Lontong Balungan Kropak Pati: Kuah Lodeh Medhok dan Tulang Sapi yang Bikin Ketagihan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Lontong balungan khas Desa Kropak, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. (ANDRE /RADAR PATI)
Lontong balungan khas Desa Kropak, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. (ANDRE /RADAR PATI)

RADAR BANYUWANGI – Tak perlu restoran mewah untuk menemukan kuliner yang membekas di lidah. Di Desa Kropak, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, lontong balungan justru menjadi buruan karena perpaduan lontong lembut, balungan sapi empuk, dan kuah lodeh santan yang medhok. Salah satu yang paling dikenal adalah racikan Mbah Rum, dengan harga sekitar Rp25 ribu per porsi.

Kuliner tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Pati maupun pemburu kuliner dari luar daerah. Meski Desa Kropak berjarak sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Pati dan tidak berada di jalur utama, warung-warung lontong balungan tetap ramai didatangi pelanggan.

Balungan Sapi Jadi Bintang Utama

Sekilas, lontong balungan mungkin terlihat seperti hidangan sederhana. Namun, daya tariknya justru berada pada bagian yang sering dianggap sisa: tulang sapi.

Dalam seporsi lontong balungan khas Kropak, potongan lontong yang dibungkus daun pisang disandingkan dengan balungan sapi berukuran besar yang masih menyisakan daging.

Balungan tersebut dimasak dalam waktu lama hingga teksturnya empuk. Daging yang menempel pada tulang pun mudah dilepaskan dan disantap bersama lontong.

Tak berhenti di balungan, pelanggan juga bisa menikmati sejumlah pelengkap, seperti babat, kikil, telur, dan tahu.

Semua isian kemudian diguyur kuah lodeh berbahan santan yang menjadi ciri khas racikan Mbah Rum.

Kuahnya gurih, medhok, kaya rempah, dengan sentuhan rasa pedas yang membuat setiap suapan terasa semakin kuat.

“Sensasinya beda, kuahnya gurih dan balungannya empuk,” ujar Sindung, salah satu penikmat lontong balungan.

Tempe Krispi Jadi Pelengkap

Ada satu lagi pelengkap yang membuat pengalaman menyantap lontong balungan semakin lengkap, yakni tempe krispi khas buatan Mbah Rum.

Teksturnya yang renyah menjadi kontras dengan lontong yang lembut, balungan yang empuk, serta kuah lodeh yang pekat.

Kombinasi tersebut membuat lontong balungan tidak sekadar mengenyangkan. Sajian ini juga menawarkan karakter masakan rumahan yang kuat dan identik dengan cita rasa tradisional Pati.

Tak heran, menu tersebut kerap dipilih sebagai santapan makan siang oleh warga sekitar maupun pengunjung yang sengaja datang untuk mencicipinya.

Harga Rp25 Ribu, Warung Terus Bermunculan

Salah satu alasan lontong balungan Kropak mudah diterima berbagai kalangan adalah harganya yang relatif terjangkau.

Untuk seporsi lontong balungan lengkap, pengunjung cukup menyiapkan sekitar Rp25 ribu.

Popularitasnya pun ikut mendorong munculnya warung-warung yang menjual menu serupa. Saat ini, terdapat sekitar 10 warung lontong balungan di Desa Kropak.

Masing-masing memiliki racikan dan karakter rasa sendiri. Namun, bagi pelanggan lama, lontong balungan racikan Mbah Rum tetap memiliki tempat khusus karena dianggap sebagai salah satu pelopor kuliner tersebut di Desa Kropak.

Keberadaan kuliner ini sekaligus menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak selalu membutuhkan tempat megah untuk menjadi tujuan wisata kuliner. Dari warung sederhana di sebuah desa, lontong balungan Kropak mampu menarik perhatian pencinta kuliner lewat satu kekuatan utama: kuah lodeh yang medhok dan balungan sapi yang empuk hingga ke daging-daging yang menempel di tulang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Pati
lontong balungan kuliner Pati Kropak Winong lontong Pati Mbah Rum