Puluhan orang itu sangat antusias untuk mengawal Amisujak dan istri hingga tiba di Situbondo. Apalagi, Perjalanan pasutri tersebut untuk menjadi tamu Allah sudah tertunda selama tiga tahun. Perahu yang mereka tumpangi dihiasi dengan berbagai macam ornamen menarik. Sehingga terkesan meriah di tengah perjalan laut yang dilewati.
Tiba di Pelabuhan Jangkar, perahu yang mereka tumpangi tidak bisa langsung ke darat. Mreka harus menggunakan kapal kayu lain yang ukurannya lebih kecil untuk mengantar ke pantai. Beruntung, ombak Di pantai Jangkar kecil. Sehingga, dapat memudahkan proses pengangkutan jamaah haji dan keluarganya ke darat. “Kami bersama keluarga besar dari Madura. Ini menjadi keinginan mereka untuk mengantar kami berangkat haji,” ucap Amisujak, Selasa (7/6) kemarin.
Lebih lanjut, Amisujak menuturkan, untuk tempat yang digunakan bermalam sudah disiapkan oleh panitia. “Ada jamaah haji lainnya juga yang saat ini menginap di Sukorejo. Karena kami saling komunikasi sejak jauh-jauh hari,”imbuhnya.
Dia mengatakan, agar bisa tiba di Situbondo terpaksa menggunakan perahu kayu. Sebab tiket yang disediakan sudah habis terjual. “Tiga hari sekali kapal Ferry baru ada, dan kebetulan tadi sudah tidak kebagian tiket kapal,” ujarnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal