RADAR BANYUWANGI – Hubungan yang sehat tidak selalu berjalan dengan hitungan 50:50 setiap hari. Namun, jika hampir setiap perhatian, uang, bantuan, atau pengorbanan pasangan selalu dicatat dan kemudian ditagihkan kembali, hubungan bisa berubah menjadi seperti transaksi. Enam pola perilaku ini bisa menjadi tanda bahwa pasangan terlalu memandang hubungan dari sisi timbal balik dan keuntungan.
Memberi dan menerima memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam sebuah hubungan. Ada hari ketika seseorang mampu memberikan lebih banyak perhatian. Di waktu lain, justru pasangannya yang harus mengambil peran lebih besar karena sedang menghadapi persoalan.
Masalah muncul ketika prinsip timbal balik berubah menjadi semacam buku pembukuan.
Siapa yang lebih sering membayar? Siapa yang lebih dulu menghubungi? Siapa yang lebih banyak berkorban? Siapa yang sudah melakukan lebih banyak?
Dalam psikologi hubungan, kecenderungan menghitung kontribusi secara berlebihan dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang keadilan, rasa aman, kepercayaan, kebutuhan akan kontrol, hingga pengalaman masa lalu.
Karena itu, pasangan yang perhitungan tidak otomatis berarti pelit atau tidak mencintai.
Yang perlu diperhatikan justru pola perilakunya dan dampaknya terhadap hubungan.
Dilansir dari Psychology Today, Senin (7/9), berikut enam tanda yang patut diperhatikan jika pasangan mulai memandang hubungan secara sangat transaksional.
1. Sering Mengungkit Semua yang Pernah Dilakukan
Kalimat seperti “Aku kan sudah melakukan banyak hal buat kamu” mungkin terdengar biasa.
Setiap orang tentu ingin kontribusinya dihargai. Masalahnya muncul ketika kebaikan yang diberikan berubah menjadi catatan utang emosional.
Misalnya, pasangan pernah beberapa kali menjemput. Namun, ketika suatu hari kamu tidak dapat memenuhi keinginannya, seluruh bantuan tersebut langsung diungkit.
Begitu pula ketika dia pernah membelikan sesuatu. Pemberian itu kemudian digunakan sebagai alasan bahwa kamu seharusnya melakukan sesuatu untuknya.
Perbedaan antara apresiasi dan tuntutan balasan sebenarnya cukup jelas.
“Aku senang kalau usahaku dihargai” merupakan bentuk komunikasi kebutuhan.
Sebaliknya, “Aku sudah melakukan ini untukmu, jadi kamu wajib melakukan sesuatu untukku” menunjukkan pola yang jauh lebih transaksional.
Dalam hubungan sehat, seseorang boleh berharap dihargai. Tetapi pemberian tidak seharusnya otomatis berubah menjadi tagihan.
2. Selalu Menghitung Siapa yang Paling Banyak Berkorban
Tanda berikutnya terlihat dari kebiasaan membandingkan kontribusi.
Siapa yang lebih sering membayar?
Siapa yang lebih sering menghubungi?
Siapa yang lebih banyak mengalah?
Siapa yang lebih sering datang menemui?
Siapa yang paling banyak membantu?
Membicarakan pembagian tanggung jawab tentu bukan masalah. Bahkan dalam hubungan jangka panjang, pembagian urusan rumah tangga maupun keuangan memang perlu dibicarakan secara terbuka.
Yang menjadi persoalan adalah ketika setiap interaksi berubah menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang paling berjasa.
Ketika kamu mengatakan sudah berusaha keras, misalnya, dia langsung membalas, “Aku lebih banyak berkorban daripada kamu.”
Ketika kamu menyampaikan keluhan, dia justru mengeluarkan daftar pengorbanannya.
Percakapan akhirnya tidak lagi berfokus pada penyelesaian masalah. Tujuannya bergeser menjadi pembuktian siapa yang paling banyak memberikan sesuatu.
Hubungan pun terasa seperti pembukuan.
Padahal, kontribusi pasangan tidak selalu dapat dihitung secara matematis.
Hari ini seseorang mungkin hanya mampu memberikan 20 persen karena sedang menghadapi masalah. Pasangannya bisa saja memberikan 80 persen. Pada kesempatan lain, posisi itu dapat berbalik.
Yang lebih penting adalah kemauan keduanya untuk saling mendukung dalam jangka panjang.
3. Mau Membantu Hanya Jika Ada Keuntungan
Coba perhatikan bagaimana pasangan bersikap ketika kamu membutuhkan bantuan yang tidak memberikan keuntungan langsung kepadanya.
Apakah dia tetap bersedia membantu?
Atau pertanyaan pertama yang muncul justru, “Aku dapat apa?”
