RADARBANYUWANGI.ID - Pada tahun 2015 PT Pelindo Properti Indonesia (PPI) resmi memulai pengembangan kawasan Marina Boom Banyuwangi sebagai dermaga terintegrasi untuk yacht (kapal layar ringan).
Dermaga yacht menjadi salah satu fasilitas yang dibangun untuk menunjang kawasan wisata Marina Boom.
Sepuluh tahun berjalan, keberadaan dermaga yacht boleh dibilang belum begitu maksimal. Sesuai rencana awal, Marina Banyuwangi ditargetkan akan disinggahi 200 kapal pesiar dari berbagai negara.
Berikut sumbang pemikiran Menlu sebagai Direktur Rabanton Indonesia (RI) ketika bincang santai di atas kapal yacht di dermaga beton terapung di kawasan Marina Boom, Kamis (24/4).
Seperti apa pandangan Anda terhadap dermaga Marina Boom?
Potensi dari kapal pesiar cukup bagus di Indonesia. Jumlahnya cukup banyak, sekitar 2.000 kapal yang lewat di Indonesia. Mereka cuman kulo nuwun, berpindah dari Australia masuk ke kawasan Asia Tenggara atau sebaliknya dari Asia Tenggara ke Australia. Keprihatinan saya, dari ribuan kapal yacht tersebut hanya sekitar 8 kapal yang sandar di Marina Boom.
Langkah tepat agar kapal tersebut bisa maksimal bersandar di Marina Boom seperti apa?
Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita yang harus kita kerjakan bersama-sama. Yang saya tahu, mereka yang punya kapal pesiar rata-rata berusia di atas 50 tahun ke atas. Kedua, pemilik kapal pesiar punya kemampuan finansial yang kuat. Rata-rata duite turah. Ketiga, kadang mereka juga agak ceroboh. Karena usianya sudah di atas 50 kedatangannya perlu kapal pemandu. Kenyataannya mereka tidak mau sandar di Marina Boom.
Mengapa tidak mau sandar?
Mohon maaf, Pak. Ketika berbicara marina, apa fasilitas yang kita berikan kepada mereka sebagai user experience sehingga mereka masuk ke wilayah ini dengan nyaman dan dengan faktor safety keamanan. Sehingga kita tidak bicara uang ratusan juta, tapi miliaran. Areal ini pun nanti, jika ada kapal yang masuk seyogyanya harus memiliki asuransi. Jika ada kapal berbenturan biar pihak asuransi yang menyelesaikan.
Pengelolaan Marina Boom tampaknya belum maksimal. Ada konsep yang Anda tawarkan?
Yang pasti kita harus punya dermaga yang proper, yang layak dan sesuai standar. Para pemilik kapal yacht tidak mungkin mau dengan dermaga yang sekadar terbuat dari plastik. Mereka tidak mau ketika kapal sandar, dermaganya tiba-tiba mluntir atau palstiknya jebol. Tentang konsepnya, pengelolaan marina harus dengan jiwa kolaborasi banyak pihak. Kebetulan saya bergabung dengan organisasi Hipmi dan Kadin. Dari yang disampaikan ketua saya, saat ini kita masuk ke masa kolaboratif. Dengan serbuan produk-produk luar negeri, kita harus bisa membeli produk-produk teman sendiri.
Kalau ada kapal yacht sandar, lalu orangnya turun. Apa fasilitas yang harus kita berikan?
Dengan konsep kolaborasi, jualan buah kita bisa laku. Mereka bawa baju kotor. Dengan begitu, laundry yang disiapkan bisa laku. Mau mandi tidak mungkin di dalam kapal karena harus mengeluarkan biaya dobel-dobel. Mereka akan mandi di luar yang harus kita siapkan. Karena itu, kita siapkan kamar mandi di luar kapal. Kita tidak mau ngomong kamar mandi Rp 2.000. Minimal Rp 10.000 dengan fasilitas air bersih, dan ada shower-nya. Saya yakin mereka akan nyaman. Fasilitas-fasilitas itu harus kita garap serius kalau mau memaksimalkan keberadaan Marina Boom.
Selain fasilitas mandi, ada yang lain?
