Dari Scrolling hingga Kurang Tidur, Ini Pemicu Brain Fog di Era Digital

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:08 WIB
Waktu tanpa layar memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari rangsangan dan distraksi digital. (Pexels/Daniel Jurin)
Waktu tanpa layar memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari rangsangan dan distraksi digital. (Pexels/Daniel Jurin)

RADAR BANYUWANGI - Keluhan sulit fokus, mudah lupa, hingga merasa otak “lemot” kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Di tengah derasnya arus informasi digital, fenomena brain fog justru makin sering dirasakan masyarakat modern, termasuk mereka yang masih berusia muda.

Berdasarkan informasi dari diskusi media digital bersama Rory Asyari dan Applied Cognitive Neuroscientist Assoc. Prof. dr. Rizky Edmi Edison, Ph.D., kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan penurunan fungsi saraf secara fisiologis. Pola hidup sehari-hari, terutama kebiasaan menggunakan perangkat digital, ikut menjadi faktor yang patut diperhatikan.

Salah satu kebiasaan yang disoroti ialah konsumsi konten singkat secara terus-menerus. Saat seseorang berpindah dari satu video, unggahan, pesan, atau notifikasi ke konten lain dalam hitungan detik, otak dipaksa melakukan perpindahan perhatian berulang.

Dalam neurosains, proses itu dikenal sebagai rapid task switching. Bukan benar-benar mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan, otak sebenarnya berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lain secara cepat.

“Multitasking itu sesungguhnya tidak ada. Yang kita lakukan tidak lebih dari rapid task switching memindahkan perhatian secara cepat. Proses itu memaksa otak beradaptasi berulang kali dan menguras energi, hingga akhirnya muncul rasa letih dan otak terasa tidak fokus,” ujar dr. Rizky Edmi Edison, Ph.D.

Kondisi tersebut menjadi makin relevan ketika kebiasaan berpindah-pindah konten berlangsung sepanjang hari. Rangsangan digital yang datang tanpa jeda membuat otak terus menerima input baru, sementara kesempatan untuk benar-benar memulihkan fokus semakin sedikit.

Fenomena tersebut juga terkait dengan riset yang dipublikasikan American Psychological Association (APA) dan Harvard Medical School. Paparan informasi instan secara bertubi-tubi disebut dapat mendorong respons penghargaan jangka pendek dan membuat otak menghadapi beban informasi yang berlebihan.

Akibatnya, kemampuan untuk bertahan pada satu pekerjaan dalam waktu lama dapat ikut terganggu. Membaca artikel panjang, menyelesaikan pekerjaan, belajar, bahkan sekadar mendengarkan percakapan tanpa mengecek ponsel bisa terasa lebih berat.

Penggunaan perangkat digital memang menjadi salah satu sorotan utama, tetapi brain fog tidak berdiri sendiri. Aktivitas fisik yang minim juga berpengaruh terhadap kebugaran tubuh dan fungsi kognitif.

Tubuh yang terlalu lama pasif membuat seseorang semakin jarang bergerak. Padahal, aktivitas otot membantu mendukung sirkulasi darah, termasuk aliran darah yang membawa oksigen ke otak. Karena itu, kebiasaan duduk berjam-jam tanpa jeda bergerak juga perlu mendapat perhatian.

Faktor lain ialah pola makan. Konsumsi kalori berlebihan dalam porsi besar dapat membuat tubuh lebih fokus pada proses pencernaan sehingga rasa mengantuk muncul setelah makan. Dalam kondisi tersebut, kemampuan berkonsentrasi untuk sementara waktu dapat ikut menurun.

Ada pula kebiasaan yang sering dianggap sepele, yaitu tidak memberi ruang bagi otak untuk benar-benar kosong.

Waktu senggang yang selalu diisi dengan membuka layar, menggulir media sosial, atau mengejar notifikasi membuat seseorang hampir tidak pernah berada dalam kondisi tanpa rangsangan. Padahal, momen melamun atau beristirahat dari aktivitas terarah memiliki peran dalam proses pemulihan dan pengolahan informasi.

Dalam neurosains, kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas Default Mode Network (DMN), jaringan otak yang berperan ketika seseorang tidak sedang memusatkan perhatian pada tugas eksternal tertentu.

Masalah berikutnya adalah notifikasi yang datang terus-menerus. Bunyi, getaran, maupun pop-up di layar mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi perhatian seseorang dapat terpecah jauh lebih lama.

Setiap kali perhatian beralih ke ponsel, seseorang membutuhkan proses untuk kembali masuk ke pekerjaan sebelumnya. Akumulasi gangguan kecil itu pada akhirnya dapat membuat pekerjaan terasa lebih berat dan waktu penyelesaian menjadi lebih panjang.

Persoalan tersebut menjadi lebih kompleks ketika gangguan berlangsung hingga malam hari. Kurang tidur memberi tekanan tambahan terhadap kemampuan otak dalam mempertahankan perhatian, mengolah informasi, dan memulihkan diri.

Karena itu, keluhan seperti mudah lupa, sulit fokus, atau merasa cepat lelah secara mental tidak selalu berarti kemampuan otak menurun secara permanen. Bisa jadi, tubuh dan otak sedang merespons pola hidup yang terlalu penuh rangsangan dan terlalu sedikit waktu pemulihan.

Fenomena brain fog dengan demikian perlu dilihat sebagai sinyal untuk mengevaluasi kebiasaan sehari-hari. Mengurangi perpindahan fokus yang tidak perlu, memberi jeda dari layar, memperbanyak aktivitas fisik, menjaga pola makan, serta memastikan tidur yang cukup merupakan bagian penting dari kebiasaan yang lebih ramah terhadap kesehatan kognitif.

Di tengah kehidupan digital yang hampir tidak mengenal jeda, kemampuan untuk berhenti sejenak justru bisa menjadi salah satu bentuk menjaga kerja otak tetap optimal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
brain fog sulit konsentrasi kecanduan scrolling rapid task switching kesehatan otak