RADARBANYUWANGI.ID - Tinggal jauh dari keluarga membuat sebagian anak rantau harus beradaptasi dengan berbagai perubahan kehidupan. Kesibukan kuliah maupun pekerjaan yang berjalan monoton kerap menghadirkan rasa sepi ketika kembali ke tempat tinggal tanpa ada orang terdekat untuk berbagi cerita.
Di tengah kondisi tersebut, fenomena memelihara hewan peliharaan atau yang kini populer disebut anabul semakin banyak ditemui. Bagi sebagian mahasiswa dan pekerja perantauan, anabul bukan sekadar pelengkap gaya hidup, melainkan menjadi teman yang mampu menghadirkan kenyamanan emosional.
Istilah anabul merupakan singkatan dari “anak bulu”, sebutan akrab untuk hewan peliharaan berbulu seperti kucing, anjing, kelinci, hamster, dan berbagai jenis hewan lainnya. Kehadiran anabul dinilai mampu memberikan suasana berbeda bagi mereka yang menjalani kehidupan sendiri di tempat rantau.
Rasa kesepian menjadi salah satu alasan utama seseorang memilih memelihara hewan. Setelah menjalani aktivitas sepanjang hari, kembali ke kamar atau tempat tinggal yang sunyi sering kali membuat anak rantau merasa jenuh hingga mengalami tekanan emosional.
Rutinitas sederhana seperti memberi makan, mengajak bermain, atau sekadar mengelus bulu hewan peliharaan menjadi aktivitas kecil yang memberikan efek menenangkan. Interaksi tersebut mampu menciptakan momen menyenangkan di tengah kesibukan dan keterbatasan komunikasi dengan keluarga.
Di antara berbagai jenis anabul, kucing menjadi salah satu pilihan yang paling banyak dipelihara. Karakter kucing yang memiliki bulu lembut, wajah menggemaskan, serta tingkah laku yang terkadang menghibur membuat hewan tersebut dianggap cocok sebagai teman di tempat tinggal.
Meski demikian, tidak semua anak rantau memilih kucing. Sebagian lainnya memelihara hamster, anjing, kelinci, maupun hewan berbulu lain yang dianggap sesuai dengan kondisi tempat tinggal dan kemampuan perawatan.
Selain membantu mengurangi rasa kesepian, keberadaan anabul juga memberikan manfaat lain bagi pemiliknya. Memelihara hewan dapat menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental, terutama bagi mereka yang rentan mengalami stres karena jauh dari lingkungan keluarga.
Lino, salah satu pemelihara anabul jenis kucing, mengungkapkan bahwa keberadaan kucing di rumah mampu menjadi hiburan setelah menjalani aktivitas pekerjaan.
“Gak ada alasan lebih, sih. Cuman pas lihat mereka makan tuh kayak capeknya hilang, apalagi kadang mereka makan ada suara nyam nyam gitu,” ujar Lino.
Menurutnya, tingkah sederhana dari hewan peliharaan mampu menghadirkan suasana berbeda setelah melewati hari yang melelahkan. Kehadiran kucing menjadi teman yang membuat waktu istirahat terasa lebih menyenangkan.
Di sisi lain, keputusan memelihara anabul juga membawa konsekuensi berupa tanggung jawab. Pemilik harus konsisten memenuhi kebutuhan hewan, mulai dari memberi makan, menjaga kebersihan kandang, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter hewan.
Kebiasaan tersebut secara tidak langsung melatih kedisiplinan dan kepedulian pemilik terhadap makhluk hidup lain. Anak rantau yang sebelumnya hanya mengatur kebutuhan pribadi, perlahan belajar mengelola tanggung jawab tambahan melalui perawatan anabul.
Bagi banyak perantau, anabul akhirnya memiliki peran lebih dari sekadar hewan peliharaan. Mereka menjadi teman yang menemani hari-hari sepi, membantu menjaga suasana hati, sekaligus mengajarkan arti kepedulian dan tanggung jawab.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan praktis, tetapi juga menyentuh sisi emosional. Bagi anak rantau, kehadiran anabul menjadi salah satu cara menciptakan rasa nyaman ketika jauh dari rumah.
Editor : Lugas Rumpakaadi