Ada tiga hal yang paling penting kita kerjakan. Ketika orang luar datang ke Indonesia, yang perlu disiapkan adalah soal imigrasi. Kita cek dulu paspornya. Kita cek kesehatannya otomatis kita butuh karantina kesehatan. Yang ketiga soal barang bawaan, legal atau tidak. Sehingga ketika mereka mampir di sini, butuh kehadiran bea cukai untuk mengecek barang-barang bawaan di dalam kapal. Yang keempat perlu ada campur tangan KSOP untuk terkait port clearance atau Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Kalau ada imigrasi, KSOP, kesehatan, dan bea cukai, maka Banyuwangi bisa menjadi port and try. Tidak semata-mata menggantungkan dari provinsi sebelah.
Haruskah pemerintah ikut berperan dalam memaksimalkan pengelolaan Marina Boom?
Harus. Pemda, dinas, provinsi harus duduk bersama. Kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha sangat penting untuk mengatasi birokrasi yang menghambat pengembangan infrastruktur. Ketika kapal sandar, rakyat yang diuntungkan. Saya cukup girang ketika ngomong kapal cepat. Itu artinya kita sedang melirik bisnis yang berabad-abad ditinggalkan. Indonesia pernah terkenal di dunia saat era Majapahit dan Sriwijaya. Dua duanya negara maritim. Kita terpolakan masuk agraris ketika dijajah. Kalau mau Indonesia jaya di 2045 saya yakin jawabannya di maritim. 30 persen daratan subur, namun 70 persen kita lupa punya potensi di perairan.
Apa yang paling diperlukan untuk kedatangan kapal yacht?
Keselamatan harus diutamakan. Alat komunikasi penting (channel frekuensi jarak jauh/HT) dan kapal penuntun semacam tug boat dan speed boat. Dibutuhkan juga kenyamanan terhadap fasilitas dermaga dan pemadam kebakaran. Kotoran di kapal harus dibersihkan dengan sistem kolaborasi. Ibarat beli semangka Rp 150 ribu, mereka bersedia bayar asalkan jangan ditambah pakai gelas Rp 15.000, nambah sedotan Rp 10.000. Mereka butuh all-in berapa biayanya tetap dibayar. Perlu juga disiapkan stasiun bahan bakar, tapi jangan dicampur kapal ikan. Ketika user experience yang mereka alami wow. Pelayanan Marina Boom Banyuwangi menjawab kebutuhan mereka. Jangankan 60 kapal sandar, 150 kapal bisa sandar di sini. Ironisnya, kondisi sekarang hanya disandari 8 kapal.
Adakah secara teknis keunggulan pemakaian dermaga Banyuwangi butuh dermaga beton produk Rabanton?
Banyuwangi atau daerah di Indonesia butuh dermaga beton terapung. Kebetulan kami bikin dermaga di Marina Boom. Kami punya lima dermaga di Marina Boom. Dermaga ini tahan korosi. Usianya bisa puluhan tahun. Panjangnya ada yang 20 meter, lebar 4 meter, tinggi 1 meter. Menjadi rangkaian dermaga, tapi tidak tenggelam. Produk ini telah melalui riset selama hampir dua tahun dan dirancang untuk menampung kapal dengan panjang 20 meter dan lebar 3–4 meter. Beton terapung dianggap lebih ekonomis dan tahan lama dibandingkan material lain. Dermaga beton terapung dapat mendukung pengembangan kawasan marina internasional dan memanfaatkan potensi sumber daya alam di pulau-pulau kecil di Indonesia. Yang pasti kita butuh kolaborasi.
Seperti apa konstruksi beton terapung?
Konstruksinya sangat kuat. Beton terapung sudah diproduksi dan sudah dipraktikkan di Marina Boom. Memakai beton terapung memiliki banyak sekali keunggulan. Bahannya paling murah. Ketika dicampur dengan besi, dia membungkus besi itu sehingga antikarat. Posisinya bisa mengambang sehingga kami tambahkan beberapa material sehingga mengurangi beratnya.
Harapan Anda terkait pengeloloan Marina Boom ke depan?
Kami mohon difasilitasi supaya bisa berkiprah. Intinya di daerah Marian Boom kita siapkan dermaganya. Lebih dari servis yacht-nya. Kita akan bersihkan tritipnya. Saya yakin dengan servis yang bagus, para pemilik kapal pesiar setelah keluar dari Banyuwangi akan menilai bagus. Fasilitas sandar lengkap, masyarakatnya sangat ramah. Apalagi ada fasilitas perbain kapal. Terlebih dengan adanya satu pintu pelayanan (KSOP, imigrasi, kesehatan, dan bea cukai), saya yakin Banyuwangi bisa menjadi leader industri kemaritiman untuk sandar kapal yacht. Dengan layanan yang bagus kita bisa tuai hasilnya bersama-sama. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin