RADAR BANYUWANGI - Di tengah beragam pilihan kuliner modern, bubur pinggir jalan masih menjadi andalan sarapan. Harga terjangkau, cita rasa khas, dan kepraktisan menjadi daya tariknya.
Semangkuk bubur hangat masih menjadi pilihan untuk mengawali hari. Di sejumlah daerah, pedagang bubur kaki lima tetap melayani pembeli yang hendak berangkat bekerja maupun sekolah.
Bagi pedagang, waktu menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan pelanggan. Mereka harus menyiapkan dagangan sejak dini hari agar siap melayani pembeli sebelum aktivitas pagi dimulai.
Kondisi tersebut dirasakan Muamar Rizky, 25, pedagang Bubur Tambun asal Bekasi yang berjualan di Jakarta Timur. Pria yang akrab disapa Amar itu harus tiba di lokasi berjualan paling lambat pukul 06.00.
"Kalau lebih dari jam 06.00, nanti pelanggan-pelanggan yang berangkat kerja, sekolah, atau lain sebagainya nggak jadi beli," ujar Amar, seperti dikutip dari laporan detikX, 10 Mei 2026.
Amar berjualan menggunakan sepeda motor yang dilengkapi gerobak di bagian belakang. Bubur racikannya disajikan bersama suwiran ayam, cakwe, seledri, bawang goreng, dan tongcai.
Menurut laporan tersebut, Amar mengaku dua dandang bubur racikannya kerap habis terjual. Pada akhir pekan atau hari libur, penjualannya bahkan bisa mencapai 100 porsi.
Baca Juga: Sering Lemas dan Mengantuk Setelah Makan Bubur Ayam? Ini Penjelasan Dokter
Harga Terjangkau dan Rasa Khas Jadi Daya Tarik
Selain ketepatan waktu, harga menjadi salah satu daya tarik bubur kaki lima.
Di Tolitoli, Sulawesi Tengah, misalnya, pedagang bubur ayam bernama Udin menawarkan harga Rp10 ribu untuk porsi biasa dan Rp13 ribu untuk porsi dengan tambahan telur. Harga tersebut dilaporkan RRI pada 12 Juli 2025.
"Untuk harga, 10 ribu rupiah itu yang biasa, kalau yang pakai telur harganya 13 ribu rupiah," kata Udin, sebagaimana dikutip dari RRI.
Harga itu merupakan contoh dari satu pedagang pada 2025, bukan patokan harga bubur ayam secara nasional.
Di luar harga, cita rasa yang sudah akrab di lidah turut menjadi daya tarik kuliner tradisional tersebut.
Bubur ayam umumnya disajikan dengan beragam pelengkap, mulai suwiran ayam, kerupuk, bawang goreng, hingga kecap dan sambal. Racikan kaldu serta bumbu membuat setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri.
Salah satunya bubur ayam Cianjur. Berdasarkan informasi Kementerian Pariwisata, sajian khas Jawa Barat itu menggunakan kuah kaldu ayam kental dengan pelengkap seperti cakwe, ayam suwir, dan kerupuk.
Kuliner Tradisional yang Tetap Memiliki Tempat
Pilihan bubur di Indonesia juga tidak terbatas pada bubur ayam. Ada bubur sumsum dan bubur candil yang menawarkan cita rasa manis, biasanya disajikan sebagai hidangan penutup atau kudapan tradisional.
Teksturnya yang lembut dan penyajiannya yang praktis membuat bubur ayam mudah dinikmati sebelum beraktivitas. Pembeli bisa menyantapnya langsung di tempat atau membawanya pulang.
Meski demikian, sarapan tetap perlu memperhatikan kecukupan gizi. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi makanan beragam yang mencakup sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah.
Keberadaan bubur pinggir jalan memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Ada pedagang yang mempertahankan resep keluarga, ada pula yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk menjangkau pelanggan.
Di tengah perubahan tren makanan, sajian sederhana itu tetap menawarkan sesuatu yang dicari pembeli: sarapan hangat, praktis, dan akrab di lidah.
Editor : Lugas Rumpakaadi