Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketika Foto Tak Lagi Harus Sempurna, Digicam Lawas dan Estetika Retro Menjadi Identitas Baru Generasi Muda

Meivira Choirotul Aqila • Jumat, 10 Juli 2026 | 18:20 WIB
Di tengah kamera smartphone berteknologi tinggi, anak muda justru kembali menggemari digicam lawas dan foto bergaya vintage. (Pexels/indra projects)
Di tengah kamera smartphone berteknologi tinggi, anak muda justru kembali menggemari digicam lawas dan foto bergaya vintage. (Pexels/indra projects)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah perkembangan teknologi kamera smartphone yang menawarkan resolusi tinggi dan kemampuan pemrosesan gambar berbasis kecerdasan buatan, muncul fenomena menarik di kalangan generasi muda.

Alih-alih mengandalkan kamera ponsel terbaru, banyak anak muda justru memilih menggunakan kamera digital saku lawas atau digicam keluaran awal 2000-an untuk mengabadikan momen.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin seringnya kamera digital lawas menghiasi berbagai aktivitas anak muda, mulai dari nongkrong, konser musik, hingga perjalanan wisata.

Selain itu, penggunaan efek flash yang kuat dengan nuansa ala kamera Polaroid juga kembali menjadi tren di berbagai platform media sosial.

Daya tarik utama bukan terletak pada kualitas gambar yang tajam, melainkan karakter visual yang dihasilkan.

Foto dengan warna hangat, sedikit buram, pencahayaan yang tidak sempurna, hingga tekstur kulit yang tampil apa adanya justru dinilai memiliki kesan emosional dan lebih hidup dibandingkan hasil foto modern yang telah diproses secara otomatis.

Bagi sebagian generasi muda, ketidaksempurnaan tersebut menghadirkan cerita tersendiri.

Hasil foto dianggap lebih natural karena tidak terlalu banyak dipoles oleh sistem pemrosesan gambar yang kini menjadi fitur standar pada kamera smartphone.

"Kalau foto pakai kamera HP zaman sekarang hasilnya sering terlalu bersih dan kadang kelihatan kaku karena otomatis diedit sama sistem. Tapi kalau pakai kamera tua atau efek flash malam hari, hasilnya lebih mentah, effortless, dan kerasa banget memorinya. Kita nyari vibe nostalgianya yang enggak bisa dibikin-bikin," ujar pegiat fotografi jalanan muda, Rian Utama, saat ditemui Sabtu sore.

Meningkatnya minat terhadap fotografi bergaya retro juga melahirkan subkultur baru di media sosial.

Berbagai konten yang membahas ulasan kamera digital lawas, rekomendasi digicam, hingga tips menghasilkan foto bernuansa vintage mampu menarik perhatian jutaan pengguna.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat generasi muda meninggalkan cara-cara lama.

Sebaliknya, di tengah derasnya inovasi digital, muncul kecenderungan untuk kembali menikmati estetika yang sederhana dan tidak sempurna sebagai bentuk ekspresi kreatif.

Bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, menghadirkan nuansa nostalgia melalui kamera lawas bukan sekadar mengikuti tren.

Pilihan tersebut menjadi cara untuk mendefinisikan kembali makna sebuah karya visual, yakni menghadirkan foto yang tidak hanya indah secara teknis, tetapi juga menyimpan emosi, kenangan, dan karakter yang sulit ditiru oleh teknologi modern.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#tren digicam lawas #foto vintage #fotografi retro #generasi muda #tren media sosial