Menolak permintaan bukan otomatis berarti seseorang perhitungan. Setiap orang memiliki batas kemampuan, waktu, tenaga, dan finansial.
Yang perlu diperhatikan adalah motif yang terus berulang.
Pasangan yang sangat transaksional mungkin hanya mau memberikan bantuan ketika dia mengetahui ada sesuatu yang akan diperoleh sebagai imbalan.
Dia mau menemani karena setelah itu ada agenda yang dia sukai. Dia membantu pekerjaanmu karena sebelumnya kamu membantu pekerjaannya. Dia menjadi sangat perhatian ketika sedang membutuhkan sesuatu darimu.
Sebaliknya, ketika kamu membutuhkan dukungan dan tidak ada keuntungan langsung baginya, perhatian itu mendadak menghilang.
Jika pola tersebut terus terjadi, kasih sayang bisa mulai terasa seperti memiliki syarat dan ketentuan.
4. Membuatmu Merasa Bersalah Saat Tak Bisa Membalas
Ini menjadi salah satu tanda yang patut mendapat perhatian lebih.
Bayangkan pasangan mentraktir makan malam. Beberapa hari kemudian, kondisi keuanganmu sedang tidak memungkinkan untuk melakukan hal serupa.
Alih-alih memahami situasi, dia berkata, “Waktu aku punya uang, aku selalu berusaha buat kamu. Tapi kamu begitu saja sama aku.”
Kalimat seperti itu dapat memunculkan rasa bersalah.
Dalam jangka panjang, seseorang bisa mulai takut menerima bantuan karena khawatir pemberian tersebut suatu hari akan ditagihkan kembali.
Akhirnya, kamu melakukan sesuatu bukan lagi karena memang ingin, melainkan karena takut dianggap tidak menghargai pasangan.
Padahal, ada perbedaan antara menyampaikan kebutuhan dan membuat pasangan merasa memiliki utang emosional.
Pasangan yang sehat dapat mengatakan bahwa dirinya merasa kurang dihargai.
Sementara pola yang terlalu transaksional cenderung menggunakan kontribusi masa lalu sebagai alat untuk menekan pasangan.
5. Menganggap Adil Berarti Harus Sama Persis
Keadilan memang penting dalam sebuah hubungan.
Tetapi adil tidak selalu berarti jumlahnya harus sama persis.
Ketika pasangan sakit, misalnya, salah satu pihak mungkin harus memberikan lebih banyak waktu dan tenaga untuk merawat. Ketika giliran pasangannya sakit, peran itu dapat berganti.
Tidak perlu ada hitungan bahwa tiga hari merawat harus dibayar dengan tiga hari perawatan.
Hal yang sama berlaku untuk perhatian, waktu, tenaga, bahkan uang.
Dua orang dapat memberikan kontribusi berbeda karena kondisi, kemampuan, dan kebutuhan mereka memang tidak selalu sama.
Seseorang yang terlalu perhitungan bisa kesulitan menerima konsep tersebut.
Dia mungkin berpikir jika membayar Rp300 ribu untuk makan, pasangan harus membayar nominal yang sama. Jika mengirim lima pesan, pasangan harus membalas dengan jumlah yang sama. Jika datang dua kali, pasangan juga harus datang dua kali.
Membagi biaya secara jelas tentu sah dan bahkan sehat untuk persoalan finansial.
Namun, jika prinsip hitung-hitungan itu diterapkan pada setiap bentuk perhatian dan kasih sayang, hubungan bisa terasa kaku.
Sebab, hubungan bukan spreadsheet.
Tidak semua perhatian bisa diberi harga, jumlah, atau skor.
6. Sikap Berubah Ketika Keinginannya Tak Terpenuhi
Tanda terakhir terlihat ketika sikap pasangan berubah drastis setelah keinginannya tidak terpenuhi.
Saat mendapatkan apa yang diinginkan, dia bisa sangat hangat, perhatian, bahkan romantis.
Namun ketika kamu mengatakan tidak, sikapnya berubah.
Dia menjadi dingin, menarik diri, marah, menyindir, atau membuatmu merasa telah mengecewakannya.
Pola seperti ini perlu dicermati karena bisa menunjukkan adanya ekspektasi tersembunyi di balik pemberian atau perhatian sebelumnya.
Misalnya, dia memberikan hadiah tetapi kemudian marah karena tidak menerima hadiah yang dianggap setara.
Dia sering mentraktir, tetapi kemudian merasa berhak menentukan keputusanmu.
Dia menawarkan bantuan, lalu merasa memiliki hak untuk mengatur apa yang harus kamu lakukan.
Jika terjadi berulang, persoalannya mungkin bukan lagi soal uang atau pemberian.
Masalahnya bisa bergeser menjadi soal kontrol dan ekspektasi.
