Luka Gatal Saat Mulai Sembuh, Normal atau Perlu Diwaspadai?

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 13:59 WIB
Rasa gatal cukup umum muncul saat luka memasuki proses penyembuhan. Namun, menggaruk dapat kembali melukai jaringan kulit yang sedang terbentuk. (ChatGPT)
Rasa gatal cukup umum muncul saat luka memasuki proses penyembuhan. Namun, menggaruk dapat kembali melukai jaringan kulit yang sedang terbentuk. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Luka yang mulai mengering kerap menimbulkan rasa gatal. Sensasinya kadang begitu mengganggu sampai membuat tangan refleks ingin menggaruk. Padahal, garukan justru bisa membuka kembali jaringan kulit yang sedang terbentuk.

“Aku kalau lukanya sudah kering suka enggak tahan pengin garuk. Gatal banget. Tapi kalau digaruk, ujung-ujungnya berdarah lagi. Nanti kering, terus gatal lagi,” ujar Mayang.

Gatal memang dapat muncul selama proses penyembuhan. Namun, sensasi itu tidak selalu berarti luka pasti sedang membaik. Kulit yang terlalu kering, iritasi akibat perekat perban, maupun reaksi terhadap produk tertentu juga dapat memicu keluhan serupa.

Pembahasan ini terutama berlaku untuk luka ringan, seperti lecet, goresan, dan sayatan kecil. Luka operasi, luka bakar luas, luka akibat diabetes, maupun luka kronis memerlukan penanganan berbeda.

Sistem Imun dan Saraf Ikut Bekerja

Saat kulit terluka, tubuh langsung menjalankan serangkaian proses perbaikan. Sistem imun, pembuluh darah, sel kulit, jaringan ikat, dan saraf sensorik ikut terlibat.

Salah satu zat yang berperan adalah histamin. Zat ini lebih dikenal sebagai pemicu gatal saat alergi. Namun, penelitian Jordan R. Yaron dan tim dari Arizona State University yang terbit di jurnal Biomaterials pada 2025 menunjukkan bahwa histamin juga terlibat dalam respons awal penyembuhan jaringan.

“Histamin cenderung memiliki reputasi buruk karena perannya dalam reaksi alergi. Padahal, zat ini sebenarnya merupakan salah satu pemain penting dalam proses perbaikan jaringan,” kata Yaron dalam publikasi Arizona State University.

Meski demikian, histamin bukan satu-satunya penyebab rasa gatal.

Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Immunity menemukan peran interleukin-31 atau IL-31. Penelitian tersebut melibatkan 12 pasien dengan luka operasi kecil dan juga menggunakan model hewan.

Pada sebagian besar pasien, rasa gatal mencapai puncak sekitar hari kelima setelah tindakan. Pada saat yang sama, kadar IL-31 di jaringan luka juga meningkat.

“Kami menemukan kadar interleukin-31 yang tinggi pada jaringan luka kulit ketika respons gatal mencapai puncaknya,” tulis para peneliti.

IL-31 merupakan molekul pemberi sinyal dalam sistem imun. Penelitian itu menunjukkan bahwa molekul tersebut dapat meningkatkan sensitivitas saraf yang berkaitan dengan rasa gatal.

Artinya, rasa gatal pada luka bukan sekadar akibat kulit mengering. Ada komunikasi antara sistem imun dan saraf selama proses penyembuhan.

Aktivitas Saraf Berubah Setelah Cedera

Penelitian yang lebih baru juga memperkuat dugaan tersebut.

Studi Hirotake Ishida dan tim dari University of Miami yang terbit di Scientific Reports pada Juni 2026 mengamati aktivitas saraf sensorik setelah luka bakar pada tikus.

Perilaku yang berkaitan dengan rasa sakit paling tinggi pada hari pertama. Sementara itu, perilaku menggaruk justru mencapai puncak sekitar hari ketujuh.

“Aktivitas spontan yang meningkat pada neuron sensorik primer mungkin berkontribusi terhadap rasa sakit dan gatal setelah luka bakar,” tulis para peneliti.

Temuan itu tidak bisa langsung disamakan dengan luka lecet pada manusia karena peneliti menggunakan model luka bakar pada hewan. Namun, hasil tersebut memberi gambaran bahwa perubahan aktivitas saraf ikut berperan dalam munculnya rasa gatal setelah cedera.

Luka Terlalu Kering Juga Bisa Gatal

Selain faktor imun dan saraf, kondisi permukaan luka juga berpengaruh.

American Academy of Dermatology (AAD) menyebut luka yang terlalu kering dapat terasa lebih gatal. Untuk luka ringan tertentu, menjaga kelembapan dengan petroleum jelly dapat membantu mencegah luka mengering berlebihan.

Dokter spesialis kulit Mona Gohara menyarankan penambahan petroleum jelly jika luka terasa terlalu kering.

“Tambahkan lapisan petroleum jelly yang lebih tebal pada luka,” ujarnya dalam panduan AAD mengenai perawatan luka kulit.

Prinsip tersebut dikenal sebagai moist wound healing atau penyembuhan luka dalam kondisi lembap. Untuk lecet dan sayatan kecil, AAD merekomendasikan luka dibersihkan, diberi petroleum jelly, lalu ditutup dengan perban bersih.

Namun, cara itu tidak otomatis berlaku untuk semua jenis luka. Luka dalam, terinfeksi, luka operasi tertentu, maupun luka yang banyak mengeluarkan cairan tetap perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.

Jangan Asal Garuk

Menggaruk memang bisa memberi rasa lega sesaat. Namun, kuku dapat merusak permukaan kulit yang baru terbentuk.

Dokter spesialis kulit Susan Massick dari The Ohio State University mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut justru bisa memperparah keluhan.

“Naluri pertama kita memang ingin menggaruk rasa gatal yang mengganggu. Namun, kenyataannya, hal itu justru bisa membuat kondisi menjadi lebih buruk,” ujarnya dalam publikasi AAD.

Jika luka kembali terbuka, perdarahan dapat terjadi lagi. Risiko iritasi dan infeksi juga meningkat.

Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menggaruk, melainkan mencari pemicu gatalnya. Pastikan luka tetap bersih, tidak terlalu kering, dan terlindungi dari gesekan.

Jika rasa gatal muncul setelah memakai plester tertentu, perekatnya bisa menjadi penyebab iritasi. Pada kondisi seperti itu, AAD menyarankan penggunaan bantalan luka yang tidak melekat langsung pada kulit dan perekat yang lebih ramah bagi kulit sensitif.

Kapan Harus Waspada?

Gatal ringan masih dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan. Namun, jangan hanya terpaku pada rasa gatal.

Perhatikan kondisi luka secara keseluruhan. Luka yang semakin merah, bengkak, terasa panas, makin nyeri, mengeluarkan nanah, atau disertai demam perlu diperiksa tenaga kesehatan.

Pertolongan medis juga perlu dicari jika luka sangat dalam, perdarahan sulit berhenti, terdapat benda asing di dalam luka, atau muncul gangguan gerak dan sensasi di sekitar area yang terluka.

Jadi, rasa gatal memang bisa muncul saat kulit memperbaiki diri. Namun, gatal bukan penanda tunggal bahwa luka pasti sembuh dengan baik.

Kalau tangan mulai “gemas” ingin menggaruk, lebih baik tahan. Jangan sampai siklus yang dialami Mayang terus berulang. Digaruk, berdarah, mengering, lalu gatal lagi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
luka gatal penyembuhan luka luka mengering cara merawat luka kesehatan kulit