RADARBANYUWANGI.ID - Mie tek-tek Pak Men cukup terkenal di kota Banyuwangi. Menu kuliner malam hari ini hadir di Banyuwangi sudah empat dekade.
Tempatnya bukan di rumah makan besar, tapi cukup mangkal di pinggir jalan.
Selain soal rasa, mie tek-tek bikinan Pak Men sudah punya pelanggan tetap.
Di antara gemerlapnya malam Kota Banyuwangi, denting suara sodet yang memukul wajan menjadi musik tersendiri di sebuah gang kecil pinggir Jalan Panglima Besar Sudirman, Kelurahan Penganjuran.
Suara tek-tek itu berasal dari grobak kecil mie legendaris milik Pak Men.
Gerobak tua bercat biru pudar bertuliskan "Mie Thek-Thek Legendaris Pak Men" berdiri sederhana di sebuah gang kecil.
Aroma gurih tumisan mie menyeruak dan menarik siapa saja yang melintas.
Di sekitarnya, beberapa deretan kursi tampak penuh oleh pelanggan yang menikmati semangkuk mie hangat buatan tangan Jimen atau yang akrab disapa Pak Men.
Usianya sudah 84 tahun, namun tangan dan geraknya saat memasak masih cekatan.
Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi menyambangi warungnya untuk memesan masakannya, pria sepuh ini tengah sibuk melayani antrean pesanan sambil sesekali melempar candaan ke pelanggannya.
“Saya jualan dari tahun 1970, waktu itu kamu belum ada wujudnya,” ujarnya sembari tertawa lepas.
Pak Men memang bukan sekadar penjual mie. Ia adalah saksi hidup perkembangan Banyuwangi, yang setia menjaga cita rasa satu jenis makanan jalanan yang kini sulit ditemukan, yaitu mie tek-tek.
Dinamai demikian karena suara khas pukulan sodet ke wajan saat memasak, yang jadi penanda bahwa makanan sedang dimasak.
Setiap malam mulai pukul 18.00 hingga maksimal pukul 24.00, gerobak Pak Men selalu buka di tempat yang sama.
"Jam 12 malam itu paling lama saya jualan. Sudah tua gini, ya nggak kuat lama-lama,” ujarnya sambil bercanda.
Dengan harga Rp 12.000 per porsi, Pak Men membawa sekitar 5 sampai 6 kilogram mie setiap malam.
Omzet kotornya bisa mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per malam.
Ia mengerjakan semuanya sendiri memasak, melayani pembeli hingga mencuci piring.
Mie yang digunakan pun bukan mie instan, melainkan buatan sendiri dari resep turun-temurun yang kini di buat oleh anaknya.
“Mienya tetap buatan rumah, resep saya sendiri. Sekarang anak yang bikin adonannya, saya tinggal masak,” kata pak Men sembari menuang mie ke mangkuk.
Kisah Pak Men bukan hanya tentang ketekunan, tapi juga tentang loyalitas pelanggan. Banyak pelanggannya berasal dari berbagai penjuru, bahkan dari luar negeri.
“Kadang-kadang bule datang buat beli mie tek-tek, terus minta foto sama saya,” ucapnya dengan candaan khasnya.
Fauzan, salah satu pembeli setia Pak Men, mengaku sudah menjadi pelanggan sejak 2010.
“Saya sudah langganan lama. Rasanya cocok banget di lidah dan harganya juga ramah,” katanya sembari menyeruput kuah mie tek-tek buatan Pak Men.
Di era di mana makanan cepat saji dan franchise merajarela, gerobak sederhana mie tek-tek Pak Men berdiri sebagai pengingat akan cita rasa lama yang tulus dari seseorang berusai senja.
Tak ada alat masak yang modern atau iklan digital yang terpampang di sepanjang jalan. Hanya suara tek-tek, wajan panas, dan senyuman seorang kakek yang setia menjaga warisan rasa dari zaman ke zaman. (Mohamad Ksatria/aif)
Editor : Ali Sodiqin