RADARBANYUWANGI.ID - Kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat terus meningkat. Salah satu aktivitas fisik yang semakin diminati adalah olahraga lari. Tidak hanya lari santai atau jogging konvensional, kini muncul tren slow jogging yang berkembang di berbagai negara, termasuk Korea Selatan, dan mulai menarik perhatian masyarakat karena dinilai lebih ramah bagi semua kalangan.
Berbeda dengan lari pada umumnya yang identik dengan kecepatan, slow jogging dilakukan dengan tempo sangat pelan, bahkan hampir setara dengan kecepatan berjalan santai. Meski demikian, metode ini tetap memberikan manfaat kesehatan yang signifikan apabila dilakukan secara rutin dan dengan teknik yang benar.
Fenomena slow jogging semakin populer setelah banyak video kegiatan olahraga bersama beredar di media sosial. Kelompok masyarakat dari berbagai usia, mulai anak muda, ibu rumah tangga hingga lansia, tampak berlari perlahan sambil tetap mampu bercakap-cakap tanpa kelelahan berlebihan.
Metode tersebut sebenarnya telah dikembangkan sejak puluhan tahun lalu oleh mendiang Prof. Hiroaki Tanaka dari Universitas Fukuoka, Jepang. Setelah diperkenalkan secara luas melalui media di Jepang, teknik ini kemudian berkembang di Korea Selatan dan kini mulai dikenal di berbagai negara sebagai alternatif olahraga yang aman sekaligus mudah dilakukan.
Slow jogging merupakan olahraga aerobik yang mengombinasikan gerakan lari dengan intensitas rendah. Kecepatan yang digunakan umumnya berkisar 3–5 kilometer per jam sehingga berada di antara jalan cepat dan jogging biasa. Karena intensitasnya ringan, olahraga ini dapat dilakukan oleh pemula, lansia, maupun individu dengan berat badan berlebih.
Teknik menjadi salah satu pembeda utama. Pelari dianjurkan menggunakan langkah pendek dengan frekuensi sekitar 180 langkah per menit serta mendarat menggunakan bagian depan hingga tengah telapak kaki, bukan tumit. Cara tersebut membantu mengurangi tekanan pada lutut, pinggul, dan punggung sehingga risiko cedera menjadi lebih rendah dibandingkan lari konvensional.
Berbagai penelitian menunjukkan olahraga aerobik seperti jogging maupun slow jogging yang dilakukan selama 20–30 menit sebanyak tiga hingga lima kali dalam sepekan mampu memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Aktivitas tersebut membantu menjaga fungsi jantung dan paru-paru, meningkatkan sirkulasi darah, mengontrol tekanan darah, memperkuat otot dan tulang, serta mendukung pengelolaan berat badan.
Selain itu, slow jogging juga meningkatkan metabolisme tubuh sehingga pembakaran kalori berlangsung lebih optimal. Meski dilakukan dengan santai, kebutuhan energi saat slow jogging lebih tinggi dibandingkan berjalan kaki karena melibatkan lebih banyak kerja otot pada tubuh bagian bawah.
Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah mendukung kesehatan metabolik. Olahraga ini diketahui membantu mengendalikan kadar gula darah, meningkatkan kolesterol baik (HDL), serta menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung apabila dijadikan bagian dari gaya hidup aktif.
Dari sisi kesehatan mental, slow jogging juga memberikan dampak positif. Aktivitas fisik memicu pelepasan hormon endorfin yang membantu mengurangi stres, kecemasan, sekaligus memperbaiki suasana hati. Tak sedikit masyarakat memilih jogging pada pagi atau sore hari sebagai sarana menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
Bagi masyarakat yang baru ingin memulai, latihan tidak perlu dilakukan dengan durasi panjang. Awali dengan berjalan kaki selama sekitar lima menit sebagai pemanasan, kemudian lanjutkan slow jogging selama 15–20 menit sesuai kemampuan. Seiring meningkatnya kebugaran tubuh, durasi maupun jarak tempuh dapat ditambah secara bertahap agar tubuh mampu beradaptasi.
Agar manfaat olahraga semakin optimal, penggunaan sepatu olahraga yang nyaman juga perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko cedera. Kenakan pakaian yang mudah menyerap keringat, cukupi kebutuhan cairan sebelum dan sesudah berolahraga, serta akhiri latihan dengan pendinginan dan peregangan guna membantu otot kembali rileks.
Meski menawarkan banyak manfaat, para ahli mengingatkan bahwa slow jogging sebaiknya tidak menjadi satu-satunya bentuk latihan. Untuk menjaga massa otot, terutama pada usia lanjut, olahraga ini tetap perlu dipadukan dengan latihan kekuatan seperti squat, push-up, maupun latihan beban setidaknya dua kali dalam sepekan.
Masyarakat yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, baru menjalani operasi, mengalami cedera sendi, atau merasakan nyeri saat berolahraga juga disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum memulai program latihan.
Di tengah meningkatnya gaya hidup sedentari akibat aktivitas yang banyak dilakukan dengan duduk, slow jogging menjadi salah satu solusi sederhana untuk meningkatkan aktivitas fisik tanpa membutuhkan perlengkapan mahal maupun tempat khusus. Kunci utamanya adalah menjaga konsistensi berolahraga sesuai kemampuan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Editor : Lugas Rumpakaadi