Pezeshkian Serang AS di PBB, Satu-satunya Delegasi AS Walk Out

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:30 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al-Jazeera)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al-Jazeera)

RADAR BANYUWANGI – Satu-satunya pejabat Amerika Serikat (AS) yang berada di kursi delegasi langsung meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian mulai menyampaikan pidatonya, Rabu (23/9). Aksi walk out itu terjadi di tengah pidato Pezeshkian yang menuding AS dan Israel melakukan serangan terhadap Iran serta menyebut rakyat Iran sebagai korban terorisme.

Pejabat AS tersebut terlihat berdiri dari kursinya, mengambil tas, membenarkan kacamatanya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Sesaat kemudian, kursi delegasi AS tampak kosong ketika Pezeshkian meneruskan pidatonya di hadapan para peserta Sidang Umum PBB ke-81.

Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling mencolok dalam pidato Pezeshkian. Sebab, sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menggunakan forum yang sama untuk melontarkan ancaman keras terhadap Iran dan mengatakan Washington dapat menghancurkan Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai. 

Pezeshkian tidak menghentikan pidatonya setelah pejabat AS tersebut meninggalkan ruangan. Presiden Iran itu justru melanjutkan pernyataannya dengan membawa isu korban perang dan serangan terhadap sejumlah fasilitas sipil.

"Presiden Amerika Serikat menyebut kami teroris. Kami adalah korban terorisme," kata Pezeshkian dalam pidatonya. 

Angkat Foto Khamenei

Di tengah pidatonya, Pezeshkian mengangkat foto mendiang Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang disebut Teheran tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada awal perang pada Februari 2026.

Pezeshkian mengatakan Khamenei terbunuh tanpa dasar hukum. Ia juga menyinggung korban dari keluarga Khamenei serta sejumlah pejabat senior dan tokoh yang tewas dalam serangan tersebut.

Selain foto Khamenei, Pezeshkian membawa gambar anak-anak yang disebut menjadi korban serangan terhadap sebuah sekolah di Iran.

"Saya berasal dari Iran, di mana mereka sebenarnya membom sebuah sekolah," ujar Pezeshkian. 

Pernyataan tersebut disampaikan ketika perang AS-Iran telah berlangsung hampir tujuh bulan. Konflik yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 itu kemudian berkembang menjadi perang terbuka dengan dampak terhadap kawasan Timur Tengah dan jalur pelayaran energi. 

Iran Tak Tutup Pintu Diplomasi

Meski menyampaikan kritik keras terhadap Washington, Pezeshkian juga menyatakan Iran masih membuka pintu dialog.

Dia mengatakan Iran siap melakukan dialog, diplomasi, dan negosiasi, tetapi menolak pembicaraan yang menggunakan ancaman atau tekanan sebagai bahasa utama.

"Kami siap untuk dialog dan diplomasi serta negosiasi tanpa menerima bahasa kekuatan," kata Pezeshkian. 

Pernyataan itu menunjukkan dua pesan yang berjalan bersamaan dalam pidato Pezeshkian. Di satu sisi, Iran menolak tekanan dan ancaman militer AS. Di sisi lain, Teheran masih menyatakan kesiapan untuk mencari jalan diplomatik guna mengakhiri konflik.

Sebelumnya, perang AS-Iran juga berdampak pada kawasan Teluk, termasuk ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi dunia. 

Pidato Pezeshkian di PBB berlangsung sehari setelah Trump menyampaikan pidatonya di forum yang sama. Ketegangan kedua negara pun kembali terlihat secara terbuka di ruang sidang PBB: Trump menyampaikan ancaman terhadap Iran, sementara Pezeshkian membalas dengan tudingan bahwa Iran justru menjadi korban serangan dan terorisme.

Di tengah pertukaran pernyataan keras tersebut, aksi walk out pejabat AS menjadi gambaran singkat tentang betapa tajamnya ketegangan Washington dan Teheran saat ini. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Al Jazeera, Reuters, ABC News
Iran Amerika Sidang PBB Pezeshkian PBB Delegasi AS perang iran