RADARBANYUWANGI.ID – Kalimat yang sering diungkapkan oleh orangtua Jawa, berbunyi “Awas lek maem e ora telas, pitik e mati.” dan “Sekul e nangis lek mboten di maem.”.
Dua kalimat ini sering diucapkan oleh orang tua pada masyarakat Jawa apalagi daerah pedesaan yang masih kental dengan budayanya.
Awas lek maem e ora telas, pitik e mati, memiliki arti hati-hati kalau makan tidak dihabiskan, ayamnya meninggal, jika sekul e nangis lek mboten di maem berarti nasinya nangis loh kalau tidak dimakan.
Mempunyai arti yang sama, namun apakah hal ini benar-benar terjadi? Yuk, simak kebenarannya di bawah ini.
Apa arti yang sebenarnya?
- Berniat agar Anak Bersyukur
Kedua kalimat ini seringkali digunakan orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak bagaimana cara menghargai makanan dan mensyukuri rejeki.
- Menghargai Makanan
Cara ini juga berkaitan dengan sisa makanan dan Nasib ayam peliharaannya. Harapannya agar anak tidak menyisakan dan berakhir membuang makanan sembarangan.
- Harga Jual Ayam
Di kehidupan masa lampau, ayam mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dan mahal di pedesaan Masyarakat Jawa. Dapat dikonsumsi, dijual, bahkan ditukarkan dengan bahan atau benda lain.
Padahal jika dipikir secara logika, ayam malah akan senang jika mendapatkan makanan dari sang majikan. Sisa makanan yang tidak habis akan diberikan pada hewan peliharaan agar tidak mubazir.
Jika dipakai di era orang tua masa kini mungkin car aini sudah tidak produktif. Bisa menggunakan cara dengan menjelaskan proses produksi nasi mulai dari penanaman hingga panen.
Jadi anak akan tahu perjuangan petani dan bagaimana susahnya dalam mengelola padi sampai bisa menjadi makanan pokok yang setiap hari ia makan.
Editor : Agung Sedana