RADARBANYUWANGI.ID - Seblak, cireng, bakso aci, cimol, hingga beragam jajanan berbahan tepung masih menjadi makanan favorit generasi muda. Selain memiliki cita rasa gurih dan pedas yang menggugah selera, makanan tersebut juga mudah diperoleh, praktis dikonsumsi, dan mampu mengenyangkan dalam waktu singkat.
Namun di balik popularitasnya, konsumsi makanan berbahan tepung secara berlebihan ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Para ahli kesehatan mengingatkan, kebiasaan menjadikan makanan bertepung sebagai menu utama sehari-hari dapat meningkatkan peluang munculnya berbagai penyakit kronis.
Sebagian besar jajanan tersebut dibuat menggunakan tepung rafinasi, seperti tepung terigu putih. Tepung jenis ini telah melalui proses penggilingan yang menghilangkan lapisan dedak dan inti gandum, yakni bagian yang kaya serat, vitamin, dan mineral. Akibatnya, tepung yang dihasilkan didominasi karbohidrat sederhana dengan kandungan gizi yang jauh lebih rendah.
Karbohidrat rafinasi dicerna tubuh dengan cepat sehingga kadar gula darah meningkat dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat rasa kenyang tidak bertahan lama sehingga seseorang lebih mudah lapar dan terdorong untuk makan dalam jumlah lebih banyak.
Kebiasaan tersebut dapat memicu kelebihan asupan kalori. Jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai, kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak tubuh. Dalam jangka panjang, penumpukan lemak dapat meningkatkan risiko obesitas.
Selain itu, makanan bertepung yang tinggi karbohidrat sederhana juga dapat memicu pelepasan hormon dopamin di otak. Respons ini memberikan sensasi menyenangkan sesaat sehingga seseorang cenderung ingin mengonsumsi makanan serupa berulang kali. Ketika kadar gula darah kembali menurun, tubuh akan mengirimkan sinyal lapar yang memperkuat siklus konsumsi berlebihan.
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah diabetes tipe 2. Konsumsi karbohidrat rafinasi secara terus-menerus menyebabkan kadar gula darah sering melonjak sehingga pankreas harus bekerja lebih keras menghasilkan insulin. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin yang menjadi salah satu penyebab utama diabetes tipe 2.
Tak hanya itu, pola makan tinggi karbohidrat rafinasi juga berkaitan dengan meningkatnya kadar trigliserida dan kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kondisi tersebut dapat memicu pembentukan plak lemak pada pembuluh darah atau aterosklerosis, meningkatkan risiko penyakit jantung maupun stroke.
Dampak negatif lainnya juga dapat dirasakan sistem pencernaan. Minimnya kandungan serat dalam makanan berbahan tepung menyebabkan proses pencernaan kurang optimal. Akibatnya, risiko sembelit, wasir, hingga terganggunya keseimbangan bakteri baik di dalam usus menjadi lebih besar.
Mengutip Hellosehat, tepung pada dasarnya merupakan bahan pangan yang memiliki nilai gizi. Namun, proses pengolahan dan pemutihan dapat menghilangkan sebagian besar zat gizi yang terkandung di dalam bahan bakunya. Tanpa proses fortifikasi atau pengayaan gizi, produk olahan tepung cenderung hanya menjadi sumber karbohidrat sederhana dengan kandungan nutrisi yang terbatas.
Berbagai penelitian juga menunjukkan konsumsi karbohidrat rafinasi secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit jantung. Karena itu, para ahli menyarankan agar konsumsi makanan berbahan tepung tidak dilakukan secara berlebihan dan tidak dijadikan sumber utama asupan harian.
Masyarakat, khususnya kalangan anak muda, dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, sumber protein, serta biji-bijian utuh yang kaya serat. Aktivitas fisik secara rutin juga diperlukan untuk membantu menjaga keseimbangan energi dan menurunkan risiko berbagai penyakit metabolik.
Mengonsumsi seblak, cireng, bakso aci, cimol, maupun jajanan berbahan tepung sesekali bukanlah masalah. Namun, membatasi porsinya dan mengimbanginya dengan pola hidup sehat menjadi langkah penting agar kenikmatan makanan favorit tidak berubah menjadi ancaman bagi kesehatan.
Editor : Lugas Rumpakaadi