Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fenomena Boyong: Baik atau Buruk?

Ali Sodiqin • Jumat, 18 Februari 2022 | 19:50 WIB
fenomena-boyong-baik-atau-buruk
fenomena-boyong-baik-atau-buruk


PONDOK pesantren adalah tempat menuntut ilmu yang dilandasi oleh ajaran agama. Akan tetapi, di pondok memiliki peraturan yang ketat yang berlaku di sana, peraturan yang ketat dapat membuat para santri disiplin terutama dalam mengerjakan salat tepat waktu, selain itu tidak dipungkiri bahwa lingkungan baru akan berpengaruh besar dalam proses pembentukan karakter santri baru, sehingga dalam proses tersebut akan menimbulkan dua sisi yaitu positif dan negatif. Santri yang memiliki pertahanan diri yang baik maka dia akan berdampak positif pada perkembangannya. Sebaliknya ketika dia tidak memiliki pertahanan diri yang baik, maka kendala tersebut akan mempengaruhi psikisnya, sehingga menimbulkan dampak negatif. Diantara dampak negatif yang akan ditimbulkan yaitu, pusing, tekanan darah tinggi, mudah marah, sukar tidur, sulit berkonsentrasi dan sedih. Bahkan karena perubahan lingkungan yang drastic mengakibatkan santri menunjukkan perilaku yang tidak terarah dan prestasi akademik menurun.



Tujuan pendidikan pondok pesantren adalah untuk meningkatkan moral, melatih, memupuk semangat, menghargai nilai kemanusiaan dan mengajarkan untuk hidup sederhana dengan hati yang bersih. Namun di sisi lain, ada perundungan yang kadang ditemui di beberapa pesantren mungkin karena individu di pesantren yang banyak, seperti menggambarkan ilustrasi kehidupan di masyarakat.



Santri yang datang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, serta intensitas waktu bertemu antar teman sekamar lebih lama, sehingga muncul risiko untuk tindak perilaku bullying. Beberapa santri ketakutan merasa sedih dan tidak kerasan tinggal di pesantren, sehingga mereka banyak yang tidak mau masuk sekolah dan minta boyong.



Fenomena boyong telah banyak ditemui di pesantren, biasanya yang melakukan boyong adalah santri baru yang belum dapat menyesuaikan lingkungan. Terkadang, yang boyong adalah santri yang mendapatkan perundungan. Banyaknya individu di sana dapat mengajarkan bahwa tidak semua sifat setiap manusia itu sama, dan kita harus menghormati hal tersebut.



Pesantren juga dilengkapi dengan padatnya kegiatan. Banyak sekali santri yang kerap mengeluh, entah karena waktu tidur yang kurang, atau pun terkikisnya waktu dengan diri sendiri. Hal itu menyebabkan beberapa santri memilih boyong dan menjalani kehidupan di luar. Selanjutnya, mereka menggunakan banyak waktu mereka untuk mengurus diri dan berkembang sebagaimana mengikuti perkembangan zaman. Meski di sisi lain, padatnya kegiatan dapat membuat santri lebih menghargai waktu dan menggunakan waktu dengan sebaik mungkin.



Perubahan globalisasi telah mengantarkan kita pada inovasi teknologi berupa gadget. Adanya peraturan pondok yang melarang santri membawa gadget dapat menutup arus globalisasi di pesantren. Akibatnya, santri tidak dapat mengetahui dunia luar, seolah membuat pesantren adalah tempat isolasi dari dunia luar.



Akan tetapi, dengan tersingkirnya teknologi di pesantren, para santri dapat bersosialisasi satu sama lain dan tidak menjadikan mereka anti sosial. Waktu yang digunakan untuk bermain gadget dapat digantikan dengan bersosialisasi dan menambah life skill, atau dapat digunakan untuk hal lain.



Lagi pula, kehadiran gadget dapat memberikan dua dampak yaitu negatif dan positif. Positif apabila di gunakan untuk perkembangan diri, akan menjadi negatif apabila di gunakan untuk hal yang menyesatkan.



Kegiatan pesantren yang sangat padat, terkadang membuat para santri tidak dapat mengatur kegiatan untuk dirinya sendiri. Karena semua kegiatan sudah diarahkan oleh pesantren. Dampak dari hal tersebut adalah para santri tidak membuang waktu percuma. Akan tetapi, dengan adanya kegiatan yang padat tersebut, para santri jarang mendapatkan waktu untuk mengerjakan tugas.



Akibatnya santri mengerjakan tugas rumah di sekolah, tapi santri pasti akan merasakan manfaat atas kebiasaan padat tersebut. Seperti manajemen waktu yang terkendali dan menghargai waktu yang ada. Sehingga menghindari sifat kufur waktu.



Berkumpulnya para santri di satu ruang kamar seperti yang sudah di tetapkan oleh pihak pesantren, membuat berkumpulnya banyak individu dengan sifat yang berbeda. Hal itu membuat para santri harus bersosialisasi dan menghormati satu sama lain, apabila ada santri yang ingin tidur sementara santri yang lain ramai maka santri yang ramai harus menghormati santri yang akan melaksanakan kegiatan tidur, seperti itulah ilustrasi kehidupan masyarakat yang di jalankan oleh para santri, dengan adanya saling menghormati maka hidup akan terasa damai dan tenteram.



Banyaknya peraturan di pesantren, tak jarang ada pula santri yang melanggar peraturan tersebut dan mengakibatkan santri terkena tazir atau hukuman. Meskipun rawan menimbulkan kekerasan, hukuman tetap efektif sebagai salah satu sarana penegakan disiplin santri. Terlebih lagi adanya teks baik dalam Alquran maupun Hadis yang secara eksplisit memperbolehkan pemberian hukuman dalam pelaksanaan pendidikan, meskipun dalam bentuk pemukulan.



Akibat hal tersebut, beberapa santri memilih untuk boyong karena mereka merasa bahwa hukuman pendidikan di zaman sekarang sudah tidak relevan. Mengingat sudah dikembangkan paradigma baru dalam pendidikan yang lebih demokrasi dan humanis. Akan tetapi, dengan lahirnya peraturan dan hukuman dapat membuat manusia memiliki rasa tanggung jawab dan dapat bertindak lebih hati-hati.    



Fenomena boyong dari pondok pesantren memberikan bahasan yang menggelitik. Akan selalu ada sisi positif dan negatif dari suatu hal dan alangkah bijaknya, jika kita mampu menahan diri kita agar tidak gegabah untuk mengambil keputusan dan berhenti sejenak untuk melihat kedua sisi tersebut.



Kebijaksanaan itu ditumbuhkan dan bukan diberi, dilatih, dan bukan terlahir. Karena itu, selalu berhenti sejenak untuk melihat kedua sisi dalam setiap hal sebelum mengambil keputusan agar kita bisa melangkah dengan penuh kebijaksanaan. (*)



*) Anggota KIR MAN 1 Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#artikel #refleksi #catatan #opini