih. Tim peneliti terinspirasi warna jingga cerah pada tubuh ikan. Dan, sebagai penghormatan terhadap Banyuwangi yang berjuluk The Sunrise of Java. ‘’Tempat di mana spesies tersebut pertama kali ditemukan. Penamaan spesies ini juga menjadi bentuk pengakuan terhadap lokasi penemuannya,’’ kata peneliti pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Kunto Wibowo, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (22/7/26).
Saya diam-diam ikut bangga. Mengelus dada. Tersipu malu. Mendengar tagline ciptaan saya itu telah menginspirasi penamaan ikan gobi undang Banyuwangi yang baru ditemukan. Semoga saja T.oriens juga menjadi ikon baru Banyuwangi.
Penemuan T.oriens membuka mata bahwa pesisir Banyuwangi masih menyimpan potensi biodiversitas laut yang belum terdokumentasi sepenuhnya. Temuan BRIN bisa dijadikan dasar ilmiah mendukung upaya konservasi, pengelolaan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati laut Indonesia.
‘’Penemuan T.oriens menjadi kebanggaan Banyuwangi. Ini membuktikan bahwa laut Banyuwangi memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dan masih menyimpan banyak potensi yang perlu terus diteliti, serta dikembangkan secara bertanggung jawab,’’ tutur Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi Suryono Bintang Samudra.
Suryono benar. Penemuan T.oriens makin mengukuhkan Banyuwangi sebagai Kota Maritim. Kota yang punya kekayaan hayati luar biasa. Baik yang sudah terekspos maupun yang belum.
Pasti semua tahu, sebelumnya Banyuwangi dikenal sebagai Kota Sidat. Sebab, sudah satu dekade sidat Banyuwangi belum ada yang menandingi. Masih menjadi yang terbaik di Indonesia. Itu bisa ditelusuri dari jejak digital. Sepuluh tahun silam, kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Suseno Sukoyono mengatakan, ikan sidat asal Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan jenis terbaik di Indonesia,’’ katanya di Banyuwangi, dikutip Jawa Pos Radar Banyuwangi (Jumat, 6 Maret 2015).
Wa ba’du. Bahkan, jauh sebelumnya, budayawan Hasnan Singodimayan (alm) lebih dulu mengharumkan Banyuwangi. Ia menyumbang satu kata penting terkait nama salah satu potensi laut Indonesia yang ada di Banyuwangi. Kata itu adalah benur. Nama bayi udang. Benur akronim dari benih urang. Orang Oseng dan Jawa menyebut udang dengan ‘’urang’’.
Lengkap sudah. Laut Banyuwangi punya kekayaan luar biasa. Kekayaan itu bersanding dengan orang-oramng kreatif, seperti salah satunya, Hasnan Singodiyaman. Tentu, kita tidak ingin benur, sidat, dan T.oriens hanya menjadi kebanggaan sesaat. Tanpa ada upaya mengeksploitasi dan mengeksplorasinya menjadi ‘’sesuatu’’ yang menjadikan Banyuwangi lebih berkembang. Menjadi destinasi unggulan. Sehingga layak dikunjungi delegasi ASEAN—ID Blue, seperti pekan lalu. Rombongan forum internasional yang mempertemukan negara-negara ASEAN, negara East Asia Summit (EAS), dan anggota Pasific Islands Forum (PIF) itu membahas pengembangan ekonomi biru selama empat hari (16-19 Juli 2026). Mereka melihat langsung potensi kelautan Banyuwangi dan praktik baik pengelolaannya. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin