RADARBANYUWANGI.ID - Pencegahan dan penanganan tengkes (stunting) di Banyuwangi dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan melibatkan banyak pihak.
Berkat kerja keroyokan tersebut, prevalensi stunting di kabupaten ujung timur Pulau Jawa kini tersisa dua persen.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, stunting merupakan salah satu yang menjadi fokus utama untuk diselesaikan bersama dalam pembangunan kesehatan di Banyuwangi.
“Hal ini sesuai dengan komitmen pemkab agar tidak ada bayi baru yang lahir stunting. Jangan ada pula bayi dan balita stunting yang tidak tertangani,” ujarnya.
Penanganan stunting tersebut dilakukan keroyokan oleh pemkab, kalangan pendidikan, dan berbagai pihak yang lain.
Hasilnya, prevalensi stunting di Banyuwangi terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
Hal ini ditunjukkan dari data hasil bulan timbang atau EPPBGM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) yang terus menunjukkan tren penurunan kasus. Tahun 2021 tercatat 8,64% (4.730 kasus), tahun 2022 tercatat 3,95 % (2.704 kasus), tahun 2023 tercatat 3,53% (2.555 kasus), dan tahun 2024 tercatat 2,44% (2.269 kasus).
Ya, kalangan pendidikan juga turut berkotribusi dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Banyuwangi. Tepatnya lewat program Sekolah Asuh Stunting (SAS).
Sekolah Asuh Stunting merupakan pengembangan program Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi sejak 2011.
Program SAS adalah upaya pemkab melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) untuk mendorong empati dan solidaritas di kalangan pelajar.
Dalam program ini, pelajar dari keluarga mampu memberi dana sukarela ke teman sebayanya dari keluarga kurang mampu.
Dalam perjalanannya siswa asuh sebaya ini bertransformasi. Salah satunya menjadi Sekolah Asuh Stunting.
Program yang tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 7 Tahun 2025 ini memegang dua peran penting sekaligus, yakni peran menanggulangi bayi dua tahun (baduta) dan anak usia bawah lima tahun (balita) tengkes.
Dalam peran penanggulangan tersebut, sekolah memberikan sarana asuh kepada masyarakat yang mengalami stunting dan baduta yang bertempat tinggal tidak jauh dari sekolah. Tepatnya, dengan jarak maksimal jarak satu kilometer (km) dari sekolah.
”Para penderita stunting akan diasuh serta diberikan makanan tambahan, dikontrol, dan dievaluasi oleh tim kesehatan, sekolah, dan ketua rukun tetangga (RT) setempat,” ujar Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno.
Melalui program SAS tersebut, sekolah juga turut menjadi pendamping dengan cara memberikan wawasan kepada para orang tua, terutama ibu hamil risiko tinggi (bumilristi) stunting.
Bumilristi yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu diberi pendampingan agar terhindar dari penyakit tersebut.
”Hal itu kami lakukan sebagai bentuk pencegahan. Dengan semakin banyaknya wawasan yang disampaikan, kami harap masyarakat lebih paham terhadap risiko serta cara pencegahan stunting,” kata Suratno. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin