F-15E Ditembak Rudal Iran, Kolonel AS Jatuh dan Hilang 50 Jam

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi rudal Iran. (AP)
Ilustrasi rudal Iran. (AP)

RADAR BANYUWANGI – Bayangkan terjun dari langit dengan kecepatan hingga 160 kilometer per jam, lalu menyadari parasut tidak terbuka sempurna. Itulah yang dialami seorang kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) berkode panggilan “Bravo” setelah pesawat F-15E yang ditumpanginya ditembak rudal Iran.

Bravo jatuh ke gurun, mengalami patah tulang punggung, lengan, dan bahu, kemudian harus bersembunyi dari pasukan Iran selama hampir 50 jam. Dengan persediaan makanan dan air yang minim, ia bertahan sendirian di wilayah musuh hingga akhirnya pasukan AS datang menjemput.

Di tengah situasi nyaris tanpa harapan itu, Bravo hanya bisa berdoa.

“Tuhan, kehendak-Mu lah yang terjadi. Tetapi jika aku bisa melewati ini, aku butuh pertolongan,” katanya mengenang momen paling menakutkan dalam hidupnya.

Kisah tersebut baru diceritakan Bravo kepada publik melalui program “60 Minutes” CBS News.

Rudal Menghantam F-15E, Langit Mendadak Menjadi Neraka

Peristiwa itu terjadi pada 2 April.

Bravo bertugas sebagai petugas sistem persenjataan di kursi belakang F-15E Strike Eagle. Di depannya duduk pilot berkode panggilan “Alpha”.

Keduanya menjalankan misi menggunakan pesawat bernama Dude 44 untuk menyerang fasilitas industri yang berkaitan dengan program pesawat nirawak dan rudal Iran di dekat kawasan pegunungan selatan Isfahan.

Misi tersebut berlangsung di wilayah yang sangat berisiko.

Laksamana Brad Cooper, pemimpin Komando Pusat AS, mengakui risiko tersebut.

“Kami memiliki keunggulan udara, tetapi jelas kami tidak terbang di atas Kansas,” ujarnya kepada CBS.

Tak lama kemudian, rudal Iran menghantam pesawat mereka.

Bravo menggambarkan benturannya seperti ditabrak kereta barang.

Pesawat yang nilainya sekitar US$30 juta itu rusak parah. Alpha dan Bravo tidak punya banyak pilihan.

Mereka harus melontarkan diri.

Alpha berhasil keluar dengan selamat.

Bravo tidak seberuntung itu.

Parasut Rusak, Tubuh Bravo Jatuh ke Gurun

Saat melompat keluar, Bravo mendapati sesuatu yang membuatnya seketika sadar bahwa hidupnya berada di ujung tanduk.

Parasutnya mengalami kerusakan.

Ia jatuh dengan kecepatan sekitar 70 hingga 100 mil per jam, atau sekitar 113 hingga 161 kilometer per jam.

“Pada suatu saat ketika saya mendongak dan tidak melihat parasut, itu adalah hal paling menakutkan yang pernah saya lihat,” ujar Bravo.

Ia kemudian berdoa.

Tubuhnya menghantam tanah dengan keras.

Punggungnya patah. Lengan dan bahunya juga mengalami patah tulang.

Namun, bahaya belum berakhir.

Bravo mendarat sekitar lima mil dari lokasi Alpha, di wilayah yang berada di bawah kendali musuh.

Ia tahu satu hal: tetap berada di lokasi pendaratan bisa membuatnya ditemukan.

Dengan tubuh yang terluka, Bravo menjauh dari titik jatuh dan bergerak menuju punggung bukit.

Saat fajar muncul, ia sudah berada di ketinggian sekitar 7.000 kaki.

Di hadapannya terbentang lembah gurun dan tebing curam.

Di belakangnya, pasukan Iran sedang mencari.

Pasukan Iran Hanya Berjarak Ratusan Meter

Pencarian terhadap kedua penerbang berlangsung intensif.

Pejabat militer AS mengatakan pasukan Iran sempat mendekati Bravo hingga hanya beberapa ratus meter.

Media Iran juga menampilkan gambar puing-puing pesawat tempur AS. Video yang beredar memperlihatkan kelompok bersenjata menyisir wilayah untuk mencari penerbang yang jatuh.

Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengatakan pasukan darat Iran memang memiliki tujuan jelas: menemukan kedua penerbang.

“Ada niat yang jelas dari pasukan darat Iran untuk datang dan menemukan kedua orang itu,” kata Caine.

Sementara itu, Washington bergerak cepat.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dirinya menerima laporan tentang jatuhnya pesawat tersebut pada tengah malam.

“Entah mereka masih hidup atau sudah meninggal, kami akan pergi menjemput mereka,” kata Hegseth.

Sekitar enam jam setelah pesawat jatuh, Alpha berhasil diselamatkan.

Namun, operasi tersebut bukan misi penyelamatan biasa.

Helikopter AS mendapat tembakan selama proses evakuasi.

“Itu adalah baku tembak sepanjang jalan masuk dan keluar. Tapi mereka berhasil merebut kembali Alpha,” ujar Hegseth.

