RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena unik terjadi dalam beberapa aksi protes dunia belakangan ini. Di berbagai negara, dari Indonesia, Nepal, hingga beberapa kawasan Eropa, bendera bajak laut dari anime One Piece berkibar di tengah kerumunan demonstran.
Simbol berupa tengkorak dengan topi jerami itu seolah menjadi ikon baru generasi muda untuk menyuarakan keresahan terhadap pemerintah maupun isu sosial yang mereka hadapi.
Di Indonesia, misalnya, pada Agustus 2025 menjelang perayaan kemerdekaan ke-80, sejumlah kelompok memanfaatkan bendera One Piece dalam aksi protes terkait isu transportasi, pengangguran, hingga korupsi.
Bendera itu dianggap sebagai lambang perlawanan terhadap tirani dan sistem yang dianggap tidak adil.
Fenomena serupa juga terlihat di Nepal pada September 2025, ketika generasi muda turun ke jalan memprotes larangan media sosial dan praktik korupsi.
Mereka menjadikan simbol bajak laut One Piece sebagai lambang perlawanan, harapan, sekaligus identitas.
Bahkan di negara lain seperti Prancis dan Filipina, bendera yang sama muncul dalam berbagai aksi massa sebagai tanda ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Fenomena ini menarik untuk dikaitkan dengan sebuah teori yang belakangan ramai dibicarakan di Indonesia.
Ustadz Felix Siauw, dalam salah satu podcast, menyampaikan pandangannya bahwa One Piece bisa dimaknai lebih dalam jika dilihat dari kacamata agama.
“One Piece itu seolah-olah ngasih tahu ada satu yang lebih penting dari semua hal yang benar-benar ditakuti oleh orang-orang jahat dan diharapkan oleh orang baik yaitu kebenaran informasi," katanya.
Dari pernyataan tersebut, muncul sebuah teori menarik: bahwa harta karun One Piece dapat diparalelkan dengan Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran.
"Nah Al-Qur’an ini adalah sumber kebenaran dari semua informasi kehidupan di dunia dan setelahnya," kata dia.
Dalam cerita anime, para bajak laut Straw Hat dipimpin Luffy rela dimusuhi penguasa dunia demi mengejar harta yang diyakini bisa mengubah sejarah.
Hal ini, menurut Felix, selaras dengan kondisi nyata di mana orang-orang yang berusaha menyuarakan kebenaran seringkali dibungkam, dilawan, bahkan dihalangi oleh sistem yang mapan.
"Ada hero di One Piece yang diceritakan sebagai kelompok yang berusaha mengejar harta karun dunia yaitu One Piece dan dalam perjuangannya mereka dimusuhi oleh para penguasa. Itu related dengan kondisi nyata saat ini, orang yang berusaha mengejar kebenaran akan dihalangi,” kata Felix.
Maka tak heran bila bendera One Piece kini digunakan sebagai simbol oleh para demonstran di berbagai belahan dunia.
Mereka mungkin tidak sadar dengan makna yang lebih dalam, tetapi simbol itu mencerminkan aspirasi universal: melawan penindasan dan mencari kebenaran.
Namun, teori ini tetap perlu disikapi dengan hati-hati. Secara faktual, pencipta One Piece, Eiichiro Oda, tidak pernah menyatakan bahwa Al-Qur’an atau kitab agama manapun menjadi inspirasinya.
Oda lebih banyak terinspirasi dari kisah bajak laut, sejarah samudera, serta budaya Jepang. Dengan demikian, keterkaitan dengan Al-Qur’an lebih tepat disebut sebagai analogi dakwah, bukan klaim literal.
Meski begitu, kesamaan nilai antara kisah fiksi One Piece dan prinsip universal dalam Al-Qur’an seperti keadilan, persaudaraan, dan keberanian menegakkan kebenaran, membuat teori ini relevan bagi pembaca muda.
Pada akhirnya, bendera One Piece yang berkibar dalam demo global bisa dimaknai sebagai simbol perlawanan generasi baru terhadap ketidakadilan, sekaligus sebagai pengingat bahwa nilai kejujuran dan kebenaran tetap menjadi harta terbesar.
Teori Ustadz Felix membuka ruang tafsir baru: meski One Piece hanyalah fiksi, ia bisa dijadikan jembatan untuk mendekatkan anak muda pada pesan Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran sejati.
Editor : Agung Sedana