RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena konsumsi makanan bertingkat kepedasan ekstrem semakin populer di kalangan generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, dalam beberapa tahun terakhir. Beragam menu seperti mie instan super pedas, seblak level tinggi, hingga camilan dengan taburan bubuk cabai berlebih kini menjadi pilihan favorit karena dianggap mampu menghadirkan sensasi makan yang lebih menantang.
Popularitas kuliner bercita rasa pedas tersebut tidak lepas dari pengaruh media sosial. Berbagai konten mukbang dan tantangan mengonsumsi makanan super pedas di platform digital mendorong banyak anak muda ikut mencoba, bahkan menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari.
Salah satunya dialami Bunga, 23, seorang pekerja swasta yang mengaku awalnya hanya mengikuti tren yang ramai di media sosial.
"Awalnya cuma ikut-ikutan tren konten mukbang di TikTok, tapi lama-lama lidah jadi terbiasa. Kalau makan makanan biasa tanpa cabai atau sambal yang bikin berkeringat, rasanya ada yang kurang mantap dan kurang menggugah selera," ujarnya.
Di balik sensasi tersebut, konsumsi makanan pedas ekstrem ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan saluran pencernaan. Rasa terbakar yang muncul saat mengonsumsi cabai berasal dari senyawa aktif kapsaisin. Dalam jumlah berlebihan dan dikonsumsi terus-menerus, kapsaisin dapat mengiritasi mukosa lambung, meningkatkan produksi asam lambung, serta merangsang pergerakan usus secara berlebihan sehingga berpotensi menyebabkan diare.
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, makanan yang merangsang organ pencernaan secara berlebihan, termasuk olahan dengan tingkat kepedasan ekstrem, dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. Kondisi tersebut berisiko memperparah keluhan pada penderita maag, seperti nyeri ulu hati dan mual, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya gastroesophageal reflux disease (GERD) atau naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Karena itu, pembatasan konsumsi cabai dan pemilihan makanan yang lebih ramah bagi lambung menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Tenaga medis juga mengimbau masyarakat, khususnya kelompok usia muda, agar tidak mengonsumsi makanan pedas secara berlebihan dalam satu porsi. Selain itu, makanan pedas sebaiknya tidak dikonsumsi saat perut kosong karena dapat mempercepat iritasi lambung.
Apabila sensasi terbakar setelah mengonsumsi makanan pedas muncul, minuman yang mengandung lemak seperti susu dinilai lebih efektif membantu menetralkan efek kapsaisin dibandingkan air dingin. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi rasa panas sekaligus menjaga kesehatan saluran pencernaan apabila dikombinasikan dengan pola makan yang lebih seimbang.
Editor : Lugas Rumpakaadi