Maklum saja, aksinya membuat 17 orang meninggal dunia dan sisanya mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam.
Dalam wawancara yang pernah dilakukan terhadap pensiunan kamar mayat RSUD Blambangan, Rohadi. Dia menceritakan kejadian itu tercatat sebagai salah satu tragedi berdarah di Banyuwangi. Ada 37 orang yang menjadi korban kesadisan Wirdjo.
Tapi, tak semua korban dengan jombret di tangan Wirjo itu menemui ajalnya. Dalam ingatan Rohadi, ada sekitar 17 orang yang tewas. Sedangkan banyak korban lain yang mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
“Tidak semuanya meninggal. Ada yang mengalami luka luka akibat sabetan jombret Wirjo kala itu,” kenang Rohadi.
Kejadian berdarah itu diingat Rohadi terjadi sekitar pukul 09.00. Insiden itu kebetulan terjadi sebelum pelaksanaan agenda politik salah seorang tokoh nasional di Lapangan Giri. Saat itu, kata dia, korban mulai berdatangan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Blambangan kala itu.
Wirjo saat beraksi tidak memilih korbannya. Rohadi menceritakan kondisi korban yang datang ke rumah sakit hingga kamar mayat. Ada korban berusia anak-anak yang datang dalam kondisi sudah meninggal.
Kepalanya hampir putus akibat sabetan senjata tajam di lehernya. Di antara korban juga ada remaja putri yang masih mengenakan seragam sekolah.
Korban lainnya yang masih diingat ada juga ibu-ibu penjual tape. Mayatnya ditemukan tergeletak tidak jauh dari kawasan Watubuncul. Bahkan pemetik kelapa juga merenggang nyawa akibat sabetan senjata tajam.
“Kebanyakan korban meninggal mengalami luka serius dibagian leher,” bebernya.
Sedangkan korban yang selamat dari maut, jelas Rohadi, mereka juga ada yang mengalami luka di bagian leher, tangan, perut, hingga dada. Seluruh korban yang selamat dirawat di RSUD Blambangan kala itu.
Selain merawat jenazah korban kekejaman Wirjo. Rohadi juga menjadi salah satu orang yang mengurus jenazah Wirdjo usai ditemukan gantung diri.
Wirjo ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon jambu di dekat sungai. Penemuan mayatnya praktis hanya 24 jam setelah aksi sadisnya atau 16 April 1987. Dia ditemukan menggantung dengan ikat pinggang warna hijau. “Sabuknya dari kain seperti stagen,” ujarnya.
Saat mengurus mayat Wirjo, Rohadi menceritakan sempat menemukan seperti dua bekas tembakan di kaki kanannya. Peluru itu tidak diambil dan tetap berada kakinya sampai pemakaman. Tidak jelas asal usul bekas tembakan di kaki Wirjo.
Temuan itu peluru itu juga yang membuat opini berkembang bila pria ini kebal senjata api terbantahkan. Usai dimandikan, Rohadi dan petugas membawa jenazah Wirjo untuk dimakamkan di dekat rumahnya.
Namun, usaha untuk menguburkan Wirjo pun sedikit ada halangan. Laju ambulans yang membawa mayat Wirjo sempat dihalangi warga. Namun berkat upaya persuasif petugas, akhirnya mayatnya bisa dimakamkan.
Di mata Rohadi, sosok Wirjo sangat jauh dari kesan sangar. Seingatnya, Wirjo memiliki tubuh yang lumayan tinggi, lebih kurang 170 cm. Wajahnya oval dengan kulit sawo matang. Rambutnya ikal dan tubuh kurus. “Sosoknya biasa tidak besar atau tidak sangar lah,” ujarnya. (*)
Editor : Niklaas Andries