Ibu Bekerja Tetap Bisa Beri ASI Eksklusif, Ini Tips dari Konselor RS Al Huda Gambiran

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:00 WIB
ASIP: Petugas RSAH menyampaikan kiat sukses ASI eksklusif bagi ibu bekerja. (Foto: RSAH Gambiran)
ASIP: Petugas RSAH menyampaikan kiat sukses ASI eksklusif bagi ibu bekerja. (Foto: RSAH Gambiran)

RADAR BANYUWANGI – Kembali bekerja setelah masa cuti melahirkan sering menjadi tantangan bagi banyak ibu yang ingin tetap memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Kekhawatiran produksi ASI menurun hingga keterbatasan waktu menyusui kerap membuat sebagian ibu memilih menghentikan pemberian ASI. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, bayi tetap dapat memperoleh manfaat ASI meski sang ibu telah kembali beraktivitas.

Hal itu disampaikan Konselor Menyusui RS Al Huda (RSAH) Gambiran Banyuwangi, Ana Muftihatul Mubarokah, S.Keb. Menurutnya, salah satu solusi yang efektif bagi ibu bekerja maupun ibu dengan kondisi medis tertentu adalah memanfaatkan ASI perah (ASIP).

ASI perah merupakan ASI yang diperah kemudian disimpan dengan cara yang benar sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga saat diberikan kepada bayi. Cara ini memungkinkan ibu tetap memenuhi kebutuhan gizi si kecil meski tidak selalu berada di rumah.

Ana menjelaskan, kunci utama menjaga produksi ASI adalah tetap memerah ASI secara rutin selama bekerja. Idealnya, proses memompa dilakukan setiap dua hingga tiga jam sekali, atau mengikuti pola menyusui bayi saat ibu masih menjalani cuti melahirkan.

"Semakin rutin payudara dikosongkan, produksi ASI akan terus terangsang sehingga tetap lancar," jelasnya.

Menurutnya, proses memerah ASI dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan pompa ASI. Namun, sebelum memerah, ibu harus memastikan tangan dan peralatan yang digunakan dalam kondisi bersih untuk menjaga kualitas ASI dan mencegah kontaminasi.

Penyimpanan ASI Perah Tak Boleh Sembarangan

Selain teknik memerah, cara penyimpanan ASI juga menjadi faktor penting agar kualitas nutrisi tetap terjaga. Ana menyarankan ASI disimpan menggunakan botol kaca karena lebih awet, dapat digunakan berulang kali, serta lebih aman untuk penyimpanan jangka panjang.

Botol sebaiknya tidak diisi penuh. Cukup hingga tiga perempat bagian agar memiliki ruang saat ASI membeku sehingga tutup botol tidak terbuka atau wadah pecah.

Apabila tidak menggunakan botol kaca, ibu dapat memanfaatkan plastik khusus penyimpanan ASI yang memang dirancang untuk menjaga kualitas ASI perah.

"Simpan ASI yang sudah diperah di tempat sejuk dan tertutup seperti cooler bag. Dalam kondisi tersebut, ASI dapat bertahan sekitar delapan jam. Yang paling baik tetap ASI yang baru diperah karena kualitas kandungannya lebih optimal," ujar Ana.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan label tanggal dan jam pemerahan pada setiap wadah penyimpanan. Cara ini memudahkan ibu menerapkan metode First In First Out (FIFO), yakni ASI yang diperah lebih dahulu digunakan lebih dulu sehingga kualitasnya tetap terjaga.

Meski rutin memberikan ASI perah saat bekerja, Ana menyarankan agar ibu tetap menyusui secara langsung ketika berada di rumah. Kontak langsung antara ibu dan bayi tidak hanya membantu mempertahankan produksi ASI, tetapi juga mempererat ikatan emosional.

Kelola Stres agar Produksi ASI Tetap Lancar

Selain menjaga jadwal memerah ASI, kondisi psikologis ibu juga berpengaruh terhadap kelancaran produksi ASI. Karena itu, ibu bekerja dianjurkan menghindari stres berlebihan dan tetap berpikir positif selama menjalani masa menyusui.

Bagi ibu yang membutuhkan pendampingan, RS Al Huda Banyuwangi menyediakan layanan konsultasi menyusui melalui Klinik KIA-KB. Dalam layanan tersebut, ibu dapat memperoleh edukasi mengenai teknik menyusui yang benar, cara memerah dan menyimpan ASI, tata laksana pemberian ASI perah, hingga pijat laktasi dan perawatan payudara untuk membantu memperlancar produksi ASI.

Klinik KIA-KB RS Al Huda melayani konsultasi setiap Senin hingga Jumat pukul 07.00–14.00 WIB. Dengan pendampingan yang tepat, ibu bekerja diharapkan tetap mampu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (*)

Editor : Ali Sodiqin
ASI perah Ibu bekerja Konselor menyusui rs al huda asi eksklusif