RADARBANYUWANGI.ID - Mutasi 52 pejabat di lingkungan pemkab Banyuwangi Senin (18/5) selumbari terasa biasa. Layaknya mutasi-mutasi sebelumnya. Sebagai penyegaran (refreshment), pengembangan karier, dan kebutuhan organisasi.
Penyegaran lazim dikaitkan dengan regenerasi organisasi. Menghindari stagnasi. Terlalu lama di posisi tertentu membuat pejabat struktural merasa jenu. Menempatkan pejabat baru memberi ruang bagi hadirnya ide-ide baru. Itu akan bisa menjaga ritme kerja tetap dinamis.
Mutasi bagi pejabat sangat penting. Karena bisa memperluas wawasan dan sekaligus menambah skill (keahlian). Perubahan posisi bisa memperkaya pengalaman kepemimpinan. Pengembangan dan pembinaan karier memang merupakan sebuah kebutuhan dalam organisasi.
Namun, harus diingat, mutase jangan semata-mata bersifat administratif. Melainkan harus didasarkan pada evaluasi kinerja berkala. Agar ada kepastian right man on the right place. Bahwa orang yang tepat berada di posisi yang tepat pula. Seperti ditegaskan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas saat pelantikan: ‘’Proses pengisian jabatan ini melalui penerapan sistem manajemen talenta yang mengedepankan objektivitas, kompetensi, kualitas, serta rekam jejak kinerja’’.
Pelantikan 52 pejabat baru pemkab Bumi Blambangan itu cukup menarik. Bukan karena lokasinya di pasar pelayanan publik Rogojampi. Penugasan Dr Alfian MPd sebagai kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) menarik untuk dicermati. Pasti Bupati Ipuk punya maksud tertentu menempatkan (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi itu di sana. Sudah menjadi stigma khalayak, terutama di kalangan ASN, bahwa Dispusip merupakan pegawai dan pejabat yang sedang ‘’dikotak’’.
Ups, Pak Alfian dikotak?
Sebagian orang, mungkin, berprasangka begitu. Itu sah-sah saja. Karena stigma bahwa Dispusip merupakan ‘’tempat pembuangan’’ begitu mandarah daging. Sudah lama menancap. Terpendam di benak dan hati. Padahal, faktanya tidak benar seratus persen.
Saya punya pandang berbeda. Dari prespektif yang beda, saya justru melihat Bupati Ipuk sedang menguji Alfian. Ujiannya yang sangat berat. Dan, pinjam istilah ‘’kotak’’ dari khalayak, saya yakin Alfian bisa keluar dari ‘’kotak’’. Untuk bisa keluar, ia harus berpikir di luar ‘’kotak’’. Alfian kaya akan ide out of the box.
Dispusip yang akan dipimpinnya, insyaallah, tidak sama dengan Dispusip sebelumnya. Sebab, gendung kantornya baru. Tiga lantai. Arsitekturnya bergaya industrial modern. Sangat megah. Kantor seperti itu, tentu, butuh sentuhan serba modern. Modern sistemnya. Baik untuk urusan internal maupun (apalagi) untuk para pengunjungnya. Juga para tamu. Dan, ramai akan aktivitas perbukuan dan keilmuan.
Penempatan Alfian di Dispusip bak gendang ketemu kulitnya. Gendang Dispusip akan berdentum nyaring. Irama ritmisnya akan mengundang banyak orang datang. Menikmati sajian koleksi buku yang tersusun rapi di dalamanya. Baik buku-buku konvensional maupun yang sudah digital.
Posisi Alfian di Dinas Pendidikan sangat strategis dalam mengembangkan Dispusip ke depan. Terutama dalam meningkatkan angka kunjungan. Juga banyak kegiatan literasi. Terutama yang terkait dengan dunia perbukuan. Alfian bisa menghadirkan kerja sama mutualis antara Dispusip dan Dinas Pendidikan. Kerja sama itu akan saling menguntungkan bagi keduanya.
