RadarBanyuwangi.id – Ahmad Rizki Fauzi, salah satu penyandang disabilitas yang memiliki prestasi. Meski memiliki keterbatasan fisik, Rizki justru membuktikan bahwa tidak ada keterbatasan baginya untuk melakukan kegiatan layaknya orang normal.
Berkat kecintaannya terhadap seni, Rizki lebih percaya diri dalam mengembangkan kemampuannya sebagai content creator.
Ketika masih duduk di bangku SD, Rizki sempat tidak percaya diri yang sangat menyiksa. Berkat dukungan dari orang tua, perlahan dia belajar untuk mencari dan menemukan kelebihan yang ada dalam dirinya.
“Sejak SD sudah suka gambar kartun dan doodle. Hobi ini hanya untuk hiburan kalau lagi jenuh dan suntuk,” ungkapnya.
Kemampuan yang dia dapat sekarang memang tidak lepas dari dukungan orang sekitarnya, terutama orang tua.
Hebatnya, sang ibu bernama Nur Jannah sejak kecil tidak pernah memasukkan anak laki-lakinya itu ke sekolah khusus para difabel.
Anak ketiga dari tiga bersaudara tersebut tetap bersekolah layaknya anak-anak normal pada umumnya.
”Saya ingin dia tumbuh setara seperti yang lain. Sebagai orang tua saya tidak ingin membedakan,” ujar Nur Jannah.
Ketika masuk di sekolah SMP Al Irsyad, Rizki sempat berhenti untuk menggambar dan melukis karena ada larangan dari pihak sekolah.
Larangan tersebut sempat membuatnya risau. Ketika jenuh di sekolah, Rizki tidak ada kegiatan yang bisa membuatnya terhibur.
”Sempat nakal karena ikut teman yang tidak benar. Pernah masuk ke circle pertemanan yang cuma nyuruh-nyuruh saja,” kata Rizki yang juga alumni SDN 3 Lateng.
Berkat kecintaannya terhadap seni, tahun 2016, Rizki mencoba kembali aktif menggambar. Dia mulai mengunggah hasil karyanya di beberapa sosial media.
Sejak saat itulah Rizki lebih dikenal. Banyak tawaran untuk menggambar dan melukis. Tawaran lebih banyak datang dari luar kota.
Meski terlihat sepele, hasil karyanya bisa terjual dengan harga hingga jutaan rupiah. ”Bersyukur, dari menggambar saya dapat bonus jalan-jalan. Pelanggan kebanyakan dari luar kota, bahkan saat pandemi Covid-19, saya diminta melukis di Jakarta,” ungkap Rizki.
Rizki yang sekarang juga tengah mengembangkan diri menjadi seorang content creator. Dia juga direkrut sebagai tim media di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.
Dia sempat mendapatkan penghargaan sebagai difabel inspiratif dari Untag 1945 Banyuwan. Rizki berharap ke depan tidak ada diskriminasi lagi bagi kaum difabel.
”Kami tidak ingin dikasihani dan tidak ingin dibeda-bedakan,” pungkasnya. (tar/aif)
Editor : Ali Sodiqin