Lodeh Koro Mak Tinah Wongsorejo Bikin Rindu, Pelanggan Rela Terbang dari Surabaya

Ramada Kusuma Atmaja • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 21:30 WIB
LEGEND: Pengunjung menikmati lodeh koro pedas (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
LEGEND: Pengunjung menikmati lodeh koro pedas (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Tidak banyak warung makan yang mampu membuat pelanggannya rela menempuh ratusan kilometer hanya demi semangkuk masakan. Namun itulah yang terjadi di Warung Mak Tinah di Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo. Setelah kembali buka pascapandemi, warung legendaris dengan menu andalan lodeh koro pedas itu kembali menjadi tujuan para pemburu kuliner, bahkan ada pelanggan yang terbang dari Surabaya demi membawa pulang 100 porsi untuk acara keluarga.

Kisah tersebut menjadi bukti bahwa resep warisan keluarga yang telah bertahan lebih dari tiga dekade masih memiliki tempat di hati para penikmat kuliner. Meski sempat vakum akibat pandemi Covid-19, cita rasa khas yang dahulu dikenal melalui Warung Lya tetap dipertahankan oleh generasi penerus di bawah nama baru, Warung Mak Tinah.

Salah satu cerita yang paling membekas datang dari pelanggan asal Surabaya. Ia sengaja terbang ke Banyuwangi untuk mengambil pesanan 100 porsi lodeh koro pedas yang akan disajikan dalam acara keluarga. Setelah seluruh pesanan siap, makanan tersebut langsung dibawa kembali ke Surabaya pada hari yang sama.

Cerita lain datang dari pelanggan asal Bogor. Selama bertahun-tahun mereka mengira warung legendaris itu telah benar-benar tutup setelah pandemi. Hingga suatu ketika, saat melintas di kawasan Bajulmati, mereka melihat papan bertuliskan "Lodeh Koro Pedas".

Lodeh koro pedas hanya bonus untuk mendampingi memu ayam goreng, paru goreng, udang goreng, dan lauk lainnya. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Lodeh koro pedas hanya bonus untuk mendampingi memu ayam goreng, paru goreng, udang goreng, dan lauk lainnya. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Rasa penasaran membuat mereka berhenti dan masuk ke warung. Kekhawatiran bahwa rasa masakan telah berubah langsung sirna setelah suapan pertama. Mereka menemukan cita rasa yang sama seperti yang pernah dinikmati bertahun-tahun sebelumnya.

Kesetiaan pelanggan juga terlihat sejak hari-hari awal Warung Mak Tinah kembali beroperasi. Pada hari kedua pembukaan, seorang anggota Polsek Wongsorejo datang untuk memastikan sendiri apakah rasa lodeh koro pedas masih sama seperti dulu.

Evayanti menunjukkan lodeh koro pedas yang siap disantap. Resep koro pedas diturunkan dari nenaknya, Mak Tinah. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Evayanti menunjukkan lodeh koro pedas yang siap disantap. Resep koro pedas diturunkan dari nenaknya, Mak Tinah. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Setelah mencicipinya, ia mengabarkan pengalaman tersebut kepada rekan-rekannya. Sejak saat itu, banyak anggota Polsek Wongsorejo rutin datang menikmati hidangan di Warung Mak Tinah sekaligus ikut memperkenalkan kembali kuliner legendaris tersebut kepada masyarakat.

Fenomena itu menunjukkan bahwa kekuatan sebuah usaha kuliner tidak hanya terletak pada menu yang disajikan, tetapi juga pada konsistensi menjaga kualitas rasa. Di tengah bermunculannya berbagai tren makanan baru, Warung Mak Tinah memilih mempertahankan resep asli yang diwariskan secara turun-temurun.

Warung yang berada di jalur nasional Banyuwangi–Bali itu kini kembali menjadi tempat singgah favorit para pelintas, wisatawan, hingga pelanggan lama yang datang dari berbagai daerah. Nama boleh berganti, tetapi karakter rasa yang dibangun sejak puluhan tahun lalu tetap dipertahankan.

Lebih dari sekadar tempat makan, Warung Mak Tinah menjadi simbol ketangguhan usaha keluarga yang mampu bangkit setelah diterpa pandemi. Di balik semangkuk lodeh koro pedas tersimpan kisah tentang warisan resep leluhur, kerja keras lintas generasi, dan kesetiaan pelanggan yang terus menjaga denyut hidup salah satu kuliner legendaris Banyuwangi. (ram/aif)

Editor : Ali Sodiqin
lodeh koro Warung Mak Tinah resep legendaris Kuliner Banyuwangi bajulmati