Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Makin Langka! Hilangnya Kunang-Kunang Jadi Sinyal Keras Kerusakan Lingkungan

Titin Wulandari • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:00 WIB
JARANG TERLIHAT : Kunang-kunang kian langka pertanda kualitas lingkungan semakin menurun.(Foto:Canva)
JARANG TERLIHAT : Kunang-kunang kian langka pertanda kualitas lingkungan semakin menurun.(Foto:Canva)

Radarbanyuwangi.id - Keberadaan Firefly atau kunang-kunang kini semakin jarang terlihat di berbagai wilayah, terutama di kawasan perkotaan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan biasa, melainkan menjadi sinyal penting bahwa kualitas lingkungan sedang mengalami penurunan.

Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi dari IPB University, serangga bercahaya ini memiliki peran penting sebagai bioindikator alami untuk mengukur kesehatan ekosistem.

Artinya, keberadaan kunang-kunang dapat menjadi penanda apakah lingkungan masih sehat dan layak dihuni oleh berbagai makhluk hidup.

Penurunan populasi kunang-kunang ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Fenomena serupa juga menjadi perhatian dunia karena terjadi di berbagai negara.

Baca Juga: Bikin Merinding! Trailer Film The Death Of Robin Hood Suguhkan Robin Hood Versi Tergelap

Data dari International Union for Conservation of Nature atau IUCN menunjukkan bahwa sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi kini berada dalam status terancam.

Beberapa di antaranya bahkan termasuk spesies kunang-kunang khas kawasan mangrove Asia Tenggara yang kini menghadapi ancaman serius.

Penurunan ini menjadi alarm global mengenai kondisi ekosistem yang terus mengalami tekanan. Salah satu faktor terbesar yang memicu menurunnya populasi kunang-kunang adalah kerusakan habitat.

Alih fungsi lahan basah, persawahan, dan kawasan hijau menjadi permukiman maupun kawasan industri telah mengurangi habitat alami kunang-kunang secara drastis.

Padahal, serangga ini sangat bergantung pada lingkungan yang lembap, alami, dan minim gangguan. Ketika habitat aslinya hilang, kemampuan mereka untuk berkembang biak dan bertahan hidup ikut terancam.

Selain kerusakan habitat, polusi cahaya juga menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan hidup kunang-kunang.

Lampu LED yang terang di kawasan urban diketahui mengganggu sinyal cahaya alami yang digunakan kunang-kunang untuk menarik pasangan.

Cahaya khas yang mereka pancarkan sejatinya merupakan bagian penting dalam proses komunikasi dan reproduksi. Ketika sinyal ini terganggu oleh pencahayaan buatan, peluang kunang-kunang untuk kawin dan berkembang biak pun menurun drastis.

Ancaman terhadap populasi kunang-kunang tidak berhenti di situ. Penggunaan insektisida kimia secara berlebihan turut mempercepat penurunan jumlah serangga bercahaya ini. Zat kimia dari pestisida dapat merusak siklus hidup kunang-kunang, baik pada fase larva maupun dewasa.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 24 Juni 2026, Taurus Ketiban Rezeki, Scorpio Wajib Waspada Pengkhianatan

Selain itu, perubahan iklim dan urbanisasi masif juga memperburuk kondisi ekosistem mereka. Kunang-kunang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan tanah, suhu lingkungan, hingga tingkat pencemaran. Sedikit saja perubahan pada ekosistem, dampaknya bisa sangat besar terhadap kelangsungan hidup mereka.

Para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan demi menjaga populasi kunang-kunang tetap bertahan.

Menjaga habitat lembap, mengurangi penggunaan lampu berlebihan pada malam hari, serta membatasi penggunaan bahan kimia berbahaya menjadi langkah sederhana namun penting.

Keberadaan Firefly bukan hanya menghadirkan pemandangan indah di malam hari, tetapi juga menjadi indikator alami kesehatan lingkungan.

Jika kunang-kunang terus menghilang, itu bisa menjadi peringatan serius bahwa ekosistem kita sedang menghadapi ancaman besar.(*)

Editor : Titin Wulandari
#kunang-kunang langka #polusi cahaya #bioindikator lingkungan