Pecel Legendaris di Sempu Banyuwangi Ini Bertahan 56 Tahun, Resep Tak Bergeser

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:00 WIB
EKSTRA PEDAS: Tampilan nasi pecel di Warung Bu Maolan yang ada di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
EKSTRA PEDAS: Tampilan nasi pecel di Warung Bu Maolan yang ada di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Pedasnya menusuk, sambal kacangnya gurih tanpa rasa manis, porsinya melimpah, dan resepnya disebut tak berubah sejak 1970. Itulah yang membuat Warung Bu Maolan di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang nostalgia bagi pelanggan lintas generasi.

Warung sederhana yang berada di kawasan Gendoh tersebut hingga kini masih mempertahankan racikan pecel lawas. Di tengah menjamurnya kuliner dengan berbagai inovasi rasa, Warung Bu Maolan justru memilih bertahan dengan resep yang diwariskan sejak lebih dari lima dekade lalu.

Bagi pencinta kuliner di Sempu dan sekitarnya, nama Warung Bu Maolan bukan sesuatu yang asing. Kepulan asap dari dapur menjadi penanda aktivitas warung yang menyajikan aneka lauk tradisional sejak pagi.

Di balik cita rasa tersebut, ada Sri, 50, salah satu pengelola warung yang ikut menjaga konsistensi resep. Baginya, mempertahankan rasa asli jauh lebih penting daripada mengikuti perubahan selera pasar.

“Kuncinya ada di konsistensi bumbu dan cara pengolahan,” ujar Sri sembari menyiapkan pesanan.

Sambal Pecel Pedas, Tak Dibuat Manis

Salah satu ciri paling kuat dari pecel Bu Maolan terletak pada sambal kacangnya. Jika sambal pecel di sejumlah daerah cenderung memiliki rasa manis, racikan di warung tersebut justru menonjolkan rasa gurih dan pedas.

Karakter pedas itulah yang selama puluhan tahun menjadi identitas Warung Bu Maolan. Resepnya dipertahankan dengan takaran yang sama, termasuk ketika harga bahan baku mengalami kenaikan.

VARIATIF: Pengelola warung Bu Maolan yang ada di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu menyiapkan pesanan milik salab satu pengunjung, Jumat (21/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
VARIATIF: Pengelola warung Bu Maolan yang ada di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu menyiapkan pesanan milik salab satu pengunjung, Jumat (21/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

“Dari zaman dulu, resepnya ya begini. Kacang digoreng dengan tingkat kematangan pas, cabainya segar, dan tidak boleh dikurangi porsinya sedikit pun walau harga cabai sedang melonjak,” tegasnya.

Bagi pengelola, perubahan harga bahan bukan alasan untuk mengubah karakter sambal. Konsistensi rasa justru menjadi cara mempertahankan pelanggan lama sekaligus mengenalkan cita rasa pecel tradisional kepada generasi baru.

Porsi 'Kuli' dari Pasar Gendoh

Bukan hanya sambalnya yang menjadi pembeda. Warung Bu Maolan juga dikenal dengan porsi makanannya yang melimpah.

Kebiasaan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Sejak dahulu, warung ini menjadi tempat makan para pekerja kasar dan pedagang yang beraktivitas di Pasar Gendoh sejak pagi. Mereka membutuhkan makanan yang mengenyangkan sebelum kembali bekerja.

“Dari dulu porsinya memang dibuat banyak seperti ini,” terangnya.

Tradisi porsi besar itu kemudian terus dipertahankan hingga sekarang. Sebutan porsi 'kuli' pun seolah menggambarkan karakter makanan yang mengutamakan rasa kenyang tanpa meninggalkan cita rasa rumahan.

Pelengkap pecelnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Ada peyek kacang hijau dan peyek udang yang disajikan renyah. Gurihnya peyek berpadu dengan sambal kacang pedas menciptakan kombinasi yang membuat pelanggan kerap kembali.

“Dua pelengkap ini sering jadi alasan utama pengunjung rela datang lagi ke sini,” katanya.

Botok Tawon hingga Telur Ikan

Pilihan lauk di Warung Bu Maolan juga tidak berhenti pada menu yang umum ditemukan di warung pecel. Jejeran lauk pendamping menghadirkan sejumlah olahan tradisional yang kini semakin jarang ditemui.

Ada botok tawon dan botok kerang. Selain itu, pengunjung dapat memilih telur ikan, pindang goreng, ayam goreng empuk, hingga telur asin.

Keragaman lauk tersebut membuat satu porsi pecel dapat dinikmati dengan berbagai kombinasi. Aroma masakan rumahan pun semakin kuat ketika lauk-lauk tradisional itu tersaji memenuhi meja.

“Kalau yang biasa harganya mulai dari Rp 10 ribu, kalau lauknya beda harganya beda,” jelas Sri.

Rasa Puluhan Tahun yang Masih Sama

Resep yang bertahan lebih dari lima dekade ternyata bukan sekadar cerita pemilik warung. Bagi pelanggan lama, perubahan rasa justru menjadi sesuatu yang mudah dikenali.

Anas Sopi Abadi, 34, warga Desa/Kecamatan Singojuruh, salah satunya. Sejak kecil, dia telah mengenal Warung Bu Maolan. Beberapa waktu lalu, dia kembali mampir setelah melakukan perjalanan dari Jember.

Ingatan masa kecilnya seolah kembali ketika suapan pertama pecel masuk ke mulut.

“Dulu saya sering makan di sini. Ini tadi pas pulang dari Jember mampir, ternyata rasanya masih sama,” katanya.

Di tengah perubahan dunia kuliner yang bergerak cepat, Warung Bu Maolan memilih jalan berbeda. Resep tidak diubah, sambal tetap pedas, porsi tetap melimpah, dan lauk tradisional terus dipertahankan.

Lebih dari sekadar sepiring pecel, warung di Dusun Klontang itu kini menjadi semacam kapsul waktu kuliner—tempat pelanggan bisa menemukan kembali rasa yang pernah mereka kenal puluhan tahun lalu. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
pecel legendaris Warung Bu Maolan Pecel Sempu Sambal pecel. Kuliner Banyuwangi