RADARBANYUWANGI.ID - Kalau dengar kata sushi, kebanyakan orang langsung terbayang potongan nasi kecil dengan ikan segar di atasnya. Makanan khas Jepang ini memang punya daya tarik tersendiri: simple, enak, tapi tetap elegan.
Tak heran kalau sushi sekarang bisa ditemuin hampir di mana aja, dari restoran mewah sampai kedai sederhana. Tapi ternyata, perjalanan sushi sampai jadi makanan populer dunia ini lumayan panjang dan menarik, lho!
Awalnya, sushi bukan makanan fancy kayak sekarang. Dulu, ikan diawetkan pakai nasi dan garam agar awet lebih lama, proses ini disebut narezushi.
Menariknya, nasi waktu itu malah nggak dimakan, cuma jadi “bungkus” buat fermentasi ikannya. Praktik ini diperkirakan datang dari Asia Tenggara dan Tiongkok, baru nyebar ke Jepang di era Yayoi.
Masuk periode Muromachi (1336–1573), sushi mulai berubah bentuk jadi namazushi atau namanare.
Bedanya, nasi kali ini ikut dimakan bareng ikannya, meski masih lewat proses fermentasi singkat. Lama-kelamaan, orang Jepang nemu cara lebih praktis: nasi dikasih cuka, jadi nggak perlu nunggu lama dan rasanya tetap segar.
Perubahan besar datang dari Hanaya Yohei (1799–1858). Dia bikin gaya nigirizushi, yaitu nasi kecil yang ditekan pakai tangan terus dikasih topping ikan di atasnya.
Konsep ini simpel, cepat, dan pas banget buat orang Edo (Tokyo zaman dulu) yang sibuk. Bisa dibilang, inilah cikal bakal sushi modern yang kita kenal sekarang.
Seiring waktu, bentuk sushi makin beragam. Ada nigiri, maki (roll), temaki (hand roll), chirashi-zushi (nasi dengan topping acak), oshizushi (sushi kotak ditekan), inarizushi (nasi dalam kantong tahu goreng), sampai gunkan-maki yang pakai nori buat menahan topping lembek. Jadi, pilihan sushi itu luas banget—nggak cuma ikan mentah doang.
Buat orang Jepang, sushi bukan sekadar makanan, tapi seni kuliner. Ada filosofi tentang kesegaran bahan, kerapian penyajian, dan harmoni rasa.
Bahkan sekarang banyak kreasi fusion kayak Nikkei, hasil kawin silang Jepang-Peru, yang bikin sushi makin kaya rasa dan diterima di seluruh dunia.
Tak akan ketinggalan, ada juga inovasi seru di dunia sushi. Tahun 1958, Yoshiaki Shiraishi bikin konsep conveyor belt sushi alias sushi berjalan.
Jadi pelanggan tinggal ambil piring yang lewat di depan meja. Cukup praktis, apalagi setelah dipamerkan di Expo Osaka 1970, konsep ini langsung booming sampai ke luar negeri.
Soal gizi, sushi itu cukup ringan. Rata-rata 2–3 potong sushi punya sekitar 90–190 kalori, sedangkan satu roll isi 8 potong bisa sekitar 350 kalori. Kalau mau yang lebih sehat, pilih sashimi atau maki sederhana.
Bonusnya, banyak jenis sushi juga kaya protein dan omega-3 yang bagus buat tubuh, asal nggak kebablasan makannya.
Sekarang sushi udah jadi makanan global. Dari kedai kecil di pinggir jalan sampai restoran bintang lima, semua punya versi masing-masing.
Tapi di balik kepopulerannya, jangan lupa kalau sushi punya perjalanan panjang dari makanan fermentasi sederhana sampai jadi ikon kuliner dunia.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin