RadarBanyuwangi.id – Saudi Arabia punya kuffiyah sebagai penutup kepala, masyarakat Jawa dan Bali memiliki udeng.
Selain berfungsi sebagai penutup kepala, udeng juga sering digunakan sebagai simbol identitas tertentu.
Masyarakat Jawa, Bali, dan Sunda, menyebut ikat kepala ini dengan nama yang berlainan. Udeng merupakan sebutan yang umum digunakan orang Bali.
Sementara sebagian masyarakat Jawa menyebutnya ”iket”, sedangkan orang Sunda menamainya ”totopong”.
Kendati berbentuk mirip, yakni merujuk pada penutup kepala dari kain bagi laki-laki, udeng masing-masing daerah di Jawa dan Bali memiliki bentuk dan motif yang berbeda. Tak terkecuali udeng khas Banyuwangi.
Masyarakat suku Oseng Banyuwangi tak hanya menjadikan udeng sebagai penutup kepala. Namun, udeng juga menjadi perlengkapan wajib saat menggelar ritus bagi laki-laki. Bentuk persegi pada kain udeng memiliki inti atau pusat.
Dalam filosofi Jawa, hal ini dipahami sebagai ekspresi keyakinan masyarakat tentang pandangan hidup.
Adapun tata cara penggunaan udeng Oseng secara umum dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah udeng tongkosan.
Udeng jenis ini menutupi seluruh kepala dengan dua segitiga di sisi kanan dan kirinya. Sementara, jenis kedua adalah udeng sampatan.
Udeng yang ini terbuka di bagian atas dengan segitiga di bagian belakangnya.
”Udeng tongkosan ini resmi dan digunakan saat ada acara formal dan ritual. Sedangkan udeng sampatan itu lebih santai, biasanya digunakan oleh para penari dan pemain musik,” ujar Haidi Bing Slamet, 39, seniman musik daerah yang tinggal di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Konon, setiap udeng memiliki aura yang mampu membuat seseorang merasa lebih percaya diri.
”Orang yang mengenakan udeng dengan yang tidak memakai terlihat beda, auranya beda. Orang yang pakai udeng biasanya terlihat lebih percaya diri,” jelas lelaki yang akrab disapa Edi ini.
Masyarakat adat sebagian besar mengenakan udeng secara manual. Namun seiring perkembangan zaman, udeng mulai banyak dipakai oleh pegawai pemerintahan.
Karena itu, Edi mulai membaca peluang dengan menciptakan udeng semi-manual siap pakai agar lebih mudah dikenakan masyarakat.
Sejak tahun 2016, Edi mulai menciptakan udeng khas Banyuwangi yang siap pakai.
Meski sudah dijahit, jika dilihat sepintas tampak seperti udeng yang dipasang secara manual yang tak terlihat bagian jahitannya.
”Butuh waktu untuk bisa menciptakan udeng tongkosan yang kini sudah banyak dijual di pasaran,” terangnya.
Ide pembuatan udeng tongkosan mirip manual yang siap pakai tersebut bermula dari banyaknya masyarakat yang mengenakan udeng tongkosan dalam sejumlah event Banyuwangi Festival dan upacara adat.
Hanya, saat kali pertama muncul udeng tongkosan tersebut masih tampak kaku.
Segitiga pada sisi sebelah kanan dan kiri tidak terlihat alami. Terlihat jelas produk hasil jahitan dengan menggunakan koloran di bagian belakang.
”Biasanya yang menggunakan koloran atau produksi udeng jahit ini digunakan untuk seragam anak sekolah,” jelas Edi.
Kini udeng tongkosan khas Banyuwangi yang mirip manual tersebut sudah banyak beredar di pasaran. Harganya bervariasi mulai Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu. Tergantung jenis material kain yang dikenakan.
Udeng tongkosan saat ini juga sering dijadikan cenderamata bagi tamu resmi di Banyuwangi. Setiap tamu laki-laki yang datang diberikan udeng tongkosan sebagai bentuk kehormatan.
”Kalau udeng yang bagian kepalanya tertutup kain, namanya tongkosan. Tetapi kalau bagian atas kepala terbuka, disebut udeng sampatan seperti yang dikenakan penabuh panjak atau gamelan,” jelas Edi. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin