Radarbanyuwangi.id - Dalam tradisi budaya Jawa, bukan hanya sekadar kitab perhitungan hari baik atau ramalan kehidupan, tetapi juga memuat berbagai istilah simbolik yang dipercaya menggambarkan karakter, nasib, hingga makna hubungan dalam keluarga, termasuk jumlah saudara.
Beberapa istilah unik dalam primbon bahkan jarang diketahui masyarakat modern, namun masih dipercaya oleh sebagian kalangan sebagai bagian dari kearifan lokal yang sarat makna filosofis. Berikut penjelasan lengkap mengenai istilah dalam primbon Jawa yang berkaitan dengan makna jumlah saudara.
1. Gotong Mayit (Anak 3 Perempuan Semua)
Istilah ini menggambarkan kondisi saudara yang dianggap memiliki beban hidup berat dan harus saling membantu dalam situasi sulit. Secara filosofi, gotong mayit melambangkan solidaritas tinggi antar saudara ketika menghadapi ujian kehidupan.
Baca Juga: Update Ramalan Shio 24 April 2026 Peruntungan Berubah Cepat! 3 Shio Ini Mendadak Banjir Rezeki
2. Saramba (Anak 4 Laki-laki Semua)
Saramba dipercaya menggambarkan hubungan saudara yang kuat namun sering diwarnai perbedaan pendapat. Meski demikian, hubungan ini tetap terikat oleh rasa tanggung jawab keluarga yang tinggi.
3. Padangan ( Anak 5 Perempuan Satu)
Padangan dalam primbon diartikan sebagai kondisi saudara yang saling mendukung dan memiliki pandangan hidup yang selaras, sehingga hubungan keluarga cenderung harmonis.
4. Pandawa Nyandangi (Anak 6, Laki-Laki 5 dan 1 Perempuan Bungsu)
Istilah ini merujuk pada gambaran saudara yang saling melindungi dan membantu satu sama lain, seperti filosofi lima Pandawa dalam kisah pewayangan yang dikenal setia dan kompak.
5. Gilir Kacang (Anak Banyak Lahir giliran Laki-Laki dan Perempuan)
Gilir kacang menggambarkan kondisi saudara yang hidupnya bergantian dalam mengalami keberuntungan dan kesulitan. Ada masa di atas dan ada masa di bawah secara bergiliran.
6. Gendhong (Banyak Anak Prempuannya)
Dendhong dipercaya melambangkan hubungan saudara yang kadang diwarnai konflik kecil, namun tidak sampai merusak ikatan kekeluargaan.
Baca Juga: Terungkap! Kasus Mutilasi Ritual Ilmu Hitam Paling Kelam Jejak Darah dan Syarat Gaib
7. Cukil Dulit ( Anak 3 Laki-Laki Semua)
Istilah ini menggambarkan saudara yang hidupnya penuh perjuangan keras sejak kecil, namun memiliki potensi besar untuk sukses di kemudian hari.
8. Sarimbi ( Anak 4 Perempuan Semua)
Sarimbi diartikan sebagai kondisi saudara yang hidupnya saling melengkapi, meski memiliki karakter yang berbeda-beda dalam satu keluarga.
9. Sepasar (Anak 5 Laki-Laki dan Perempuan)
Sepasar menggambarkan hubungan saudara yang sangat dekat dan tidak terpisahkan, seperti pasar yang selalu ramai dan saling berkaitan satu sama lain.
10. Ipil-ipil ( Anak 5 Laki-Laki Satu)
Ipil-ipil dalam primbon Jawa melambangkan saudara yang memiliki sifat mandiri dan tidak terlalu bergantung satu sama lain, namun tetap memiliki ikatan keluarga yang kuat.
11. Kembar Gantung (Anak Kembar Lahirnya Beda Satu Hari)
Istilah ini merujuk pada saudara yang lahir berdekatan atau memiliki hubungan sangat erat, sehingga dianggap memiliki takdir yang saling berkaitan.
Baca Juga: Update Ramalan Shio 24 April 2026 Peruntungan Berubah Cepat! 3 Shio Ini Mendadak Banjir Rezeki
12. Lumpat Kidang (Anak Banyak Lahir Tidak Bergiliran)
Lumpat kidang menggambarkan saudara yang memiliki kehidupan dinamis, cepat berubah, dan sering berpindah-pindah dalam perjalanan hidupnya.
13. Pandawa/Pancawa Lima Bersaudara)
Dalam primbon Jawa, istilah Pandawa atau Pancawa merujuk pada kondisi keluarga dengan lima bersaudara. Istilah ini terinspirasi dari kisah pewayangan Pandawa Lima yang sangat terkenal dalam budaya Jawa.
14. Anak Tunggal (Satu-Satunya Anak dalam Keluarga)
Sementara itu, dalam tafsir primbon, anak tunggal diartikan sebagai seseorang yang menjadi satu-satunya anak dalam keluarga tanpa saudara kandung.
Seluruh istilah tersebut menunjukkan bahwa dalam Primbon Jawa, hubungan saudara tidak hanya dipandang secara biologis, tetapi juga secara simbolik dan filosofis.
Meski tidak dapat dijadikan patokan ilmiah, primbon tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa yang mengajarkan nilai kebersamaan, keseimbangan, dan makna mendalam dalam kehidupan keluarga.
Warisan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki cara pandang unik dalam memahami hubungan antar manusia dan perjalanan hidup.(*)
Editor : Titin Wulandari