RadarBanyuwangi.id - Banyuwangi dikenal punya kekayaan alam yang melimpah. Tanahnya cocok untuk habitat tanaman pohon-pohon unik. Salah satunya adalah buah kepel (Stelechocarpus burahol).
Pohon kepel bisa tumbuh subur hingga setinggi 20 meter dan biasanya memasuki bulan Mei, sejumlah pohon kepel di Banyuwangi mulai berbunga. Namun demikian, masyarakat Banyuwangi masih sangat kesusahan untuk mencari atau membeli buah kepel di pasaran. Ini karena, tak banyak pohon tersebut yang tumbuh di Banyuwangi.
Selain itu, pengepul biasanya memborong buah Kepel langsung dari pohonnya untuk dijual di luar daerah. Namun, rupanya pohon Kepel ini tumbuh subur di kaki Gunung Raung. Tepatnya di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. “Pohon ini memang dikenal langka, saat ini kalau tidak di (desa) Jambewangi, akan susah menemukan,” kata Kepala Desa jambewangi, Maskur.
Malah, Kades Maskur menyebut, jika pohon ini hanya ada di Jambewangi saja, tepatnya di Dusun Panjen. Kalaupun ada tanaman kepel di desa lain, menurutnya ada kemungkinan jika pemilik pohon tersebut memiliki kerabat di Dusun Panjen. “Kemungkinannya seperti itu. Meski tidak ada survei resmi, tapi di kenyataannya, pohon ini susah ditemui di daerah lain,” tandasnya.
Selain di hutan setempat, pohon ini tumbuh dan berbuah di pekarangan warga. Sarmijan, 40, salah satu warga Dusun Panjen, Desa Jambewangi, memiliki dua pohon Kepel yang tumbuh dan rutin berbuah di halaman rumahnya. Selama ini, dia mengaku tidak pernah menjual hasil panen buah Kepel miliknya di pasar. Sebelum tiba masa panen, seluruh buah dari pohon kepel miliknya sudah terjual. “Sudah ditebas semua buahnya pak. Sudah diberi DP (uang muka) juga sama orangnya. Katanya sih dikirim ke Bali,” katanya.
Menurut Sarmijan, dari dua pohon miliknya setiap panennya bisa menghasilkan antara 80 - 150 kilogram Kepel. Di pasaran sendiri, buah kepel dijual bervariasi antara mulai kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Tergantung kualitas buah dan harga ini berangsur turun saat musim panen raya tiba.
Sedangkan usia pohon kepel di halamannya tersebut, Sarmijan tidak tahu pasti berapa tahun. Akan tetapi, dia menyebut jika pohon tersebut sudah ada sebelum almarhum orang tuanya lahir. “Bapak saya kelahiran tahun 1960. Bapak bilang, sejak dia kecil pohon ini sudah ada dan sudah besar,” jelasnya. (sas/bay)
Editor : Lugas Rumpakaadi