NAIK balon udara di Kapadokia di Turkiye sudah biasa. Tapi bagi mereka yang baru kali pertama berwisata di Kapadokya (bahasa Turkiye), sensasi terbang di atas hamparan beragam ribuan gundukan batu yang dipahat alam serta tebing warna-warni, menjadi tujuan utama.
Alhamdulillah, saya ke Kapadokia lagi. Tapi saya tidak naik balon udara.
Saya bersama keluarga (di sela melihat-mencari kampus untuk studi magister anak wadon) memilih paket wisata ”mengejar balon udara”. Yang sensasinya tidak kalah dengan naik balon udara.
Sesuai namanya, lokasi ”mengejar balon udara” juga di Kapadokia. Persis di bawah balon udara yang sedang terbang.
Tepatnya, mengikuti arah terbang balon udara. Sekadar tahu, arah terbang balon udara tidak tentu. Tergantung arah angin.
Angin yang sedang-sedang saja. Bukan angin kencang. Justru ketika embusan angin terlalu kencang, pilot balon udara tidak berani terbang.
”Mengejar balon udara” tidak dengan berjalan kaki. Atau, bahkan, lari. Melainkan naik Jeep.
Bayarnya lumayan mahal. Pakai dolar Amerika, lagi. Harga paket per orangnya USD120. Setara dengan Rp1.878.000 (kurs Rp15.650/USD1).
Kok semahal itu. Mahal dan murah itu relatif. Semula ketika tahu tarifnya USD120, kami sempat berpikir ulang.
Tapi, naluri dagang kami secara refleks mengatakan: ada rupa ada harga.
Tidak mungkin pihak pengelola wisata ”mengejar balon udara” memasang tarif mahal, bila sensasi paket yang ditawarkan tak sebanding.
Dan, ini yang terpenting: balon udara yang dikejar tidak selalu ada. Sekali lagi, balon udara sangat bergantung pada cuaca!
Seperti kata Antonius Josep Cahyo Nugroho dari Wonderful Turkiye.
”Kalau beruntung wisatawan bisa naik dan mengejar balon udara,” kata Anton—panggilan karib Antonius Josep Cahyo Nugroho.
Wisata naik dan mengejar balon, lanjut pria religius itu, boleh dibilang wisata untung-untungan. Ketika cuaca mendukung, yang ingin naik balon punya kesempatan. Pun yang mengejar balon.
Bila cuaca sebaliknya, mimpi naik balon harus ditunda, entah kapan lagi. Tapi pembayaran paket USD280/per orang dikembalikan 100 persen.
Sementara yang naik Jeep tetap bisa jalan menyusuri kota tua dengan rumah gua-rumah gua di kanan kirinya.
Hanya minus spot foto dalam kepungan balon udara yang sedang terbang rendah.
Baik yang naik maupun yang mengejar balon dijemput pihak pengelola destinasinya. Pagi-pagi mruput. Setelah salat Subuh langsung go.
Dengan tujuan yang sama: terminal balon udara. Di terminal, sambil menahan dingin menusuk. Dinginnya -3 derajat Celsius.
Ditambah angin kencang juga. Kami bisa melihat aktivitas mengembangkan balon raksasa dengan mesin blower.
Ternyata lumayan lama proses itu. Begitu balon mengembang, api pendorong balon udara dinyala-matikan. Berulang-ulang.
Begitu balon udara benar-benar dalam posisi tegak lurus dengan keranjang balon udaranya, penumpang disilakan naik. Satu per satu. Dengan cara melompat dan atau naik tangga minimalis.
Bagi saya yang mengambil paket ”mengejar balon udara” merasa dapat bonus. Melihat proses mengembangkan balon udara, penumpang naik keranjang, dan balon mengudara.
Begitu balon udara yang berjumlah 120 buah mulai mengudara, semua kendaraan mengejar di bawahnya. Baik kendaraan yang mengantar-jemput wisata yang naik balon udara, maupun Jeep-Jeep yang mengangkut wisatawan pengejar balon udara. Seru!
Sopir Jeep pengejar balon udara sangat profesional. Sepertinya mereka para off roader.
Bayangkan, jalan tanah sempit bergelombang yang kanan-kirinya tebing tinggi dilahapnya dengan santai.
Sesekali mereka sengaja menerjang gundukan sisi mobil, sehingga mobil berguncang keras. Rasaya hati seperti mau copot. Dag dig dug serrr.
Jeep terus melaju kencang. Berlomba dengan balon udara yang terbang rendah. Saat tiba di tiga spot foto berlatar belakang ratusan balon melayang, Jeep berhenti.
Memberi kesempatan kepada kami dan wisatawan pengejar balon udara untuk mengabadikan momen langka itu.
Tempatnya sangat luas. Para wisatawan bisa memilih lokasi yang dikelilingi balon udara yang terbang cukup rendah.
Bahkan, ada tempat khusus untuk foto prewed. Kami melihat calon pengantinnya pakai pakaian prewed ”cocktail” yang semi terbuka. Dinginnya pasti tidak kebayang.
Kami sangat beruntung. Hari itu memutuskan ikut paket optional ”mengejar balon udara”.
Sebab, esok harinya tidak ada balon yang terbang. Benar kata Anton. Wisata balon udara memang untung-untungan.
”Alhamdulillah, saya sangat beruntung ambil paket naik balon udara hari ini,” kata Mirza, santri salah satu pesantren di Jogjakarta, sambil menggigil kedinginan setelah turun dari keranjang balon udara.
Di spot foto terakhir, semua Jeep pengangkut wisatawan berkumpul. Masing-masing menggelar pesta ”kemenangan”.
Semacam tradisi perayaan di ujung paket perjalanan menantang. Pesta itu disebut champagne party.
Tapi jangan bayangkan kami melakukan toast sampanye lalu menenggak wine. Yang kami pakai pakai toast gelas berisi sari apel dan sari ceri.
Lalu kami menenggak secara berjemaah sari buah berwarna kuning dan merah itu. Diakhiri tepuk tangan dan memasukkan lembaran mata uang Lira Turkiye ke gelas kosong. Tip untuk para driver yang hebat-hebat.
Wa ba’du. Paket kombinasi naik balon udara dan ”mengejar balon udara” sangat cerdas.
Bagi wisatawan yang takut ketinggian punya alternatif tetap berfoto dengan aktivitas balon udara.
Saya pun tiba-tiba membayangkan, kelak wisata dirgantara di Banyuwangi juga berkembang seperti di Kapadokia.
Pengelola wisata naik paralayang juga mengombinasikan dengan wisata ”mengejar paralayang”.
Saya kira lokasi wisata paralayang di puncak Gunung Menyan, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, sampai lokasi pendaratan paralayangnya punya rute off road yang menantang.
Kalau di Kapadokia menyusuri tebing-tebing kota tua dengan rumah gua-rumah gua, di Kalibaru wisatawan ”pengejar paralayang” bisa menikmati sejuknya udara pegunungan.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin