Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, AS Diminta Penuhi Komitmen

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:00 WIB
Iran menegaskan, Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi komitmen yang dibuat berdasarkan kesepakatan pada Juni 2026. (Al-Jazeera)
Iran menegaskan, Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi komitmen yang dibuat berdasarkan kesepakatan pada Juni 2026. (Al-Jazeera)

RADAR BANYUWANGI — Selat Hormuz belum akan dibuka kembali. Iran menegaskan jalur strategis pengiriman minyak dan gas tersebut tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi komitmen dalam kesepakatan Juni 2026 dan memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Ketegasan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf di hadapan parlemen pada Minggu (20/9/2026). Menurut laporan media pemerintah Iran, IRIB, Teheran telah menyampaikan pesan dan persyaratannya kepada pihak Amerika Serikat melalui para perantara. 

Qalibaf mengatakan tidak akan ada pembukaan kembali Selat Hormuz maupun kembali ke format perundingan sebelumnya sebelum persyaratan Iran dipenuhi dan komitmen Amerika Serikat dilaksanakan.

Pernyataan tersebut kembali menempatkan Selat Hormuz di tengah ketegangan Iran-Amerika Serikat. Jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan salah satu koridor penting bagi perdagangan energi dunia. 

Syarat Iran Jadi Kunci

Di hadapan anggota parlemen, Qalibaf menyatakan posisi Teheran telah disampaikan secara jelas melalui jalur perantara.

Iran, kata dia, menginginkan hak-hak yang disebut sebagai hak sah rakyat Iran diakui dan komitmen Amerika Serikat yang terkait kesepakatan Juni dilaksanakan.

Selama tuntutan tersebut belum terpenuhi, Iran tidak membuka peluang untuk kembali ke kondisi perundingan sebelumnya maupun membuka kembali Selat Hormuz. 

Pernyataan Qalibaf muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam situasi tegang. Reuters melaporkan pada 20 September bahwa kebuntuan antara kedua negara telah mengganggu pasokan energi dan turut meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global. 

Kesepakatan Juni Berujung Buntu

Sebelumnya, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan pada Juni 2026 yang mencakup penghentian operasi militer serta pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.

Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh di tengah perselisihan mengenai pelayaran dan aspek keamanan di jalur strategis tersebut. 

Perkembangan itu membuat persoalan pembukaan Selat Hormuz tidak lagi sekadar menyangkut hubungan bilateral Iran dan Amerika Serikat.

Selat tersebut menjadi jalur penting bagi perdagangan energi internasional. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat berimbas pada distribusi minyak dan gas serta meningkatkan perhatian pasar terhadap keamanan pasokan energi. 

Ketegangan Timur Tengah Belum Mereda

Ketegangan meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat, menurut laporan sejumlah kantor berita. 

Dalam perkembangan terbaru, posisi kedua pihak masih berseberangan. Iran mempertahankan tuntutannya sebelum membuka kembali Selat Hormuz, sementara Washington terus menghadapi persoalan keamanan dan gangguan terhadap jalur energi di kawasan.

Pada 16 September, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menyerukan Iran dan Amerika Serikat menahan diri serta menghidupkan kembali dialog. China secara khusus mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz untuk menjaga kelancaran transportasi energi dan rantai pasok global. 

Selat Hormuz dan Ancaman Pasokan Energi

Posisi Iran membuat perkembangan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian dunia. Jalur ini merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Ketika akses pelayaran terganggu, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keamanan kapal, tetapi juga pada ketersediaan energi, biaya transportasi, dan potensi perubahan harga komoditas.

Situasi tersebut menjadi semakin sensitif karena gangguan juga terjadi di jalur pelayaran lain di kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan ketegangan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb telah mengganggu aliran energi global. Kondisi itu turut mendorong harga energi lebih tinggi.

Untuk saat ini, pesan Teheran cukup jelas: Selat Hormuz tetap ditutup dan pembukaannya dikaitkan langsung dengan pemenuhan komitmen Amerika Serikat serta persyaratan Iran. Perkembangan diplomasi kedua negara menjadi faktor penting yang akan menentukan apakah jalur strategis tersebut kembali terbuka. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Anadolu, Reuters
konflik Iran Iran AS timur tengah selat hormuz minyak dunia