Contoh sederhana. Sebagai Plt Kepala Dinas Pendidikan, Alfian bisa merancang program khusus pemerkayaan literasi siswa dengan mencari referensi buku koleksi Dispusip Banyuwangi. Atau, pada momen tertentu, ‘’menggiring’’ siswa dan guru berdiskusi, membedah buku, membuat resensi buku di aula Dispusip yang besar dan megah. Juga lomba-lomba siswa terkait buku. Dlsb. Dst.
Dengan begitu, Dispusip akan lebih hidup. Menyala. Modern. Menjadi jujugan siswa, mahasiswa, dan masyarakat. Seperti harapan Bupati Ipuk dalam sambutan pelantikan pejabat baru kemarin dulu. ‘’Untuk kepala Dispusip, Alfian, diharapkan bisa mengubah perspektif perpustakaan menjadi lebih modern. Memperkuat literasi melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan, serta menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata,’’ harap Ipuk, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (19/05/26).
Menjadikan perpustakaan modern dan menjadi destinasi wisata itu gampang-gampang susah. Cara paling cepat mewujudkannya adalah memodernisasi
sistem. Memperbanyak koleksi buku dan referensi lainnya. Mulai buku cetak sampai yang digital. Dan, satu lagi yang paling perting dan urgen, menciptakan suasana dalam pespustakaan seolah bukan perpustakaan. Pengunjung merasa seperti sedang membaca buku tidak di dalam perpsutakaan.
Bisakah? Bisa. Saya sudah merasakan langsung berada di perpustakaan seperti itu. Yakni ketika berkunjung ke perpustakaan Starfield Library. Pada Februari 2025 kemarin. Letak perpustakaan besar dan megah itu sangat unik. Berada di tengah COEX Mall, Seoul, Korea Selatan. Starfield Library merupakan salah satu perpustakaan publik terbesar. Juga paling menarik di dunia. Terutama cara penataan bukunya.
Berada di lantai B1-1F (mudah-mudahan belum berubah), koleksi buku-bukunya ditempatkan begitu hati-hati di rak setinggi kurang lebih 13 meter! Peletakan rak bukunya begitu memesona. Selain menempel di semua dinding ruangan, setidaknya ada tig arak yang menjulang sangat tinggi.
Dan, itu menjadi daya pikat tersendiri. Membuat Starfield Library menjadi impian dan sekaligus jujugan para pencinta buku. Baik orang Korsel sendiri. yang diincarnya. Baik dengan cara melihat dan memilih langsung. Atau, membuka daftar buku di sejumlah layar digital yang tersedia. Pasti buku yang dicari tersedia. Sebab, Starfield Library mengoleksi 50.000 buku, majalah, dan referensi dalam bentuk yang lain. Semua tersedia di lantai 1 sampai lantai 2.
Tentu, Alfian tidak harus datang ke Starfield Library. Cukup ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Gedung fasilitas layanan Perpusnas itu tak kalah mentereng. Terdiri dari 27 lantai! Bangunannya menjulang setinggi 126,3 meter. Terbagi atas 3 lantai ke dasar/bawah (tanah) dan 24 lantai layanan perpustakaan.
Bangunan ikonik itu memegang rekor sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Lobi utama dan pendaftaraan keanggotaan serta auditorium berada di lantai 1-2. Terdapat layanan khusus anak, lansia, dan disabilitas di lantai 7. Sedangkan lantai 14 menjadi ruang koleksi buku umum dengan sistem terbuka. Koleksi novel berada di lantai ini. Lantai puncak, area rooftop menjadi tempat favorit pengunjung. Untuk bersantai sambil menikmati pemandangan kota dan Monas.
Wa ba’du. Manajemen di Starfield Library dan Perpunas layak dijadikan studi pintar. Kedua perpustakaan itu merupakan contoh pusat peradaban. Peradaban, salah satunya, dibangun lewat buku. Mereka yang menulis dan membaca buku sejatinya sedang membangun sebuah peradaban. Setidaknya untuk diri sendiri. Bersyukurlah daerah yang memiliki perpustakaan. Apalagi perpustakaan yang kaya koleksi bukunya. Juga nyaman dan menyenangkan suasana di dalamnya. (Penulis Banyuwangi).
Editor : Ali Sodiqin