Perang Iran Telan Rp 671 Triliun, AS Masih Harus Rogoh Rp 53 T per Bulan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)
Ilustrasi konfrontasi militer antara AS-Israel dengan Iran. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI – Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran bukan hanya menguras persenjataan, tetapi juga anggaran Pentagon. Hingga 1 Agustus 2026, konflik tersebut telah menelan sekitar US$38 miliar atau Rp671,9 triliun, dan biaya itu berpotensi bertambah US$2 miliar hingga US$3 miliar atau sekitar Rp35,3 triliun-Rp53 triliun setiap bulan selama konflik berlanjut.

Angka tersebut merupakan estimasi Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan Kongres AS, dalam laporan yang diterbitkan 15 September 2026. CBO menghitung biaya operasional, logistik, pemeliharaan, penggantian amunisi dan peralatan tempur, tambahan jam terbang, hingga kenaikan konsumsi bahan bakar Departemen Pertahanan AS. 

Perhitungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ongkos perang tidak berhenti pada nilai senjata yang ditembakkan. Konflik yang berlangsung sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari juga memberikan tekanan terhadap stok persenjataan AS serta perekonomian akibat gangguan jalur energi dan pelayaran.

Amunisi Jadi Komponen Biaya Terbesar

Dari sekitar US$38 miliar yang dihitung CBO hingga 1 Agustus, salah satu komponen terbesar berasal dari penggantian amunisi yang telah digunakan selama operasi tempur.

CBO memperkirakan biaya penggantian amunisi mencapai sekitar US$21,7 miliar, setara Rp383,7 triliun. Nilai tersebut mencakup amunisi yang telah dikeluarkan dalam operasi hingga batas waktu perhitungan.

Selain amunisi, biaya perang juga mencakup penggantian peralatan yang hilang dalam pertempuran, peningkatan jam terbang, kegiatan operasional, serta konsumsi bahan bakar militer.

Namun, CBO memberikan catatan bahwa estimasi tersebut memiliki tingkat ketidakpastian cukup besar. Dalam menyusun perkiraan, lembaga itu menggunakan basis data pemerintah dan laporan publik karena Departemen Pertahanan AS tidak memberikan data yang diminta CBO.

Setiap Bulan Bisa Tambah Rp 53 Triliun

Besarnya tagihan perang juga bergantung pada intensitas pertempuran.

CBO memperkirakan, jika tingkat kekerasan bertahan pada level relatif rendah seperti yang terjadi pada Mei dan Juni, biaya tambahan konflik dapat mencapai sekitar US$2 miliar per bulan.

Namun, jika intensitas pertempuran meningkat seperti pada Juli, tambahan biaya dapat mencapai US$3 miliar per bulan. Nilainya bahkan dapat lebih tinggi jika eskalasi konflik kembali meningkat. 

Artinya, dengan kurs yang digunakan dalam laporan sumber sekitar Rp17.682 per dolar AS, setiap tambahan US$3 miliar setara kurang lebih Rp53 triliun.

Perhitungan tersebut hanya mencerminkan biaya yang berkaitan dengan Departemen Pertahanan AS. CBO menegaskan angka US$38 miliar tidak mencakup seluruh biaya yang mungkin ditanggung lembaga pemerintah federal lainnya maupun sejumlah biaya yang sudah tercatat dalam anggaran rutin militer. 

Stok Rudal Pencegat Ikut Tergerus

Dampak perang juga muncul dalam bentuk opportunity cost atau biaya kesempatan bagi Pentagon.

Menurut CBO, salah satu dampak utama adalah berkurangnya persediaan rudal pencegat pertahanan. Penggunaan dalam jumlah besar membuat stok rudal tersebut diperkirakan lebih rendah selama beberapa tahun ke depan.

CBO menilai kondisi itu menjadi faktor yang perlu diperhitungkan apabila AS menghadapi konflik lain yang melibatkan lawan dengan persediaan rudal balistik dan jelajah dalam jumlah besar. 

Dengan kata lain, biaya perang tidak hanya dapat dihitung dari uang yang telah dikeluarkan. Persediaan senjata yang berkurang juga menciptakan kebutuhan untuk melakukan pengadaan kembali pada masa mendatang.

Selat Hormuz Tekan Ekonomi AS

Efek konflik kemudian merembet ke sektor ekonomi. CBO menilai dampak ekonomi utama perang Iran terhadap AS berasal dari tekanan inflasi akibat terganggunya pengiriman minyak dan gas alam melalui Selat Hormuz, serta gangguan pelayaran di Laut Merah.

Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah, bensin, solar, hingga bahan bakar pesawat ikut terdampak. Karena bahan bakar menjadi bagian penting dari biaya transportasi, kenaikan harga energi juga dapat diteruskan ke harga berbagai barang dan jasa. 

CBO memperkirakan konflik tersebut membuat inflasi indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE pada kuartal pertama 2027 sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi dibanding proyeksi lembaga itu pada Februari 2026. Untuk inflasi inti PCE, dampaknya diperkirakan sekitar 0,3 poin persentase. 

Biaya Perang dan Upaya Diplomasi

Besarnya biaya tersebut muncul ketika belum ada kepastian mengenai kapan konflik benar-benar berakhir.

Presiden Donald Trump pada 14 September mengatakan terbuka untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Sehari setelahnya, pejabat Iran Mohsen Rezaei menyatakan Teheran belum bersedia berunding sampai sejumlah syarat yang diajukan Iran dipenuhi.

Perkembangan berikutnya menunjukkan Trump pada 16 September mengatakan dia berharap perang Iran sudah mendekati akhir. Namun, hingga saat itu belum ada kesepakatan baru antara Washington dan Teheran yang mengakhiri konflik. 

Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam ketegangan tersebut. Jalur pelayaran strategis itu mengalami penurunan tajam aktivitas kapal akibat konflik. Pada 16 September, data pelacakan kapal menunjukkan hanya tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, turun dari 12 kapal sehari sebelumnya.

Dengan demikian, tagihan perang AS-Iran kini memiliki dua wajah sekaligus: biaya langsung untuk operasi militer yang telah mencapai US$38 miliar dan tekanan ekonomi yang lebih luas melalui energi, pelayaran, inflasi, serta berkurangnya persediaan persenjataan. Selama konflik berlanjut, CBO memperkirakan beban langsung Pentagon akan terus bertambah sesuai intensitas pertempuran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Reuters
perang AS Iran Pentagon konflik Iran biaya perang selat hormuz