Bukan Keluarga, PRT Filipina Ini Justru Jadi Pewaris Rp14 Miliar dari Majikannya di Hong Kong

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 05:00 WIB
Daisy Bucad-Eng, mantan PRT Filipina, mewarisi aset Rp14 miliar dari majikan asal Portugal setelah 11 tahun merawatnya. (Foto: Youtube @KMJS, GMA Public Affairs)
Daisy Bucad-Eng, mantan PRT Filipina, mewarisi aset Rp14 miliar dari majikan asal Portugal setelah 11 tahun merawatnya. (Foto: Youtube @KMJS, GMA Public Affairs)

RADAR BANYUWANGI - Bukan sekadar upah yang didapat Daisy Budca-Eng setelah 11 tahun merawat majikannya. Mantan pekerja rumah tangga (PRT) asal Filipina itu justru menjadi pewaris aset sedikitnya Rp14 miliar, termasuk apartemen, uang tunai, dan saham, dari Marie, lansia asal Portugal yang pernah menjadi majikannya di Hong Kong.

Kisah Daisy kembali mencuat setelah diberitakan situs Filipina iTacloban pada Januari 2023. Sebelumnya, kisah tersebut juga pernah diangkat dalam program televisi Kapuso Mo, Jessica Soho pada Oktober 2021.

Marie meninggal dunia pada 2002 di Filipina setelah tinggal bersama Daisy. Dalam surat wasiatnya, nama Daisy tercantum sebagai salah satu penerima warisan.

Aset yang diterima Daisy mencakup apartemen dengan nilai sekitar 26 juta peso Filipina, uang tunai yang diperkirakan mencapai 25 juta peso, serta saham di sejumlah perusahaan.

Nilai apartemen dan uang tunai saja mencapai sedikitnya 51 juta peso. Berdasarkan kurs pada Januari 2023, jumlah tersebut setara sekitar Rp14 miliar. Nilai tersebut belum memasukkan aset berupa saham.

Berawal dari Kehidupan Sederhana

Jauh sebelum menerima warisan miliaran rupiah, kehidupan Daisy jauh dari kemewahan.

Perempuan asal Mountain Province tersebut menikah ketika masih berusia 16 tahun. Untuk membantu perekonomian keluarga, Daisy sempat berjualan garam di kampung halamannya.

Namun, penghasilan dari usaha tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Daisy kemudian mengambil keputusan menjadi pekerja migran dan mencari pekerjaan sebagai PRT di Hong Kong.

Perjalanan awalnya sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong tidak mudah. Daisy mengaku pernah mengalami perlakuan buruk dari majikan sebelumnya. Waktu istirahatnya juga sangat terbatas.

Kehidupannya berubah ketika ia mulai bekerja untuk Marie.

Meski hanya menerima gaji sekitar 900 dolar Hong Kong per bulan, Daisy merasa nyaman karena Marie memperlakukannya bukan sekadar sebagai pekerja, melainkan seperti anggota keluarga.

Hubungan keduanya semakin dekat. Ketika Daisy memutuskan pulang ke Filipina, Marie bahkan memilih ikut bersamanya.

Marie Menolak Tinggal di Panti Jompo

Marie tidak ingin menghabiskan masa tuanya di panti jompo di Hong Kong. Ia memilih tinggal bersama Daisy di Filipina.

Keputusan tersebut membuat hubungan keduanya semakin erat.

Selama berada di Filipina, Daisy merawat Marie dengan penuh perhatian. Mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan mengunjungi berbagai tempat, termasuk sejumlah lokasi keagamaan.

Selama sekitar 11 tahun, Daisy bukan hanya menjalankan pekerjaannya sebagai PRT. Ia menjadi orang yang menemani dan merawat Marie hingga perempuan lansia tersebut meninggal dunia akibat penyakit serius pada 2002.

Bagi Daisy, kepergian Marie meninggalkan kesedihan mendalam.

Marie sudah dianggap lebih dari sekadar majikan. Ia telah menjadi teman sekaligus bagian dari keluarga Daisy.

Surat Wasiat Mengubah Kehidupan Daisy

Kejutan datang beberapa waktu setelah Marie meninggal.

Daisy menerima surat yang memberitahukan bahwa namanya tercantum dalam surat wasiat Marie.

Awalnya, Daisy tidak percaya.

Namun, surat tersebut benar-benar menyatakan bahwa Marie meninggalkan sejumlah aset untuknya. Di antaranya apartemen senilai 26 juta peso, uang tunai sekitar 25 juta peso, serta saham di berbagai perusahaan.

Warisan itu kemudian membuka babak baru dalam kehidupan Daisy.

Ia menggunakan sebagian hartanya untuk membangun gedung lima lantai di Mountain Province. Bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai ruang usaha, penginapan, pusat kebugaran, dan berbagai fasilitas lainnya.

Daisy juga menyediakan ruang khusus untuk mengenang Marie sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan yang telah mengubah perjalanan hidupnya.

Warisan tersebut tidak hanya memberikan Daisy kehidupan yang lebih baik. Sebagian harta juga digunakan untuk membantu keluarganya.

Bagi Daisy, kekayaan yang datang melalui surat wasiat itu bukan sekadar angka miliaran peso atau rupiah. Ada kisah panjang tentang kepercayaan, pengabdian, dan hubungan yang tumbuh antara seorang pekerja migran dengan majikannya.

Daisy pun menyampaikan pesan kepada para pekerja migran Filipina atau Overseas Filipino Workers (OFW) yang masih bekerja di luar negeri.

Ia mengingatkan agar mereka tetap bekerja dengan baik, menghormati majikan, serta memegang teguh kesabaran, kerja keras, dan kejujuran.

Sebab, menurut kisah Daisy, pekerjaan yang dijalani dengan ketulusan dapat meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar gaji. (*)

Editor : Ali Sodiqin
warisan Rp14 miliar PRT Filipina majikan Hong Kong Daisy Budca-Eng pekerja migran