Satu masalah tersisa.

Bravo masih berada di Iran.

“Tuhan Itu Baik”: Pesan Singkat dari Tengah Gurun

Malam pertama menjadi salah satu fase paling kritis.

Bravo terluka. Ia hampir tidak memiliki makanan dan air. Angin gurun menerpa tubuhnya, sementara suhu turun drastis ketika malam datang.

Pasukan AS belum berhasil menemukannya.

Lalu, sebuah pesan masuk.

Bravo berhasil berkomunikasi dengan pasukannya.

“Tuhan itu baik,” tulisnya.

Ia juga memberi tahu komandannya bahwa dirinya terluka, tetapi masih mampu bergerak.

Militer AS sempat mempertimbangkan operasi penyelamatan pada malam itu. Namun, situasi lapangan terlalu berbahaya.

Keputusan pahit akhirnya diambil.

Bravo harus ditinggalkan hingga hari berikutnya.

CIA Ikut Turun Tangan

Sementara Bravo berusaha bertahan hidup, operasi pencarian berubah menjadi misi besar.

CBS melaporkan CIA menjalankan operasi penipuan untuk membingungkan pasukan Iran. Teknologi rahasia juga digunakan untuk membantu menentukan posisi Bravo.

Rekaman yang baru dideklasifikasi memperlihatkan pesawat pembom dan drone AS menyerang pasukan di sekitar lokasi yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran selama operasi penyelamatan.

Skala pengerahan pasukan juga sangat besar.

Cooper mengatakan lebih dari 90 personel militer AS memasuki Iran melalui jalur darat.

Menurut Cooper, hal itu menjadi kali pertama pasukan AS menginjakkan kaki di Iran dalam 46 tahun.

Ratusan personel lainnya terlibat melalui jalur udara.

Ribuan personel tambahan memberikan dukungan.

Semua itu dilakukan untuk satu tujuan: menemukan Bravo dan membawanya pulang.

Setelah 50 Jam, Bravo Melihat Para Penyelamat

Dua pesawat besar untuk operasi pencarian dan penyelamatan kemudian mendarat di landasan darurat di gurun.

Dari sana, helikopter kecil “Little Bird” bergerak menuju lokasi Bravo.

Setelah hampir dua hari bertahan di wilayah musuh, Bravo akhirnya melihat sesuatu yang paling ingin dilihatnya.

Para penyelamat.

Ia pun berkata:

“Ayo pergi.”

Tetapi, lagi-lagi, gurun memberikan kejutan.

Roda pendaratan dua pesawat penyelamat terjebak di pasir.

Bravo dan lebih dari 90 anggota pasukan elite AS ikut terjebak.

Situasi berubah dari misi penyelamatan menjadi operasi evakuasi besar-besaran.

Angkatan Udara AS mengerahkan unit rahasia untuk mengeluarkan seluruh kelompok dari gurun.

Dua pesawat yang terjebak akhirnya dihancurkan. Masing-masing bernilai sekitar US$100 juta.

Helikopter Little Bird juga dihancurkan untuk mencegah teknologi sensitif AS jatuh ke tangan Iran.

Minggu Paskah, Operasi Berakhir

Bravo akhirnya keluar dari Iran sekitar 50 jam setelah Dude 44 ditembak jatuh.

Operasi tersebut selesai ketika matahari terbit pada Minggu Paskah.

Bagi Bravo, itu bukan sekadar operasi militer yang berhasil.

Ia menyebutnya sebagai “mukjizat zaman modern”.

Menurutnya, keyakinan membantunya melewati kondisi yang seharusnya bisa berakhir jauh lebih buruk.

“Saya percaya bahwa ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya,” katanya.

Namun, Bravo tidak menganggap dirinya sebagai satu-satunya tokoh dalam kisah tersebut.

Menurut dia, keberhasilan itu merupakan hasil dari kerja tim, latihan, keyakinan, keputusan, dan kepemimpinan.

Ia juga melihat operasi tersebut sebagai bukti bahwa militer AS berusaha memegang janji untuk tidak meninggalkan personelnya di medan perang.

Alpha pun memberikan penghormatan kepada tim pencarian dan penyelamatan tempur serta seluruh pasukan yang terlibat.

“Kata-kata tidak dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya dan keluarga saya,” kata Alpha.

Kini Alpha kembali menerbangkan pesawat.

Namun, ia memilih tidak tampil di depan publik karena alasan keamanan.

Sementara Bravo membawa pulang pengalaman yang sulit dilupakan: jatuh dari langit tanpa parasut sempurna, terluka parah di wilayah musuh, diburu pasukan lawan, lalu bertahan hampir 50 jam sebelum akhirnya dijemput oleh pasukannya sendiri.

Sebuah kisah yang, bagi Bravo, bukan hanya tentang bagaimana seseorang selamat dari medan perang, tetapi tentang keyakinan dan janji untuk tidak meninggalkan siapa pun. (*)

Editor : Ali Sodiqin
kolonel AS Iran F-15E ditembak 50 jam di Iran operasi penyelamatan rudal iran