RadarBanyuwangi.id – Di Kecamatan Sempu angka pernikahan dini sungguh mengkhawatirkan. Sempu masuk 10 besar tingginya angka nikah dini di Banyuwangi.
Untuk mengatasi fenomena ini, penyuluh agama KUA Sempu Guntur Al Badri aktif mengampanyekan pencegahan pernikahan dini.
Sasaran utama kampanye pencegahan nikah dini ialah para siswa SMA dan SMK, terutama kelas XI dan XII. Mereka dianggap berisiko terlibat dalam pernikahan dini.
Selain itu, pengajian ibu-ibu juga menjadi objek penting. Sebab, mereka memiliki peran krusial dalam mendidik anak-anaknya sehingga informasi itu harus sampai ke mereka.
Materi yang disampaikan dalam sosialisasi ini mencakup pengertian dan regulasi yang mengatur pernikahan.
Selain itu, dampak negatif dari pernikahan dini seperti risiko sosial dan kesehatan, juga menjadi fokus utama.
”Kami berusaha memberikan pemahaman yang komprehensif, agar mereka sadar akan konsekuensi dari tindakan ini,” kata Guntur Al Badri, penyuluh agama dari KUA Kecamatan Sempu.
Banyak faktor berkontribusi terhadap meningkatnya nikah dini, mulai dari ekonomi hingga hasrat untuk menikah.
Namun, fenomena yang paling mencolok adalah kehamilan lebih dulu sebelum pernikahan, yang jumlahnya hampir mencapai 99 persen.
”Kondisi ini menyebabkan banyak anak terpaksa menikah,” tambah Guntur.
Selain menyasar siswa SMA dan SMK, pihaknya juga aktif melakukan sosialisasi di kalangan siswa SMP.
Di tingkat ini, mereka memfokuskan pada program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) dengan tujuan memotivasi anak-anak untuk berprestasi.
”Kami ingin mereka fokus pada pendidikan dan masa depannya,” ungkap Guntur.
Meskipun sosialisasi di tingkat SMP masih dalam konteks BRUS, Guntur mengakui pentingnya pencegahan pernikahan dini di kalangan remaja.
Dengan kondisi sosial yang ada, timnya memberikan materi pencegahan kepada remaja di SMK.
”Kami ingin anak-anak memahami bahwa ada pilihan lain selain menikah di usia muda,” jelasnya.
Sosialisasi pencegahan nikah dini ini biasanya dilakukan saat sekolah meminta materi, atau saat diadakan acara tertentu.
Selain itu, tim juga sering melakukan kunjungan langsung untuk menjangkau siswa.
”Kami sudah melaksanakan sosialisasi ini selama satu tahun terakhir, dan responsnya cukup positif,” ujarnya.
Dampak dari program ini diharapkan dapat menurunkan angka pernikahan dini di Kecamatan Sempu.
Guntur yakin dengan pengetahuan yang tepat, para remaja akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
”Kami akan terus bekerja keras untuk menyebarkan informasi ini,” tutupnya dengan penuh harapan.
Upaya Guntur dan timnya mencerminkan komitmen untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
Dengan informasi dan bimbingan yang tepat, diharapkan remaja dapat menghindari risiko pernikahan dini dan fokus pada pendidikan serta pengembangan diri. (rei/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin