Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Siswa MI Korban Bunuh Diri di Wongsorejo Banyuwangi Dikenal Jarang Tidur di Rumah, Sering Azan di Musala

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 24 Januari 2024 | 17:52 WIB
BERSEDIH HATI: Ibu kandung EF, Ulyatul Sudah (kanan), saat berada di ruang jenazah RSUD Blambangan, Selasa (23/1).
BERSEDIH HATI: Ibu kandung EF, Ulyatul Sudah (kanan), saat berada di ruang jenazah RSUD Blambangan, Selasa (23/1).

RadarBanyuwangi.id – Gagalnya proses otopsi membuat polisi harus melakukan pendekatan lain untuk menguak penyebab bunuh diri EF, siswa MI di Wongsorejo, Banyuwangi.

Kasatreskrim Polresta Banyuwangi Kompol Andrew Vega akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Bapas, hingga psikolog forensik untuk mencari data di lingkungan tempat tinggal dan sekolah EF.

”Jasad EF akhirnya tidak jadi diotopsi. Pemeriksaan hanya dapat dilakukan dengan memintai keterangan saksi-saksi di sekitar TKP. Mulai keluarga, tetangga, dan pihak sekolah,” kata Vega.

Meski otopsi gagal, pihaknya akan terus mengungkap penyebab kematian EF.

Polisi akan terus mendalami motif apa yang membuat siswa kelas 5 MI itu sampai nekat melakukan aksi bunuh diri di kandang sapi.

Apalagi, dari sisi keluarga yang mengasuhnya tidak ada hal yang janggal.

Semuanya baik-baik saja. Hanya sempat ada keterangan dari guru, belakangan korban sedikit murung.

Informasi yang dihimpun kepolisian, sang anak juga jarang tidur di rumahnya, melainkan tidur di musala.

”Kasus kematian EF terus berlanjut. Kami coba libatkan tenaga dari Dinsos dan stakeholder terkait dengan kasus ini,” tegasnya.

Ayah angkat EF, Anshori membenarkan jika EF kerap tidur di musala.

Hal itu dilakukan karena pada subuh EF harus mengaji. Agar tidak bolak-balik, EF kerap tidur di musala bersama teman-temanya.

”Siang hari, EF azan salat Duhur di masjid, kemudian Asar juga. Setelah itu ngaji sore. Malamnya tidur di langgar karena besoknya habis Subuh juga ngaji,” kata Anshori.

Sebelum ditemukan gantung diri di kandang sapi, tidak ada yang aneh dengan anak angkatnya tersebut. Dia tetap beraktivitas seperti biasa.

EF juga berkomunikasi dengan teman-temannya seperti biasa. Tapi, Anshori tidak memungkiri jika anaknya itu cukup aktif bermain ponsel.

Sejak duduk di bangku kelas 3 MI, Anshori membelikan EF ponsel. Banyak anak-anak seusianya memiliki ponsel.

”Dia saya belikan karena teman-temanya juga punya. Saya sendiri sama istri tidak bisa pegang ponsel,” jelasnya.

Menurut Anshori, kecanduan EF dengan ponsel bisa dibilang cukup tinggi.

Hampir setiap hari aktivitasnya digunakan untuk bermain ponsel. Bahkan, saat teman-temannya bermain bola, dia tidak ikut.

EF lebih memilih duduk sendiri di tepi lapangan sembari bermain ponsel.

”Saya juga tidak tahu apa yang dilihat. Saya kan tidak bisa buka ponsel. Kalau masalah dengan temanya tidak ada. EF sangat pendiam,” tandas Anshori. (fre/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Siswa MI #azan #musala #wongsorejo #jarang tidur #banyuwangi #gantung diri