RADAR BANYUWANGI — Beban penyakit kronis di Banyuwangi kian terlihat dari tingginya kunjungan pasien gagal ginjal kronis stadium akhir di RSUD Blambangan. Sepanjang Juli, layanan untuk penyakit tersebut mencapai 1.857 kunjungan, sekaligus menjadi yang tertinggi dibandingkan penyakit lain yang ditangani rumah sakit pelat merah itu.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Setiap hari, layanan hemodialisis atau cuci darah di RSUD Blambangan nyaris tak menyisakan tempat kosong. Sebanyak 24 tempat tidur yang dioperasikan dalam tiga shift mampu melayani sekitar 72 sesi cuci darah per hari, tetapi seluruh slot layanan tersebut selalu terisi.
Koordinator Pelayanan Medis RSUD Blambangan dr. Ayyub Erdiyanto mengatakan, tingginya kasus penyakit katastropik perlu menjadi perhatian serius. Penyakit kronis tidak menular tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pasien, tetapi juga membutuhkan pengobatan dan pemantauan dalam jangka panjang.
“Penyakit katastropik ini merupakan penyakit kronis yang tidak menular, tetapi mengancam jiwa dan jumlahnya terus meningkat,” kata Ayyub.
Gagal Ginjal Paling Banyak, Jantung dan Stroke Menyusul
Berdasarkan data kunjungan pasien selama Juli, gagal ginjal kronis stadium akhir menempati posisi teratas dengan 1.857 kunjungan.
Jumlah tersebut terpaut cukup jauh dari penyakit jantung koroner yang berada di urutan kedua dengan 1.189 kunjungan. Berikutnya, pasien dengan dampak lanjutan stroke mencapai 513 kunjungan.
Sementara itu, hipertensi akibat gangguan pembuluh darah ginjal tercatat 392 kunjungan. Diabetes melitus tipe 2 menyusul dengan 311 kunjungan.
Penyakit jantung yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi juga masuk daftar kunjungan terbanyak dengan 302 kunjungan. Kemudian kerusakan saraf akibat diabetes tercatat 286 kunjungan.
Kanker payudara dan nyeri pinggang masing-masing mencatat 285 kunjungan, sedangkan HIV dengan komplikasi infeksi berada di posisi kesepuluh dengan 237 kunjungan.
24 Tempat Tidur, Tiga Shift, Selalu Penuh
Tingginya angka kunjungan gagal ginjal tersebut tercermin langsung dari aktivitas layanan hemodialisis RSUD Blambangan.
Sebanyak 24 tempat tidur disiapkan untuk pasien cuci darah. Layanan beroperasi dalam tiga shift setiap hari sehingga secara kapasitas tersedia sekitar 72 sesi pelayanan per hari.
Namun, seluruh layanan tersebut selalu penuh. Bahkan, menurut Ayyub, masih terdapat pasien yang harus menunggu giliran mendapatkan layanan.
“Bisa dikalikan saja sebulan berapa, layanan itu selalu penuh bahkan masih ada pasien yang harus mengantre giliran,” ujarnya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan gagal ginjal tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pengobatan pasien, tetapi juga tingginya kebutuhan layanan kesehatan untuk penyakit kronis yang membutuhkan terapi berulang.
Gaya Hidup Jadi Perhatian
Ayyub menjelaskan, gagal ginjal, penyakit jantung, stroke, hipertensi, dan diabetes memiliki keterkaitan dengan sejumlah faktor risiko.
Pola hidup tidak sehat, minim aktivitas fisik, kebiasaan merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit kronis. Pola konsumsi masyarakat juga menjadi perhatian, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan olahan dan minuman dengan kandungan gula tinggi.
Diabetes bahkan menjadi salah satu penyakit dengan kunjungan tinggi. Komplikasinya berupa kerusakan saraf akibat diabetes juga masuk dalam 10 besar kunjungan pasien RSUD Blambangan selama Juli.
Ayyub menekankan, diabetes yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi komplikasi dan menyerang organ tubuh lainnya.
“Penyakit-penyakit ini saling terkait. Ginjal, jantung, kegemukan, lingkungan dan gaya hidup,” jelasnya.
Jangan Menunggu Sampai Penyakit Berat
Melihat tingginya beban penyakit kronis tersebut, masyarakat diingatkan tidak menunggu sampai gejala muncul atau kondisi kesehatan telanjur memburuk.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memperbaiki pola hidup, rutin berolahraga, menghindari rokok, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih dini.
“Rajin olahraga, hindari rokok, dan rutin CKG di Puskesmas untuk bisa melihat bagaimana kondisi kesehatannya,” imbau Ayyub. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin