Kasus Gejala Influenza di Banyuwangi Rata-Rata Capai 8.500 Kasus per Bulan

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 23:00 WIB
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. Dinkes Banyuwangi sukses menurunkan stunting hingga 2,44 persen lewat program konvergensi. Raih SoJ Award 2026.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. Dinkes Banyuwangi sukses menurunkan stunting hingga 2,44 persen lewat program konvergensi. Raih SoJ Award 2026.

RADAR BANYUWANGI - Serangan penyakit dengan gejala mirip influenza menyebar masif di Bumi Blambangan.

Sepanjang tahun ini, ribuan warga bertumbangan akibat paparan virus yang memicu demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, batuk, sakit tenggorokan, hingga gangguan pernapasan akut tersebut.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mencatat, lonjakan pasien dengan gejala tersebut terus membanjiri sejumlah fasilitas kesehatan (faskes).

Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengungkapkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengategorikan kondisi tersebut sebagai Influenza-Like Illness (ILI).

Yaitu, penyakit dengan gejala menyerupai influenza.

Sementara itu, untuk kasus dengan kondisi lebih berat, masuk dalam kategori Severe Acute Respiratory Infection (SARI). 

"Kemenkes menyebut kasus ini sebagai ILI. Untuk kasus agak berat, biasanya disertai demam dan perubahan kondisi tubuh, Kemenkes menyebutnya SARI," kata Amir, Jumat (11/9).

Menurut Amir, tren peningkatan kasus tersebut dipantau sepanjang tahun 2026.

Rekor tertinggi sempat pecah pada Januari lalu yang menembus angka di atas 10 ribu kasus.

"Sementara sejak Februari hingga bulan lalu, rata-rata tercatat sekitar 8.500 kasus per bulan," ujarnya.

Untuk awal September ini, dinkes masih merekapitulasi data dari lapangan.

Kendati demikian, seluruh faskes telah diinstruksikan memperketat laporan perkembangan kasus sekaligus menggencarkan upaya edukasi pencegahan ke masyarakat.

Amir tak menampik jika faktor cuaca menjadi pemicu utama melonjaknya kasus ILI dan SARI.

Saat ini wilayah Banyuwangi tengah berada dalam masa transisi cuaca alias pancaroba menuju kemarau yang lebih kering.

"Pada masa transisi ini, proses adaptasi membuat imunitas tubuh cenderung menurun. Penurunan imun yang berbarengan dengan perubahan lingkungan inilah yang memicu ledakan kasus," jelas Plt Kepala badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi tersebut.

Karena itu, pihak dinkes mengimbau masyarakat memperkuat daya tahan tubuh.

Langkah paling sederhana adalah memperbanyak konsumsi cairan, asupan vitamin, serta mengatur waktu istirahat yang cukup.

Selain itu, protokol kesehatan pencegahan penularan secara mandiri harus kembali digalakkan.

Warga diminta sadar memakai masker saat beraktivitas di luar rumah dan wajib menerapkan etika batuk yang benar.

Tak kalah penting, sirkulasi udara di dalam ruangan juga harus diperhatikan. Ventilasi rumah wajib dipastikan berjalan optimal.

Caranya cukup membuka seluruh jendela setiap pagi agar pasokan udara segar dan paparan cahaya matahari bisa masuk mereduksi kelembapan ruangan.

"Rumah yang tertutup rapat justru meningkatkan risiko penularan dan penyebaran virus menjadi lebih cepat," tandasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ILI SARI influenza Dinkes Banyuwangi banyuwangi