RADARBANYUWANGI.ID - Manuskrip Pegon merupakan khazanah intelektual yang unik dan tak ternilai harganya dalam sejarah peradaban Jawa.
Ditulis menggunakan aksara Pegon, yaitu modifikasi huruf Arab untuk mengakomodasi fonem bahasa Jawa.
Manuskrip ini membuka jendela penting untuk memahami sejarah, agama, sastra, dan kearifan lokal masyarakat Jawa di masa lampau.
Kelahiran aksara Pegon tidak dapat dipisahkan dari masuk dan berkembangnya agama Islam di Jawa.
Pada abad ke-14 dan ke-15 Masehi, para ulama dan mubaligh menghadapi tantangan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang memiliki bahasa dan tradisi tulis sendiri dengan aksara Jawa (Hanacaraka).
Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo yang berpengaruh, seringkali dikaitkan dengan inisiasi pengembangan aksara Pegon.
Tujuannya adalah menciptakan sistem penulisan yang lebih familiar bagi masyarakat Jawa dalam mempelajari Alquran dan teks-teks keagamaan lainnya.
Istilah "Pegon" sendiri, yang berarti "menyimpang" atau "tidak lazim" dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan bahwa aksara ini dianggap sebagai adaptasi dari standar tulisan Arab.
Seiring waktu, penggunaan aksara Pegon meluas. Awalnya terbatas pada lingkungan pesantren dan kalangan ulama untuk menuliskan terjemahan Alquran, hadis, fikih, tasawuf, dan sejarah Islam.
Pegon kemudian merambah ke berbagai aspek kehidupan intelektual masyarakat Jawa.
Masa keemasan produksi manuskrip Pegon diperkirakan terjadi pada abad ke-18 dan ke-19 Masehi, seiring dengan munculnya banyak ulama produktif yang menghasilkan karya tulis dalam aksara ini.
Meskipun identik dengan tema keagamaan Islam, isi manuskrip Pegon ternyata cukup beragam. Mulai dari materi tentang kebutuhan dan minat intelektual masyarakat Jawa pada masanya. (bay)
Editor : Ali Sodiqin