Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Angka Partisipasi KB Banyuwangi 2025 Tembus 71,6 Persen, Suntik Jadi Pilihan Favorit Pasangan Subur!

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 13 September 2025 | 11:45 WIB
ILUSTRASI jumlah pasangan memakai alat kotrasepsi.
ILUSTRASI jumlah pasangan memakai alat kotrasepsi.

RADARBANYUWANGI.ID - Program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Banyuwangi menunjukkan angka partisipasi yang cukup baik.

Dari total 246.476 pasangan usia subur, 176.442 pasangan sudah menggunakan alat kontrasepsi.

Tingkat keikutsertaan program KB bagi pasangan usia subur (PUS) di Banyuwangi pada tahun 2025 sebesar 71,6 persen.

Data tersebut bersumber dari Aplikasi Sistem Informasi Keluarga (SIGA) yang dikelola oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemendukbangga)/BKKBN.  

"Angka ini dihitung dari jumlah akseptor KB aktif dibandingkan dengan total pasangan usia subur yang ada,’’ ujar

Kabid Pengendalian Penduduk dan KB Dinsos PPKB Banyuwangi, Lukman Al Hakim.

Jika dibanding dengan progres tahun 2024, Lukman mengatakan angka yang diperoleh saat ini sudah cukup baik. Apalagi, tahun 2025 belum sepenuhnya usai.

Data sejumlah 176.442 pasangan yang mengikuti program KB  diambil Dinsos PPKB mulai bulan Januari hingga Agustus 2025.

"Tingkat keikutsertaan ber-KB sebesar 71,6 persen.  Ini menunjukkan kesadaran masyarakat Banyuwangi akan pentingnya perencanaan keluarga," imbuhya.

Lukman menambahkan, penggunaan alat kontrasepsi (alkon) yang dipilih cukup beragam. Mulai dari suntik, pil, impan, Intrauterine Device (IUD) atau KB spiral,  tubektomi, vasektomi, kondom, dan Metode Amenore Laktasi (MAL). MAL adalah metode kontrasepsi alami yang bergantung pada pemberian ASI ekslusif untuk mencegah kehamilan. 

MAL efektif jika ibu menyusui bayinya secara penuh, tidak menyusui dengan bantuan makanan atau susu formula, tidak terpisah dari bayi terlalu lama, dan belum menstruasi setelah melahirkan.

Dari data Dinsos PPKB menyebutkan, alat kontrasepsi memakai suntik paling banyak dipilih. Ada 110.288 pasangan atau lebih dari 62 persen pengguna alkon memilih metode suntik untuk program KB.

Kemudian disusul dengan pil, yaitu 26.873 pasangan dan implan sebanyak 20.655 pasangan. Dinsos  PPKB mendorong masyarakat untuk memilih metode kontrasepsi jangka panjang (MJKP) seperti implan, IUD, tubektomi, dan vasektomi.

Namun, berdasarkan data, justru kontrasepsi seperti suntik dan pil yang masuk kategori jangka pendek yang diminati oleh pasangan subur. "Kalau suntik ini berlaku dalam waktu pendek. Yang kita layani yang tiga bulanan,’’ kata Lukman.

Alkon  diberikan secara gratis oleh Dinsos PPKB bagi pasangan usia subur. Alat tersebut didistribusikan melalui fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang sudah terdaftar dan bekerja sama dengan Dinsos PPKB.

"Harapan  kami sebenarnya masyarakat bisa memilih kontrasepsi jangka panjang, agar bisa mengatur kelahiran," imbuhnya.

Lukman menekankan bahwa program KB bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera melalui pengaturan kelahiran.

Hal ini sekaligus mencegah terjadinya kelahiran anak dari empat faktor yang perlu dihindari. Seperti terlalu muda saat menikah dan melahirkan, terlalu tua saat melahirkan, jarak kelahiran terlalu dekat dan jumlah anak terlalu banyak.

"Harapan kami, masyarakat bisa mengatur kelahiran dengan baik. Sehingga risiko kehamilan bisa diminimalisir. Untuk itu, usia ideal pernikahan bagi perempuan adalah 21 tahun dan laki-laki 25 tahun," pungkasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#kondom #implan #kb spiral #pil #iud #vasektomi #tubektomi #Keluarga Berencana (KB)