Hubungan kemudian terasa seperti sistem hadiah dan hukuman. Pasangan bisa merasa harus terus berhati-hati agar tidak melakukan sesuatu yang membuat dirinya dianggap “berutang”.
Apakah Pasangan yang Perhitungan Berarti Tidak Mencintai?
Belum tentu.
Ini bagian yang penting untuk dipahami.
Seseorang bisa memiliki kecenderungan menghitung kontribusi tanpa berarti tidak mencintai pasangannya.
Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya terbiasa memperjuangkan segala sesuatu. Ada pula yang pernah dimanfaatkan sehingga menjadi sulit percaya kepada orang lain.
Pengalaman hubungan sebelumnya juga dapat membentuk cara seseorang memandang timbal balik dan keadilan.
Karena itu, perilaku tersebut sebaiknya tidak langsung diberi label toxic, narsistik, atau gangguan psikologis tertentu.
Satu atau dua perilaku tidak cukup untuk mendiagnosis kepribadian seseorang.
Yang lebih penting adalah melihat pola secara keseluruhan.
Apakah dia mau berdiskusi?
Apakah dia mendengarkan sudut pandangmu?
Apakah dia mampu mengakui ketika bersikap berlebihan?
Apakah dia bersedia memperbaiki perilakunya?
Atau setiap kali masalah dibicarakan, justru keadaan diputarbalikkan hingga kamu yang merasa bersalah?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menghitung berapa kali pasangan membayar makan atau memberikan hadiah.
Perhitungan Berbeda dengan Bijak Mengatur Keuangan
Ada kesalahpahaman lain yang juga perlu diluruskan.
Pasangan yang berhati-hati menggunakan uang belum tentu perhitungan.
Seseorang mungkin memilih membagi tagihan karena kondisi keuangannya terbatas. Dia bisa saja tidak nyaman meminjamkan uang atau ingin membuat anggaran bersama sebelum mengambil keputusan finansial besar.
Itu dapat menjadi bentuk tanggung jawab.
Perhitungan mulai menjadi masalah ketika uang atau kontribusi digunakan untuk menentukan nilai seseorang atau mengontrol keputusan pasangan.
Misalnya:
“Karena aku yang lebih banyak membayar, aku yang paling berhak mengambil keputusan.”
Kalimat tersebut bukan lagi sekadar persoalan mengatur keuangan.
Ada persoalan kekuasaan dalam hubungan di dalamnya.
Hubungan sehat tetap memungkinkan pasangan membicarakan uang secara terbuka tanpa menjadikan uang sebagai alat dominasi.
Perhatikan Perasaanmu Setelah Bersama Pasangan
Selain melihat perilaku pasangan, pengalaman emosionalmu sendiri juga penting.
Apakah kamu sering merasa seperti sedang berutang?
Apakah kamu takut menerima bantuan karena khawatir suatu hari akan diungkit?
Apakah kamu merasa harus selalu membalas kebaikan dengan jumlah yang sama?
Apakah kamu merasa bersalah ketika tidak mampu melakukan sesuatu untuk pasangan?
Apakah kamu merasa harus terus membuktikan bahwa dirimu juga berkontribusi?
Jika jawabannya sering iya, mungkin ada dinamika hubungan yang perlu dibicarakan.
Bukan berarti pasanganmu pasti orang yang buruk. Namun, bisa jadi terdapat pola yang membuat hubungan terasa lebih transaksional daripada emosional.
Hubungan Sehat Bukan Kompetisi
Pada akhirnya, hubungan bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling banyak memberi.
Ada masa ketika satu orang memberikan lebih banyak karena pasangannya sedang menghadapi kesulitan.
Ada masa ketika salah satu pihak membutuhkan lebih banyak perhatian. Ada pula kondisi ketika kemampuan finansial keduanya tidak sama.
Karena itu, keseimbangan yang sehat tidak selalu berarti 50:50 setiap hari.
Kadang bisa 80:20.
Di kesempatan lain mungkin 30:70.
Yang penting, dalam jangka panjang kedua pihak merasa dihargai, didukung, aman, dan tidak dimanfaatkan.
Jika enam tanda tersebut muncul pada pasangan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa dia tidak mencintaimu.
Perhatikan polanya, komunikasikan perasaanmu, sampaikan batasan, lalu lihat bagaimana dia merespons.
Sebab, ukuran hubungan yang sehat bukan seberapa banyak seseorang memberi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah seseorang mampu memberi tanpa menjadikan pemberiannya sebagai alat untuk mengendalikan pasangannya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang paling banyak berkorban.
Melainkan:
“Apakah kami berdua merasa dihargai, aman, dan diperlakukan dengan tulus dalam hubungan ini?” (*)
Editor : Ali Sodiqin